Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2023

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu

kuning langsat tetiba hadir di rumahku

tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan

bagi pertapa yang kensunyian sepanjang waktu

adakah yang memang diharapkan dari setiap kedipan

sedang kepastian selalu digagalkan oleh kenyataan


matahari di matamu terbakar dendam

sejak hawa meminta turun dari surga

adam blingsutan tanpa syarat 

iya atau tidak adalah keraguan

menerkanerka untuk apa pun siapa

semua hanyalah kosong yang ditimbun di otak kirimu

diamdiam kau bisikan rahasia bagi para pemegang dendam, re


langitkendal, 09052023; 19.05

Jumat, 11 Desember 2020

IMAN YANG KE-7

PSK dan IBS | 13092020


: ibs

iman yang ke tujuh adalah pasrah pada tanah

seperti rumput dan angin laut

seperti matahari dan sinarnya

lelaki sunyi di hujan desember

menanggalkan jejak diksi-diksi

yang ia sembunyikan di matanya


langitkendal, 11122020, 22.03

Senin, 20 Juli 2020

Sapardi Hidupmu Abadi

Sapardi Djoko Damono

-- kepada Sapardi Djoko Damono

lelaki tua itu tak pernah pergi sendirian
ia masih meninggalkan jejak di padang rimba
memberi tanda pada mata yang tak pernah terpejam oleh malam
ia telah mempersiapkan semua sebelum ajal
dan berwasiat pada penenun kata untuk kembali mengeja

lelaki tua itu telah lama mengerlingkan mata
pada setiap rintik hujan bulan juni
bocah-bocah bermain tawa di bawahnya
merayu angin agar berpihak pada hati
lekaki tua diam mengisyaratkan: iya

penyair boleh mati, tapi tidak puisinya
ia selalu bernyawa dan beramoeba menjadi seribu
bahkan lebih
ia kekal bersama para kekasih yang saling mencinta
sapardi hidupmu abadi


langitkendal, 20072020/ 22.22 wib
(c) bahrul ulum a. malik

Kamis, 26 Maret 2020

Pada Pelukan Bayang-bayang



-- Kepada Corana 
aku keluar diam-diam menapaki jalan setapak di perbukitan
aku mendengar suara lirih menyebut-nyebut nama
hahihu hahihu hahihu berulang-ulang hingga tawakal

aku masih terus berjalan di hadapan kabut malam tanpa cahaya
aku meraba kalau-kalau kanan kini jurang
semakin keras aku mendengar suara yang sama kemudian hilang

aku tersesat dalam rimba dingin dan haus, tak ada siapa pun apa
semua berubah menjadi putih kapas
menerbangkan dan menertawakanku yang sendirian

kupanggili nama satu demi satu
semua tak menolah hanya bayang-bayang
di bawah pohon cemara yang tak kutau pucuknya

hai siapa tertawa di bawah rembulan yang kehilangan cahaya
kau kah yang semula memanggili nama itu
atau kah kau yang hanya ilusi menyesatkan waktu
atau kah kau yang menjebak sukmaku dan merajam seribu satu kali

tentu aku tak kan menyerah semudah itu
masih ada bala tentara dalam diri
akan aku keluarkan jika benar-benar mendesak

menyingkirlah aku mau lewat
bukan kah kita dari satu dzat satu urat
bukankah lebih baik kita menapaki jalan sesuai poros dan aba-aba

kita memang sedikit beda
aku ada kau tiada
kita sama-sama kembali
Re

langitkendal, 26032020 / 00.52 wib
-- bahrul ulum a. malik

Senin, 14 November 2016

Membaca Kecubung Kata dan Risalah Nabi-Nabi Zulfa Fahmi

 Oleh Heri CS*

 Puisi adalah catatan kecil tentang nurani kemanusiaan
                                                                                            -Iman Budhi Santosa

(Serumpun Puisi karya Zulfa Fahmi)
Puisi bukan sekadar kata-kata yang meluncur dari rohani penyair. Ia juga menjadi rekaman kegelisahan pikiran, lingkungan, harapan hingga problematika sosial dan kebangsaan di mana si penyair berada. Hal itu pula yang bisa ditangkap saat kita membaca Cerita Nabi-Nabi karya Zulfa Fahmi yang diterbitkan Ganding Pustaka Yogyakarta, 2016. Bisa dikatakan serumpun puisi Fahmi merupakan puisi-puisi yang sadar diri, yang tertegun, merenung menyaksikan kahanan di sekelilingnya. Baik itu kahanan di dalam kedirian si penulis maupun dengan relasi lingkaran luar kediriannya.

