Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

DETIK-DETIK KEMATIAN SOEKARNO

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut.... Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.


Soekarno
Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu

Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

“Pak, Pak, ini Ega…”
(Senyap)

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia koma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

“Hatta.., kau di sini..?”

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka.

Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

Kini telah tiada lagi manusia yang bisa membuat dunia terdiam dengan perkataannya, tidak ada lagi singa yang sangat ganas. Betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami Soekarno. Terima kasih wahai Bung Karno karena telah membuat rakyat indonesia dapat terbebas dari penjajahan yang amat pedih. Jasamu tak akan pernah dilupakan. Dan terima kasih Allah karena engkau telah menciptakan manusia terhebat di negara kami. Selamat jalan wahai Singa Mimbar.

Silahkan Klik "SUKA" dan "BAGIKAN", Jika dinilai baik & bermanfaat bagi sahabat semua. Semoga menjadi kebaikan Kita semua.


Copas : http://inheritpoppunk.blogspot.com/2013/03/detik-detik-kematian-soekarno.html

Selasa, 14 Oktober 2014

Demi Peuyeum dan Secangkir Kopi

Bung Karno
Bung Karno tahun 20-an? Susah dan susah. Sekalipun ia pemimpin pergerakan, sekalipun ia “tukang insinyur”, kantong kempes adalah sebuah keseharian baginya. Yang istimewa adalah, ia tidak pernah berkeberatan membantu sahabat. Tak heran bila sahabat-sahabatnya begitu respek kepadanya. Bahkan dalam bahasa yang lebay, bisalah dikatakan, Sukarno begitu disayang oleh teman-temannya.
Salah satu sahabat yang Sukarno ingat, salah satunya adalah Sutoto. Ia kawan kuliah Bung Karno. Dalam kesusahan, Sutoto sering mengajak Bung Karno sekadar minum kopi dan makan peuyeum di kedai murahan, di tengah kota Bandung. Mungkin karena saking seringnya ditraktir, maka suatu hati Bung Karno pun menjanjikan Sutoto traktiran serupa.
Suatu sore, Sutoto datang hendak berunding dengan sang pemimpin pergerakan, ya Sukarno! Untuk mencapai kediaman Sukarno-Inggit, Sutoto harus mendayung sepeda setengah jam lamanya. Lumayan juga. Apalagi setelah menyandarkan sepeda, ia tampak terengah-engah dan mengatakan bahwa ia mendayun sepeda dengan cepat. Ia pun tampak kehausan dan, tentu saja perlu asupan sesuatu pengganti energi mengayuh sepeda tiga puluh menit.
Apa lacur, Bung Karno menyambut Sutoto dengan, “Ma’af To, aku tidak dapat bertindak sebagai tuan rumah untukmu. Aku tidak punya uang….”
Sutoto pun mendesah, “Ahhh… Bung selalu tidak punya uang….”
Keduanya pun duduk terdiam menikmati kebekuan suasana. Sutoto dengan kepayahannya. Bung Karno dengan… entahlah, pikiran yang begitu berkecamuk tentang pergerakan menuju Indonesia merdeka.
Tiba-tiba melitas seorang wartawan naik sepeda dengan tergopoh.
“Heee… mau kemana?” Sukarno berteriak.
“Cari tulisan untuk koranku,” si wartawan pun menjawab sambil berteriak.
“Aku akan buatkan untukmu.”
“Berapa?” tanya si wartawan sambil mengendorkan genjotan pedal sepedanya.
“Sepuluh rupiah.”
Mendengar jawaban Bung Karno, si wartawan tidak menjawab tetapi seperti hendak mempercepat jalan sepedanya. “Oke… lima rupiah!” Tidak juga ada jawaban. Bung Karno pun menurunkan tawarannya, “Dua rupiah bagaimana? Akan kubuatkan tulisan, pendeknya cukuplah untuk mentraktir kopi dan peuyeum! Setuju?”
Si wartawan pun berhenti, dan memutar arah sepedanya, mendekat ke rumah Bung Karno-Inggit. Sementara si wartawan ngobrol dengan Sutoto di serambi rumah, Bung Karno pun menulis seluruh tajuk yang ia janjikan. Dalam waktu lima belas menit, ia sudah menyelsaikan tulisan 1.000 kata untuk si wartawan.
Bagi Bung Karno, tidak ada yang sulit untuk membuat tulisan. Terlalu banyak gagasan dan pikiran serta persoalan politik yang bisa ia tuliskan dengan tanpa mencoret atau mengganti satu kata pun.
Dan, dengan seluruh bayarannya yang dua rupiah itu, Bung Karno pun membawa Sutoto dan Inggit minum kopi serta menikmati peuyeum di sore hari yang cerah. (roso daras)


