sudah sejak lama aku merindukanmu. dari musim kemarau sampai kemarau lagi. rindu ini mengering di gurun aku kehausan. matahari tak memberi ampun sedikitpun. panasnya membakar segala yang terpantulkan oleh api. membakarku penuh pada jilatan-jilatan cahaya.
Selasa, 24 September 2013
Sabtu, 24 Agustus 2013
Membaca Puisi Bahrul Ulum A. Malik : Interogatif Tubuh dan Wirid yang Subuh
Oleh : Setia Naka Andrian
Membaca
puisi Bahrul Ulum A. Malik adalah membaca pertanyaan dan seketika terjawab dari
wirid yang mengalir dari ingatan yang dicatatnya. Bahrul Ulum A. Malik (BUAM)
sangat berhati-hati dalam mencatat ingatan dan segala hal pernah diperoleh atau
segala sesuatu yang sempat dialaminya. Barangkali ia sangat jarang berbohong.
Saya merasakan bahwa BUAM benar-benar setia pada catatan perjalanan hidupnya.
Tindakan serta segala hal mengenai tingkah laku menjurus pada harkat dan
martabat sebagai hamba yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak
tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah
dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu menggunakan
akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi. Mengandalkan pikiran, selalu cermat
dan tidak emosional dalam menghadapi masalah.
Hal
tersebut nyata dalam puisi “Subuh”, //Bismillah/
menyebutMu lirih dalam doa subuhku, Tuhan// hamba yang kemarin siang mengetuk
pintu rumahMu// sepi, tak ada siapasiapa, suwung!!// bismillah/ salamku pada
sisa hujan semalam/ bangunkan sadarku untuk langit// mencoba mengetuk pintu
pagi/ tetap seperti kemarin, tak ada siapasiapa// bismillah/ kuharus bisa
berdiri sendiri tanpa tatih.// melangkah mandiri/ ke istanaMu lagi tanpa
sembunyisembunyi// bismillah/ ku pastikan Kau ada// di subuh dingin ini,
Tuhan//
Apa
yang telah dicatat oleh BUAM serupa dengan yang diungkapkan oleh Kant dalam
Poedjawijatna pada Pembimbing Kearah Alam Filsafat (1978), tentang kemampuan
budi untuk mencapai pengetahuan, menyampaikan arah kemapuan budi. Bahwa dengan
budi murni orang tak mungkin mengenal yang di luar pengalaman, karena
pengetahuan budi itu selalu mulai dengan pengalaman. Metafisika murni tak
mungkin.
Dalam
buku yang sama, terungkap bahwa murid Kant tidak puas dengan batasan budi itu,
mereka akan bermetafisika. Sedangkan perlu diingat, bahwa mereka selalu dibawah
pengaruh Kant dan filsuf-filsuf sebelumnya yang amat memperhatikan kesadaran
dan pengalaman. Tidak heran bahwa dasar perenungan dalam sistem-sistem ini
dicari dan didapat pada dasar-dasar tindakan, ialah manusia (baca: aku) sebagai
dasar sekonkret-konkretnya. Bahwa dari suatu dasar ‘nyata’ menurunkan kesimpulan-kesimpulan
serta memberi keterangan keseluruhan, bila ‘ada’ itu disebut sebagai idealisme
yang mengakar pada diri manusia.
Hampir
ada kemiripan dari 22 (dua puluh dua) puisi yang disuguhkan untuk diskusi ini,
dalam hal proses penciptaan dan strategi tertentu yang mendasari ‘wirid’nya
yang begitu berhati-hati. Segala sesuatu dilakukan dengan sangat hati-hati.
Dalam puisi berikutnya berjudul “RestuMu Ya Rabb”, //Rabb/ dalam semak belukar berakar// dalam rimba yang ku jamah/ dalam
lubang yang menjerat// hamba yang dhaif lemah ini/ tersesat pada malam liang/
mencuri ajal di gerbang awan// hamba sendirian/ tuhan// hamba tak brani menatap
atau bicara langsung padaMu// jiwa ini kosong mlompong/ jasad ini tak berarti
apaapa// dibanding seikat kembang/ yang kelak kutabur di pusaraku sendiri//
hamba tak brani bertaruh// nyawa kunciku Kau genggam/ kanan bidari sunyi kiri
duri menari// entah Kau beri mana hamba// pada Engkau hamba tunduk tawadhuk/
seluruhku kembali tuhan// satu permintaan terakhir hamba// restu...//
Perihal
yang tersebut di atas memberikan sepetak gambaran dan penerangan yang mampu
memprediksi bahwa BUAM akan selalu dihadapkan pada pelbagai tindakan yang
menyeluruh. Sebagi dirinya sendiri, dari, oleh dan untuk diri sendiri pula.