Sehingga, melihat itu semua, si aku lirik seolah menjelma menjadi juru pungut kata dan makna yang dialaminya. Untuk kemudian, diracik, diramu, dan disajikan ke sidang pembaca. Pada akhirnya, meminjam istilah Octavio Paz--citra tentang manusia menjadi terlahirkan dalam manusia. Si aku lirik, dalam konteks ini mencoba menafsir ulang, makna manusia dan sosok manusia dari perspektif panca indranya.

Kecubung Kata 
Dari sekian karya dalam Cerita Nabi-Nabi yang berjumlah 52 puisi ini ada banyak puisi menarik yang membincangkan seputar kata, makna, dan manusia. Dari itu, banyak puisi yang bisa kita nikmati sembari ngopi, ada puisi yang bisa kita nikmati sambil mungkin pacaran, atau bahkan, ada beberapa puisi yang memikat untuk kita jadikan sepenggal kata dan kita kirimkan untuk kekasih kita karena begitu romantisnya.  Meskipun, tentu saja, ada beberapa puisi pula yang--untuk membacanya meski agak mengrenyitkkan dahi. Sebab, puisi yang dilahirkan termasuk dalam puisi gelap.

(Zulfa Fahmi)

Dari sekian itu pula, beragam tema berhasil dijaring, diperangkap, dan disemayamkan dalam kredo puisi ala si penyair. Ada tema pergolakan, kegalauan, keresahan, asmara, kritik sosial, dan ada pula humor satire. Satu kata diksi yang cukup menggelitik saya adalah kecubung. Ada 2 puisi yang menggunakan diksi kecubung. Kecubung merujuk pada KBBI merupakan tumbuhan yang bunganya berbentuk corong atau trompet dan berwarna ungu, bijinya memabukkan. Mari kita nikmati puisi yang berjudul, Aku Makan Kecubung dan Kau Yang Memasaknya.

Kutanami kebun belakang rumah dengan biji kecubung
Tak lama, ia tumbuh besar,
Seperti hutan: lebat dan kesepian

Karena buahnya kesepian dan pengangguran
Sengaja kupetik dengan senyuman dan kuberikan
Pada isteri baruku yang kesekian

Lalu dengan sengaja dibumbuinua dengan saus kacang
Dipotong dengan senapan dan dimasak dengan api kenangan
Disuguhkan kepadaku dengan lemon segar
Lalu kumakan dengan garpu dan sendok lebar
Dan tak lama kemudian aku tepar

Sekarang ia tak lagi pengangguran

Karena istriku selalu memetiknya ketika aku
Hendak mencari isteri baru

Membaca puisi ini kita seolah digiring pada sesuatu peristiwa yang senantiasa memerangkap kita pada perulangan fragmen peristiwa kehidupan. Kita sebagai manusia seperti menanam, meskipun terkadang kita tak pernah tahu apakah kita juga yang kan memanennya--dan, untuk apa. Dalam puisi ini, si aku liris, terjebak pada apa yang ditanamnya. Kecubung yang memabukkan yang disajikan istri yang membuatnya tepar tatkala hendak mencari istri baru. Zulfa mencoba memainkan metafor kecubung sebagai upayanya untuk merekam sesuatu yang memabukkan. Kita tahu efeknya, namun itu juga yang membuat kita terlena. Laku seperti candu. Hal itu juga tersirat dalam puisi Aku Makan Kecubung dan Kau Makan Bunganya,

Tak ada kecubung merah muda, kecuali yang di dada
Kecuali rindu yang setiap hari melanda
Membuat candu pada ingatan lalu.