---
Sumber Copas : https://rosodaras.wordpress.com/2010/12/02/demi-peuyeum-dan-secangkir-kopi/

Minggu, 09 Februari 2014

ABDUL HADI WM

Abdul Hadi WM
Oleh : ChenChen Gayatri W Mutahari 

Orang yang paling berjasa mengantarkan aku ke dunia pemikiran dan aktivitas seperti sekarang adalah ayahku. Sekalipun ayahku dibesarkan sebagai seorang Muhammadiyah, ikut mendirikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada tahun 1964, dan dalam keluarganya yang Muhammadiyah tidak mengadakan tahlilan, tetapi ayahku adalah orang yang paling pluralis, paling liberal, dan paling modernis sekaligus paling tradisional yang pertama kali kukenal dalam hidupku. 

Ayah mertuanya adalah seorang penganut Kejawen dan sebelumnya tidak taat solat lima waktu; mereka biasa berdiskusi panjang lebar tentang filsafat, budaya dan sastra; dan sekarang seluruh buku filsafat dan budaya milik kakekku diwariskan kepadanya. Keluarga ibuku melakukan tahlilan, seperti kebanyakan orang Jawa, dia mengikuti majlis taklim ala NU; sepulang dari sekolah di SD Muhammadiyah, aku dipanggilkan guru mengaji berlatarbelakang NU.

Kata ayahku, kakek buyutnya adalah pengikut tarekat Sufi aliran Abdul Qadir Jaelani, sedangkan kakeknya sendiri adalah salah satu pendiri cabang Muhammadiyah di Sumenep. Itulah sebabnya ayahku sangat tertarik kepada sufisme atau tassawuf; dan kemudian mendalaminya. Ayahnya sendiri selain saudagar atau pedagang, juga adalah seorang guru bahasa Jerman. Konon, kakeknya yang Muhammadiyah sering mendapat “wangsit”; di antaranya pernah disuruh berjalan kaki jauh sampai di suatu tempat lalu berhenti disuruh membangun mesjid di situ. Soal “wangsit” ini juga menurun pada ayahku, konon begitu, ayahku sering bermimpi dan menjadi kenyataan. Pernah juga ayahku menderita sakit aneh yang menghilangkan suaranya sebagai penyair. Dia kemudian bermimpi dan diajarkan membuat ramuan aneh untuk diminum. Dia mengikuti mimpi itu dan suaranya pun kembali.

Pada waktu aku masih SD, dan ayahku menjadi ketua di Dewan Kesenian Jakarta, aku ingat rumahku selalu ramai dikunjungi tamu pada malam hari. Seniman, sastrawan, kyai, mahasiswa dari berbagai aliran dan ideologi datang ke rumahnya. Gus Dur di antaranya. Setiap lebaran ayahku akan mengajak kami bertandang ke rumah tiga sastrawan sahabatnya: Mottinggo Busye, sahabatnya yang seorang Syiah taat, Slamet Sukirnanto sahabatnya yang Muhammadiyah, dan Taufiq Ismail yang semua orang tahu kepenyairannya yang kuat Islam-nya. Mottinggo dan ayahku saling mengatakan kalau mereka adalah sahabat dunia dan akhirat.

Salah satu adik ayahku adalah seorang pencari kebenaran yang serius, mereka konon sering bertengkar, tetapi ayahku sebenarnya sangat mencintai dia. Almarhum adik ayahku ini bahkan pernah menjadi anggota Ahmadiyah; tetapi apakah ayahku pernah mengatakan bahwa dia menjadi orang yang sesat dan kafir? Tentu saja tidak! Bahkan, walaupun adik ayahku kemudian bercerai dengan istrinya yang juga seorang Ahmadiyah, ayahku terus mencari keberadaan mantan adik iparnya ini untuk mengetahui keadaan keponakannya. Setelah bertahun-tahun akhirnya bertemu, dan ayahku sayang sekali kepada sepupuku dan anak-anaknya, tak peduli mazhab mereka apa.

Ayahku juga tidak terlalu suka ketika aku bertengkar dengan sepupuku seorang manhaj salafi. Katanya, biarkan saja. Sepupuku ini adalah anak dari adiknya ibuku. Setiap orang bebas memeluk mazhab apa pun katanya. Jadi, seingatku, ayahku ini tidak pernah sekalipun mengkafirkan atau menyesatkan Muslim dari aliran apapun. Prinsipnya inilah yang juga jadi peganganku.