Manusia mengakui keberadaannya, ia ‘ada’ atas dirinya. Lahir sebagai
pribadinya, dan akan meneruskan kelanjutan-kelanjutan dalam kelangsungan
hidupnya sendiri yang berkepanjangan. Maka ia akan merasa sama sekali tidak
mengikat maupun tidak pula ingin diikat oleh sesamanya. Dalam arti benar-benar
berdiri sebagai individu yang mampu menaruh persoalan dan memecahkannya—menanam
penyakit dalam dirinya sekaligus akan mengobatinya. Karena ia yakin kepada
Allah, Tuhannya.
Namun
BUAM akan merasakan juga ketika harus dihujani beberapa persoalan yang ‘sederhana’.
Segala bentuk pengorbanan pun akan senantiasa menjadi persoalan yang pelik bagi
sesamanya. Misal hal tersebut kurang disepakati oleh orang lain yang paling
terdekat secara biologis maupun psikis, antara ia dengan orangtua, sanak
saudara, hingga kepada pasangan (baca: pacar, suami/ istri). Dikarenakan ia
ingin menjadi individu yang benar-benar tunggal untuk penemuan dan
perenungan-perenungan tertentu dalam hal kelangsungan harkat dan martabatnya
sebagai manusia seutuhnya. Pertanggungjawabannya dilakukan ketika ia harus
menentukan pilihan yang ‘tersembunyi’ atas dasar perilaku yang sering dianggap
menyimpang dan kurang disepakati oleh sesamanya. Namun hal itu mutlak sebagai
jalan yang wajib ditempuh. Dan kali ini ia tetap tegar sebagai individu yang
saling, walaupun sebenarnya ia tetap hadir untuk dirinya yang tak terpecahkan
sebagai simbol utuh. Terbukti dalam puisi “Sejenak”, //sejenak saja kekasih/ kau temani aku di sini// hingga fajar atau
matahari/ menemu kita berduaan.// sejenak saja kekasih/ aku ingin kau ada di
sisiku// semalam saja kekasih// atau kalau tidak/ kau tak akan pernah melihatku
lagi// sejenak saja//
Nampak
juga secara tegas dalam puisi “Hawa Adam dan Hawa”, //kita yang pernah terusir lantaran khuldi.// untuk kedua kalinya kita
terusir lagi/ lantaran apa lagi?// bukan karena khuldi kekasih.// bukan karena
iblis.// bukan karena tuhan yang membenci kita.// untuk kedua kalinya kita
terusir.// kali ini lantaran jibril.// hingga kita terlempar jauh,/ jauh dan
hilang.// entah di mana kita sekarang...// aku ingin pulang adam,/ antarkan aku
!!// tunggulah sampai embun memandikan jasadku !!//
Sehingga
sangat jelas, bahwa BUAM dalam puisi-puisinya menciptakan pertanyaan-pertanyaan
yang begitu akut, namun ia juga menjawabnya dalam puisi itu. Karena ia begitu
berhati-hati dalam mencatat segala sesuatu tentang dirinya yang benar-benar
nampak (ingin) sebagai individu yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing
yang tak tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai
masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu
menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi.***
Semarang, 170212, 11.39 pm.
▬Setia Naka
Andrian, lahir di Tabag Masjid RT 01/ RW 07, Desa
Kertomulyo, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, 4 Februari 1989. Masih kerasan hinggap
di Gang Langgar Sari, Gayamsari 4, Semarang; lantaran tuntutan proses studinya
pada jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas
Negeri Semarang, hingga kini ia masih setia mengabdikan diri sebagai kacung di
Teater Gema IKIP PGRI Semarang, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar Semarang,
Rumah Diksi Art Creative Kendal dan Pembina Lembaga Pers Pelajar (LPP) Majalah
Oasis SMA N 2 Kendal; serta ikut mengelola majalah Gradasi Semarang. Beberapa
puisinya dibukukan dalam antologi bersama “Kursi Yang Malas Menunggu” Taman
Budaya Jawa Tengah dan Hysteria, 2010; Antologi Puisi Festival Bulan Purnama
Majapahit Trowulan, Oktober 2010; Antologi puisi tiga tahunan Hysteria dan
Dewan Kesenian Semarang “Beternak Penyair”, Penerbit Frame Publishing, Desember
2011. Beberapa cerpennya dibukukan dalam antologi bersama “Bila Bulan Jatuh
Cinta” Penerbit Gradasi Semarang, 2009; Kumpulan Cerpen Pemenang Lomba Cipta
Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia Bukan Perempuan, Lembaga Pers Mahasiswa
(LPM) OBSESI STAIN Purwokerto, Penerbit OBSESI Press – Grafindo, 2010; Antologi
Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; antologi cerpen
“Tanda”, pemenang lomba cerpen tingkat umum Se-Jawa Tengah Gelar Budaya Teater
Semut Kendal, 2010; Antologi Cerpen Joglo 11 “Tatapan Mata Boneka”, Taman
Budaya Jawa Tengah, 2011; Antologi Cerpen Bersama IKIP PGRI Semarang,
“Perempuan Bersayap di Kota Seba”, KIAS IKIP PGRI Semarang, 2011; Email: naka_andrianez@yahoo.co.id; HP 085290066710;
Selasa, 20 Agustus 2013
HARI-HARI ADALAH PUISI
(1) LANGIT-BUMI BERTADARUS
Pada senin yang paling wahyu
Lembar-lembar cahaya menuruni gua hira
dengan bunyi serupa lonceng yang gemerincing
dan berkat malaikat Jibril, ayat demi ayat yang semula
tersimpan di lauh mahfuz terangsur dari sama’ yang temaram
dari yang kekal kepada yang fana, menuju dunia yang paling
akhirat
di latar 17 Ramadan, angin beri’tikaf, dedaunan mempuasakan
geraknya, senyap
gemintang tertahan dalam kepalan pemiliknya, mengatupkan
segala gemerlap dari jagat
tiada hari tanpa kitab suci sesudah garis tangannya terbubuh
pertama kali di bulan yang ratu
tanpa luruhan udara di atas lilin, tanpa malam kembang api
atau panggung pelangi
cukup dengan mengaji kalamullah yang menunjuki jalan-jalan
lurus
kehadirannya mengesat ribuan kubik air mata kerinduan
mematikan berhala yang mematung di ari-ari zaman
surah-surahnya menjadi bayan dan telunjuk bagi hati, jiwa
dimana nama Tuhan hampir meranggas dan melayap dari tartil dadanya
ibarat senjata, mata air dan setahta cahaya yang tak kan
binasa, huruf demi hurufnya
mengembunkan karat-karat kehidupan, menggiring kunang
beserta gemawan ke barat daya
perlahan dan santun, Langit-Bumi pun bertadarus,
menghanguskan dosa-dosa
dunia pun melompong,
alam semesta menghamba, menyembah, menyeru
kepada sang Khaliq dengan
sujud paling khusyuk
pelepah kurma, lempengan batu, kepingan tulang
menjadi prasasti untuk Qur’an yang dimuliakan
sebagai benih yang tersemai di surga
pemberi syafaat paling utama
Sekaran, 26 Juli 2013
(c) YULI ARISTA
Lahir di Bojonegoro 1 Juli 1993, adalah mahasiswi jurusan Agroteknologi Universitas Jember.
Ia tinggal di Desa Sekaran, Kec. Kasiman, Kab. Bojonegoro. Bisa disapa melalui akun FBnya : Arista Anemone Rega. E-mail-nya :
arista.anemone@gmail.com HP 085740949713
(2) YANG JALANG BAGI SETIAP KEMUNGKINAN
: Chairil Anwar
engkau
barangkali telah meluruskan jemari kata-katamu
yang ingin hidup seribu tahun lagi
dengan jalang yang bersuara lantang
melebihi usia yang dipanjangkan kemungkinan
kini Tuhan berbaik hati membiarkan orang-orang merawat masa silam
tentang sepuntung rokok yang asapnya melahirkan berbagai macam perayaan;
membiarkan puisi-puisi membibirkan segala pintu
di setiap koran hari minggu
orang-orang terlanjur percaya bahwa mereka bisa menarik
dirimu yang usia muda dalam diri mereka
dengan susah payah menuntaskan keinginan gelisah
yang membawa diri mereka kepada sesat riuh luka yang siasat
bagi pikiran yang menumpang seisi badan
kemudian lekas-lekas menumbuhkan diri dengan menampung obat-obatan
yang dibangun dengan melangitkan harapan
agar tak bercarut-larut dalam segala macam kesalahan yang memanjat.
Kalirandugede, Juli 2013
yang ingin hidup seribu tahun lagi
dengan jalang yang bersuara lantang
melebihi usia yang dipanjangkan kemungkinan
kini Tuhan berbaik hati membiarkan orang-orang merawat masa silam
tentang sepuntung rokok yang asapnya melahirkan berbagai macam perayaan;
membiarkan puisi-puisi membibirkan segala pintu
di setiap koran hari minggu
orang-orang terlanjur percaya bahwa mereka bisa menarik
dirimu yang usia muda dalam diri mereka
dengan susah payah menuntaskan keinginan gelisah
yang membawa diri mereka kepada sesat riuh luka yang siasat
bagi pikiran yang menumpang seisi badan
kemudian lekas-lekas menumbuhkan diri dengan menampung obat-obatan
yang dibangun dengan melangitkan harapan
agar tak bercarut-larut dalam segala macam kesalahan yang memanjat.
Kalirandugede, Juli 2013
(c) FINA LANAHDIANA
Lahir di Kendal 19 Februari 1992.