Tak ada kecubung berbulu, kecuali kau menanamnya di situ
Di samping telaga

Di sebelah rindu yang lama terjaga.


Heri CS dan Amar Alfikar (moderator)

Narasi puisi di atas seperti halnya relasi antara mistik dan asmara, dimulai dari ketika seseorang melompat keluar dari dirinya sendiri kemudian menemukan realitas yang asali alamiah. Dalam hal ini, Fahmi menjadi pujangga yang mahir memainkan diksi, terutama terkait tema-tema asmara yang bak kecubung--memabukkan, melenakan, namun kita selalu merindu mengalaminya meski kadang menyiksa. Hal ini bisa juga dibaca pada puisi lain, seperti Titi Wuryani, Kata Rindu,  dan Galaksi. Beberapa puisi itu membuktikan Fahmi kata ibarat kecubung yang memabukkan. Terutama bagi mereka yang kasmaran.


(Heri CS bersama Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, MA)

Risalah Cerita Nabi-Nabi 
Selain tema perihal asmara dalam magis "perkecubungannya", Fahmi juga menyuguhkan puisi-puisi satire bertema kritik sosial, agama, dan keindonesiaan. Si Aku liris dalam beberapa puisi, memainkan diksi-diksi dan simbol-simbol keagamaan. Pada puisi Cerita Nabi-Nabi, misalnya. Fahmi seolah hendak mempertanyakan bagaimana orang-orang beragama di Indonesia. Beragama namun tak memahami hakikat beragama. Bahkan, Fahmi mencomot nabi-nabi yang membuat kesalahan. Dalam hal ini tentunya bukan nabi dalam arti sesungguhnya, namun nabi-nabi dalam tanda petik, bukan nabi rasul sebelum Muhammad SAW. Nabi-nabi yang memanipulasi "wahyu" dan memanipulasi ayat-ayat untuk sesuatu yang duniawiah. Hingga akhirnya nabi-nabi itu dikutuk.
 .........................
Ceritanya  dimulai  ketika  para nabi mulai kehilangan  akalnya
Kedua tangannya  tak memegang  apa-apa
Tidak bersenjata
Kata para filsuf , nabi-nabi ini mulai bingung mau apa mereka
Otaknya hanya berisi padmasana.
..............................

Hal itu pula bisa kita baca dalam puisi Cerita Tentang Mitos Nabi-Nabi. Dalam puisi ini, manusia kini seolah telah kehilangan nabi-nabinya.

            ....
         Lalu, zaman-zaman sekarang
         Kita semacam dedaunan yang diempas angin
         Dan jatuh di comberan

         Lupa, dingin, sendirian, tanpa peradaban.
         Apakah kita akan tetap ketakutan?

Kritik kahanan sosial mendapat porsi yang lebih di dalam puisi-puisi Fahmi selain kritik atas dogma agama yang salah dipahami umat pengikutnya. Puisi-puisi yang menggambarkan mirisnya kondisi bangsa saat ini bisa kita baca dalam puisinya: Ikan di Dalam Sumur, Negeri Kematian, dan Ketiduran di Bus. Kritik terkait persoalan TKI juga tak luput dipotretnya, hal ini seperti ditulis dalam puisi  Jasa Penyaluran TKI, dan Setelah Timun Mas.
Membaca Cerita Nabi-Nabi, kita seperti menaiki gerbong yang ditarik lokomotif dan melaju di atas rel kondisi keindonesiaan dalam satu dasa warsa terakhir. Si aku lirik, mencoba menangkap berbagai fenomena yang ada. Ada kisah pilu TKI yang senantiasa berduka. Ada kisah orang beragama namun justru lupa untuk apa sesungguhnya manusia beragama. Juga kisah tentang asmara yang memeram rindu dendam, dan riuh ramai, fenomena kehidupan manusia di era generasi milenial.