Waktu aku dikirim ke Roma, Italia, tentu ayahku senang sekali. Tetapi, dia juga lebih bangga waktu adikku mendapat beasiswa di Perancis untuk kuliah “bidang yang sekuler”, dan adik bungsuku bisa bolak-balik dikirim ke China karena fasih berbahasa Mandarin. Pada waktu kami kecil, dia bersikeras adikku harus bisa bahasa Mandarin, dan aku diharapkan bisa berbahasa Arab. Tetapi, sayang aku ini orang yang tidak serius belajar.

Beberapa waktu lalu, ketika penerimaan Habibie Award, ayahku bertemu dengan Romo Magnis, dan walau baru sekali itu mereka bertemu, ayahku langsung memeluknya. Aku ingat ayahku dari dulu selalu datang ke rumah saudara kami yang merayakan Natal. Tidak pernah ada ribut-ribut soal mengucapkan selamat Natal. Aku ingat ayahku bercerita tentang kenangan masa kecilnya melihat pesta Imlek. Malah waktu SD, salah satu buku pemberian ayahku berisi Hari Raya dari berbagai agama dari berbagai negara; buku itu sangat membuatku penasaran untuk mengetahui hari raya berbagai agama di dunia. Sikap ayahku sangat inklusif tentu saja, walaupun dia sendiri tidak mau ada anak atau anggota keluarganya yang memeluk agama lain. Tetapi, kepada saudara yang berbeda agama, dia tidak pernah sekali pun mengajarkan kepada kami untuk menjelek-jelekkan apalagi menjauhi mereka.

Sebagai seorang yang dibesarkan di Muhammadiyah, ayahku bahkan sekarang sangat dekat dengan Iran, dan menjadi ketua perhimpunan persahabatan Indonesia-Iran. Banyak yang mengira ayahku telah memeluk Syiah, sampai kemudian ada yang melihat foto ayahku ketika sholat yang kupotret. Ayahku selalu bilang kalau nenek buyutnya ada yang berdarah Yunnan, jadi ada yang berdarah Persia dan Turki. Pantas jika ayahku sangat senang mendalami kebudayaan Persia, selain juga China.

Jadi, ayahku ini selalu menekankan untuk mengingat leluhur walaupun jaraknya sudah jauh sekali. Dia juga tidak pernah melarang aku bergaul dengan siapapun; tidak pernah melarang aku terpengaruh oleh pemikiran manapun; karena dia sendiri tidak pernah menghina atau mencela berbagai pemikir Islam, baik yang dianggap sebagai Muslim liberal maupun Muslim fundamentalis. Ayahku bersahabat dengan almarhum Cak Nur; tetapi dia tidak pernah meneladankan sikap padaku untuk menghina orang-orang seperti Abu Bakar Ba’asyir. Misalnya, pada kasus Mesir, ayahku tidak mau menyerang pihak Ikhwanul Muslimin; orang yang tidak paham akan kesulitan membaca sikap ayahku sebenarnya dia berada pada pihak yang mana.

Dia punya teman baik para habaib, juga para syaikh dan para pejabat; kalau dia mau dia bisa juga tercatat dalam kekeluargaan sebuah keluarga bangsawan kerajaan. Dia pernah juga pada tahun 1999 mencalonkan diri sebagai caleg PPP di Jawa Timur, tetapi sekarang dia menjauh dari hangar binger politik yang keras. Akan tetapi, dari kecil dia mengajarkan kepadaku bahwa setiap manusia itu sederajat, tidak ada keturunan yang lebih mulia daripada yang lainnya. Sikapnya yang demikian mengajarkan aku untuk tidak mudah taklid buta dan menghormati secara wajar kepada sesama manusia, sekalipun dia seorang keturunan ningrat, ulama, guru besar atau tokoh hebat. Ayahku juga tidak pernah menegur atau marah kepadaku kalau aku mengkritik sahabat, teman, atau tokoh dari afiliasinya, seperti PPP, seperti Suryadharma Ali.

Jadi, ayahku benar-benar memberikan suatu sikap dan keteladanan kepadaku untuk berpikir rasional dan bebas; memberikan ruang bagi kami untuk mempunyai pendapat kami masing-masing; memberikan kebebasan kepada kami untuk memilih Jalan kami masing-masing. Di waktu yang sama, juga mengajarkan untuk menghormati dan bersikap baik penuh kasih-sayang kepada setiap orang apapun keyakinan dan pilihan agamanya. Terutama, kepada sesama Muslim, sesama Muslim itu bersaudara, apapun mazhab mereka. Walau berbeda pendapat dan pandangan, tidak boleh saling mengkafirkan.



ChenChen Gayatri WM (Penulis, Putri Penyair Abdul Hadi WM)

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203208235708409&set=a.1121605082020.20499.1283854047&type=1 

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...