Suka menulis cerpen dan puisi di blog www.filadina.blogspot.com Alamat: Ds Kalirandugede Rt 06 Rw 01, Kec. Cepiring, Kab. Kendal 51352
Suka menulis cerpen dan puisi di blog www.filadina.blogspot.com Alamat: Ds Kalirandugede Rt 06 Rw 01, Kec. Cepiring, Kab. Kendal 51352
HP: 081805904012
(3) TIDAK MATI
Bung, kau tak mati bung!
Kau tetap jalang di antara para binatang,
rimba cerita yang kau tabur, belum kau
tuai, rimbun puji, belum kau dengar,
Bung, kau tak mati bung!
Seribu tahun
belum kau lampaui, bahkan belum seratus tahun ini bung
Aroma keringatmu masih
pekat, kau terlalu jalang ditindih nisan
Bung. kau tak mati bung!
Kau
hanya yang terampas dan yang putus, mati yang gubah, belum perlu kau jalani,
seribu tahun masih jauh bung, kau terlalu besar ditampung nisan!
Bung jangan
mati dulu bung!
Bung. kau jangan mati bung!
Perdengarkan lagi pada kami, yang terampas bahasanya, dan yang putus
lantangnya,
ayo bung perdengarkan!
Bung, sungguh kami juga mati bung!
Tulisan kami tak lagi dimengerti, bahasa kami kian dicaci-maki, tinggal tuas
dipojok lemari,
hilang bentuk,diantara bangkai puisi
Huh!... Tapi bung, kau sudah mati
bung!
Meninggalkan kami,cerita jalang. Mewarisi kami jiwa-jiwa kebal.
Bekal
kami,terjang jalanan
Pelipur kami yang dari kumpulannya terbuang..
Terima
kasih bung, kau tetap binatang jalang kami.
Dan kau munkin tidak mati..
(c) AHMAD IRFAN
Kelahiran 22 Mei 1989 tinggal di Dk.Caren Ds. Semawur 03/1 No. 85
Kec. Ngawen Kab.Blora 58524
HP +6285741222016
(4) ETOILE FILANTE
Malam lengang senyap melumuri Jabal Nur hingga ke lereng bukit sampai ke liang Hira malam itu empat belas abad yang lalu ia bertahanut tak berkawan dalam upaya menemukan diri
Ia dipeluk makhluk cahaya ia adalah pusat cahaya yang tidak menyadari siapa yang mendekapnya
Kata pertama telah dibisikkan akan tetapi ia tak mampu membaca dengan tubuh gemetar dan rasa dingin yang mencekat kerongkongan ia mencoba menumbangkan ketakutan menyibak kegelapan di dalam goa
Satu kata sebuah nyala yang kelak membuka jalan menuju cahaya dan membuka hatinya, dimana semesta meminjam pijar darinya
'bacalah'
Loverstopia, 26 Juli 2013 10.08 wib
Malam lengang senyap melumuri Jabal Nur hingga ke lereng bukit sampai ke liang Hira malam itu empat belas abad yang lalu ia bertahanut tak berkawan dalam upaya menemukan diri
Ia dipeluk makhluk cahaya ia adalah pusat cahaya yang tidak menyadari siapa yang mendekapnya
Kata pertama telah dibisikkan akan tetapi ia tak mampu membaca dengan tubuh gemetar dan rasa dingin yang mencekat kerongkongan ia mencoba menumbangkan ketakutan menyibak kegelapan di dalam goa
Satu kata sebuah nyala yang kelak membuka jalan menuju cahaya dan membuka hatinya, dimana semesta meminjam pijar darinya
'bacalah'
Loverstopia, 26 Juli 2013 10.08 wib
(c) AAN NURWILUJENG
Kelahiran 28 Desember.
Jl. Antareja No. 5
Wedarijaksa
Pati Jateng
59152
HP 08976350555 https://www.facebook.com/loverstopia
---
KARENA PUISI ADALAH HIDUP DAN KEHIDUPAN ITU SENDIRI
BUKAN HITAM DI ATAS PUTIH
BUKAN PULA PEMANIS
www.langitkendal.com
Langganan:
Postingan (Atom)
Tubuh Matahari
tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...
-
entah seperti asing namaMu tak ada ruang luas bagiMu tuk leluasa menjelajahi setiap gerik nafasku aku yang yang sombong tak mau sujud ...
-
Saya bukan sastrawan, kritikus atau pengamat sastra. Kebetulan saja saya suka dengan sastra. Meski sastra kadang membingungkan dan menjadi ...
-
Jumlah aqoid ada 50 karena terdiri atas: Sifat wajib bagi Allah Swt. (20) Sifat mustahil bagi Allah Swt. (20) Sifat jaiz bagi Allah Swt. (1)...