(Suasana Ngopi Sastra PSK, Minggu, 13 Nopember 2016)
Di dalam dunia kritik, kita mengenal istilah "pengarang sudah mati" ala Roland Bartes. Namun, bagi saya, pengaran memang akan mati, namun teksnya justru akan berkembang biak dalam ranah tafsir dan interpretasi. Cerita Nabi-Nabi seolah ingin menggugat kehidupan yang dialami si aku liris. Kata bagi Fahmi adalah gugatan sekaligus pengharapan akan kondisi yang ideal. Dalam hal ini, Fahmi mencoba menjadi penyair yang membumi akan persoalan realitas di sekitarnya. Penyair yang tidak berjarak yang tidak hanya mengeksploitasi kata dari lingkungannya. Bukankah, WS Rendra mengingatkan, apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan// apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan// (Sajak Sebatang Lisong, WS Rendra). Dalam bahasa sastrawan Iman Budhi Santosa, bukankah, puisi adalah catatan kecil tentang nurani kemanusiaan.

Secara umum, bahasa ungkap Fahmi tidak berbelit. Tidak mengandalkan alunan rima dan irama. Apalagi berumit-rumit bahasa. Cara berpuisi yang ekspresif, apa adanya, dan tak terjebak pada akrobatik kata meskipun si penyair adalah tukang sulap. Ini, yang membuat larik-larik puisi begitu puitik. Penyomotan simbol dan metafora pun seolah sudah dipertimbangkan dengan matang meskipun belum semua hadir pada judul-judul puisinya. Dalam gaya, Fahmi ada yang spontan ala Wiji Thukul. Ada pula yang lugas dan heroik  ala Chairil Anwar. Dan, pada puisi-puisi bertema cinta, Fahmi sepertinya akrab dengan Sapardi Djoko Damono. Ada macam gaya dalam puisi-puisi Fahmi, dan itu sah-sah saja. Namun, sekali lagi, banyak penyair yang berhasil setelah melakukan proses ini. Namun, tak sedikit pula, penyair yang jatuh di lubang yang sama. Terus menganggit, Zulfa Fahmi. Saya menunggu Cerita Nabi-Nabi berikutnya. Tabik. []

*Heri CSbelajar sastra dan berliterasi di Komunitas Lereng Medini Boja Kendal

Sebuah catatan pendek disajikan pada acara NgopiSastra PSK | Pelataran Sastra Kaliwungu
Peluncuran#2 Cerita Nabi Nabi (Serumpun Puisi) karya Zulfa Fahmi 
Minggu, 13 Nopember 2016 di Teras Budaya Prof.Mudjahirin Thohir (Sabranglor Timur, Kutoharjo Kaliwungu Kendal)

Jumat, 24 Juni 2016

PENGUMUMAN CIPTA PUISI HAUL PRESIDEN SOEKARNO KE-46 | 21 JUNI 2016




"PERPUSTAKAAN MINI LANGIT KENDAL"



"PRESIDEN SOEKARNO SEDANG MEMBACA"



PERPUSTAKAAN MINI LANGIT KENDAL 
LOMBA CIPTA PUISI HAUL PRESIDEN SOEKARNO KE-46
KALIWUNGU KENDAL, 21 JUNI 2016


Puisi Karya Sami’an Adib

Kami Tidak Lupa
                        :bung karno

Bung!
Katamu jangan sekali-kali melupakan sejarah

Tidak!
Kami tidak pernah lupa
ketika engkau pancangkan pilar-pilar penyangga
rumah besar kita
:Pancasila

Masih terngiang gema pekik merdeka
dari serambi sejarah negeri terluka
yang membuat kami bersuka dalam satu rasa

tak ada yang terlewat dari serak riwayat
semua terangkum sempurna menjadi mosaik kenangan
untuk terus kami rawat sebagai jembatan ke gemilang masa depan

sekali lagi, tidak!
kami tidak akan pernah lupa
walau layar bahtera kami telak koyak
tersayat badik perompak yang pura-pura berjihad
tertebas pedang para pemangku negeri saat berebut suara rakyat

Jember, 21 Juni 2016


Sebait Puisi di Kelopak Kamboja
                        :di pusara bung karno

ziarah ini sebatas cemas
menunggu luruh diksi sebelum ranggas
dari kelopak-kelopak kamboja di atas pusara

ziarah ini semacam doa
duduk bersila merangkai sila
dari lima menjadi satu cita:
damai dalam bingkai Bhinneka Tunggak Ika

engkau memang telah lama mati
tapi gelombang rindu terus menderu
dalam orkestra terindah di panggung jiwa

Jember, 2016

***
Biografi Singkat:
Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013),  Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi (Disbudparpora Kota Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), dan lain-lain. Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember, bergiat juga di Forum Sastra Pendalungan.
Saat ini tinggal di Jl. Imam Bonjol Gg. KUA 38, Lingk. Villa Tegal Besar, Jember, 68132. Email : samianadib@ymail.com. Contact  Person : 081336453539. FB: Sami’an Adib 

Kamis, 02 Juni 2016

NASIHAT RAMADAN BUAT A. MUSTOFA BISRI

Gus Mus
Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan
Ramadlan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi
atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang
menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya
untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya
kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu
serahkanlah semata-mata padaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah
untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri
untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu.
Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.
Berpuasalah.
Suci
kan
dirimu.

Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang
mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu
atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan
sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu
hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu
untuk memuasi Ridla
Puasakan tanganmu
untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu
untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu
untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu
untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu
untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu
untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu
untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu
untuk menekan Sujud
Puasakan kakkmu
untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu
untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu
untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu
untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu
untuk menghayati Hidup.

Tidak.
Puasakan
hasratmu
hanya untuk Hadlirat
Nya
!

Mustofa,
Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian
keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari
comberan hatimu?
Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu
yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini
seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.

Rembang, Sya’ban 1413



***
Sumber Puisi : Album Sajak-sajak A. Mustofa Bisri, Halaman 417 - 419 | Ken Sawitri | MataAir Publishing Surabaya | Cetakan I, Agustus 2008 | Koleksi Perpustakaan Mini Langit Kendal

Sabtu, 02 Januari 2016

PENGUMUMAN HASIL LOMBA CIPTA PUISI UNTUK GUS DUR (KHAUL KE-6 TAHUN 2015)

GUS DUR 


-- JUARA I --
Sami'an Adib :

Risalah Pilihan
:gus dur

Membaca ulang tilas hidupmu yang sering terkepung keriuhan
seperti melintasi jejak purba risalah panjang insan pilihan
:nubuwah para utusan kekasih Tuhan

tentu engkau tahu saat Kanjeng Nabi menjamin aman
bagi seluruh penduduk Mekah—kota taklukan
bahkan di kediaman orang yang pernah memusuhi Tuhan

pun demikian engkau menabur benih kedamaian
di kebun Indonesia lewat semaian kultur toleran
bersama menikmati lezatnya keberagaman

di dadamu memang tak kutemukan stempel kenabian
tapi lembut tanganmu tak pernah lelah merangkul semua kalangan
sambil menyematkan lencana terindah bersepuh keteladanan

Jember, Januari 2016

***
Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Lulus Strata I pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember (Unej).  Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013),  Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), dan lain-lain. Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik di MIIMA KH. Shiddiq Jember, bergiat juga di Forum Sastra Pendalungan.  
Saat ini tinggal di Jl. Imam Bonjol Gg. KUA 38, Lingk. Villa Tegal Besar, Jember, 68132. Email : samianadib@ymail.com. Contact  Person : 081336453539.
_________________________________________________________________________________

-- JUARA II --
Imam Budiman :

Mata Gus Dur Dalam Bayangan Masa Kecilku

Di teras subuh yang sejajar dengan tetuah malaikat arasy, berkening jejak waktu, aku merebahkan diri di atas sebidang tulang dedaun Walnut. Terkenang lagi olehku seorang tokoh agamawan abad ini yang belum pernah kutemui langsung, Gus Dur. Jika ia masih hidup, pastilah tak mengenaliku. Tapi di alam sana, ia sudah hafal betul namaku ada di salah satu list teratas catatan kecilnya sebagai donatur fateehah yang rutin mengiriminya pagi-sore. Aksara-aksara arab yang berbentuk ayat itu yang kerap dicengkramainya di sela waktu berdialog dengan munkar-nakir di bawah gundukan tanah sana. Membicarakan banyak hal tentang pengalaman mereka masing-masing.
Tapi bukan itu, sebetulnya aku lebih terkenang pada mata Gus Dur. Sepasang mata yang sempat digunakannya untuk membaca, menelaah, berpikir, menemukan jutaan wawasan dan merangkum dunia, sebelum dialih-fungsikan untuk melihat bayang-bayang Tuhan. Mata yang tak sekadar menjalankan tugas untuk melihat.
Sewaktu sekolah dasar, aku tak begitu mengenali ciri dan kiprahnya. Selain yang kutahu, ia adalah presiden kita yang paling rajin berpeci sejak muda, kehilangan penglihatan di jelang akhir usianya dan memiliki gerak refleks antara hidung dan pipinya. Selera humornya pun setingkat candaan para Dewata.
Belakangan, di bangku kuliah yang gerah dengan politik praktis ini, namanya kerap disebut di beberapa kajian dan diskusi. Aku mulai tertarik dengannya. Jenius dan jenaka! Mula-mula aku meminjam buku biografinya dari seorang teman yang berasal dari dusun tak bernama. Kulahap habis tanpa bersisa, barang sehalaman. Di kesempatan diskon buku besar-besaran pada sebuah perhelatan tahunan. Kupersiapkan uang tabungan yang tak seberapa bernilai untuk mengoleksi beberapa buku yang pernah ditulisnya. Aku ingin melahap lebih banyak isi kepalanya.
Akan tetapi, entah kenapa, sampai hari ini, tanpa alasan yang dapat dijabarkan, dibanding isi kepalanya, aku justru lebih jatuh cinta pada sepasang matanya:
Mata hakiki yang suci. Mata yang dapat melihat Tuhan di setiap tempat dan keadaan. Mata yang tersembunyi di balik matanya yang terkatup: Mata hati.

Ciputat, 1 Januari 2016

***
Imam Budiman, dilahirkan pada tanggal 23 Desember 1994, Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Ia menamatkan pendidikan Aliyah-nya di Pondok Pesantren Al-Falah Putera, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
       Kini berstatus sebagai Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di waktu yang sama, ia tercatat pula sebagai Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Ciputat, di bawah bimbingan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.
       Beberapa cerpennya terhimpun dalam kumpulan cerpen bersama, diantaranya: Iblis Tidur (Minggu Raya Press, 2013) dan  Sang Penulis (LPM Mercusuar, UNAIR Surabaya, 2015).
       Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama antara lain; Teriakan Bisu (Tahura Media, 2011), Ada Malam Bertabur Bintang (Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Tifa Nusantara II (Dewan Kesenian Tangerang, 2015), Pilunya Negeriku (Oase Pustaka, 2015), Kalimantan Selatan Menolak untuk Menyerah (Disbudparpora Kabupaten Banjar, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi (Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Pelabuhan Merah (Sagang Intermedia Riau Pos, 2015) Dan Sepilihan Sajak Kampung Halaman yang akan terbit di pertengahan tahun 2016 adalah kumpulan puisi tunggalnya yang kedua setelah Perjalanan Seribu Warna (2014).
       Beberapa cerpen dan puisi-puisinya juga dimuat di berbagai media cetak/portal nasional dan lokal seperti:
      Media Indonesia, Indopos,  Riau Pos, Babel Pos, Media Kalimantan, Lampung Post, Koran Madura, Metro Riau, Sumut Pos, Malang Post, Mata Banua, Cakrawala Makassar, Post Metro Jambi, Kaltim Post, Radar Banjarmasin, Radar Tarakan, Kalimantan Post, Banjarmasin Post, Solopos, Sastra Sumbar, Majalah Warta Bahari, Majalah Iflah, Majalah NABAWI, Majalah SANTRI,  Majalah INSAN, Buletin Sastra Lakonik, Buletin Sastra Pawon, Buletin Pojok Pesantren, Buletin DENTA, Buletin Harokah, Buletin Jejak, Buletin Literasi, Buletin Lentera, Tabloid Kabar IIQ, Tabloid INSTITUT, Tabloid RUANG, Jurnal Rusabesi, Sayap Kata, Ruang Aksara, Detakpekanbaru.com, Banjarmazine.com, Qureta.com, Kompasiana.com, Pasanggrahan.com, Sastrapedia.com. Lokerpuisi.web.id, Forumpenulismuda.com, Mahasiswabicara.com, Riaurealita.com.
       Pada tahun 2014 meraih nominasi kategori Puisi Terbaik Institut Award, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di akhir tahun 2015 cerpennya berjudul “Empat Mazhab Penulis” meraih nominasi terbaik event menulis nasional, LPM Mercusuar, UNAIR Surabaya. Naskah puisi berjudul “Menjaga Harum Aroma Pandan Tanah” dinobatkan sebagai puisi terbaik dalam rangka ulang tahun ke-III Rumahkayu Indonesia. Dan cerpennya berjudul:  “Jabang Bayi Banyu Pilungsur” meraih terbaik pertama dalam event Kemah Aruh Sastra XII, Martapura, Kalimantan Selatan, 2015. 
HP. 089527802715
_________________________________________________________________________________

-- JUARA III --
Muhammad Fadlullah Abdul Ghofur :

GUS “ SANG PENAKLUK “

Aku malu pada diriku sendiri
  Bagaimana mungkin aku tak malu ?
    Dengan segala kondisi fisikmu
     Usahamu untuk memperbaiki bangsa ini sungguh luar biasa
       Relung hati mana yang tak iba ?
       Rakusnya “tikus-tikus dalam lumbung"  membuatmu gerah
     Anak-anak TK yang duduk dengan pongahnya  membuatmu geram
   Hati mana yang tak tergugah saat kebenaran justru dimakzulkan ?
Memanusiakan manusia menjadi aliran darahmu
  Agama Islam yang Rahmatan lil ‘alamin menjadi  nafasmu
    Nilai-nilai mana lagi yang kurang darimu ?
      Wahai Abdurrahman Sang Penakluk
     Alam Indonesia berhutang banyak kepadamu
    Hiduplah dalam doa-doa kami antar pemeluk agama
  Inna auliyaa Allahi laa khoufun ‘alaihim walahum yakhzanun

Dari kami yang merindakanmu wahai Guru Bangsa

***
Muhammad Fadlullah Abdul Ghofur, Lahir di Kendal, 05 Maret 1989

_________________________________________________________________________________

-- IV --
Faisal Zen

SANG PENYEJUK HATI

Diantara gemerlap dunia
Yang tandus kering terbakar picik manusia
Lahir seorang penyejuk dari buaian angin surga
Yang karomahnya tak tergambar dan tak terkira
Beliau berjuang di antara musuh penghancur negara
Sedang ia dimusuhi, dicaci, dimaki
Mutiara kata yang terlontar melalui bibirnya
Bagaikan tetes tetes embun penyejuk hati pelita gulita
Riuh jiwa gema suara negeri
Ketika ia berdiri di tempat tertinggi
Sungguh keji mereka berkata
Pemimpin kita ialah “Kyai buta”
Sedang merekalah yang terbutakan oleh binar-binar dunia
Beliau seorang wali yang tak tampak
Menapak tilas hendak berbekas
Melanglang jagat dunia yang berkoalisi alot
Beliau tanggapi dengan kata penuh makna “GITU AJA KOK REPOT”

***
Faisal Zen, Lahir di Cilacap 29 September 1992
Beralamat di Jl. Ky Safari No. 2 Padangsari Majenang Cilacap. HP. 085879878784
_________________________________________________________________________________

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...