Tampilkan postingan dengan label Pelataran Sastra Kaliwungu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelataran Sastra Kaliwungu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

NgopiSastra #1 PSK (Pelataran Sastra Kaliwungu)

Undangan Terbuka,
NgopiSastra #1 PSK (Pelataran Sastra Kaliwungu) | Selasa, 7 Oktober 2014 | 19.45 - 22.00 WIB | di Rumah Puisi Langit Kendal, Jl. KH. Thohari Brangsong Kab. Kendal (Barat Alfamart Brangsong) ke Selatan 200 m | Baca dan Bedah Puisi Lukluk Anjaina | Pembedah : Zulfa Fahmy(Magician, Dosen Unnes) | Paper : Setia Naka Andrian | Moderator :Padhang ELalank | Musik : OGSB Lestra (Lembaga Sastra Rakyat) | Diskusi Sastra : Kelana Siwi Kristyaningtyas | Free Coffe | Info :www.pelataransastrakaliwungu.blogspot.com | CP. 0856 4140 2250 |Bahrul Ulum A. Malik ~ Anda Datang, Kami Senang ;-)


Kamis, 12 Juni 2014

JUARA CIPTA PUISI "ISRA` MI`RAJ" PELATARAN SASTRA KALIWUNGU 2014

JUARA I
RAEDU BASHA (YOGYAKARTA)


ISRA’ MI’RAJ SAJAK

malam suci
jadilah engkau doa-doa
bermusafir dari satu negeri ke negeri lain, mengembara
safarimu, isra’
kau lecut detum dada
detak jadi zikir jadi buraq
melesat menggulung peta buta
kau temui fenomena

saat tak ada harga bagi sajak
di malam yang suci
segalanya secepat cahaya
kata-kata
larik
bait
menyatu dalam tasbihat Jibril

malam suci
sajakkan doa-doa
dari bumi diri naik ke langit diri
mi’raj semacam i’tidal, dari ruku’ menuju sujud
dari fikir ke sya’ir
ruang-ruang pejam
mata sajak mengatup persembahan
kata-kata
larik
bait
menyatu
dalam ahlan Isa
dalam ahlan Ilyas
dalam ahlan Musa
para Nabi menyambut jabat dendangmu

malam suci
jadilah puisi serupa doa
bersama tinta, kertas dan diksi-diksi
hingga singgah di sidratul muntaha
dan Tuhan akan membaca sajakmu dalam sepi…


Ganding Pustaka, 25 Mei 2014

---
RAEDU BASHA
Dilahirkan 3 Juni 1988 Sumenep Madura. Belajar menulis puisi di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep Madura. Menulis puisi dan prosa. Buku puisinya Matapangara (proses terbit, 2014), dan novelnya The Melting Snow (Diva Press, 2014). Sekarang tinggal di Yogyakarta sebagai mahasiswa Pascasarjana. Puisinya pernah dimuat media massa, Radar Madura, Horison, Kuntum, Surabaya Post, Sabili, Bende, Jurnal Aksara-Imajio, Kompas.com, Koran Madura, Pikiran Rakyat, dst., serta puluhan antologi puisi dan prosa bersama.
Pemenang Sayembara Penulisan Puisi Tingkat Nasional, Pusat Bahasa, Depdiknas RI (2006), juara cipta puisi se-Jawa Timur, Taman Budaya Jawa Timur, Disparbud, Pemerintah Provinsi Jatim (2006), juara baca puisi se-Jatim Festival Semarak Tiga Bahasa PP Al-Amien Prenduan (2007), Penghargaan Deklamasi Puisi pada Milad ke-47 Universitas Ahmad Dahlan dari Red. Majalah Kuntum, Yogyakarta (2007), peraih Piala Wali Kota Surabaya cipta puisi se-Jatim Teater Kedok SMAN 6 Surabaya (2007), pemenang cipta puisi yang diadakan Hellogoodbye The Movie (2012), juara cerpen nasional Festival Cinta Buku V LPM INSTIK Annuqayah Madura (2012), nomine cerpen group Taman Sastra (2010), nomine UNSA Award (2011), cerpen nasional LPM STAIN Purwokerto (2012 & 2013), cerpen majalah Kuntum [majalah IPM Pusat] (2013), dsb. Juga pernah menerima penghargaan Agrinex Indonesia cipta dan baca puisi tingkat nasional yang diadakan Institut Pertanian Bogor dan HIPMI di Jakarta Convention Center (2007).
Selain menulis, juga disain grafis dan fotografi. Karya grafisnya berupa logo, karikatur, sampul, poster, website, kaus, mading, souvenir, buku, dll., pernah mengikuti pameran tingkat lokal sampai internasional, antara lain pameran fotografi budaya dan tradisi bersama para fotografer dari 55 negara pada Ogrenci Bulumasi atau Spring Festival di Kultur Park Pusat Kota Konya, Turki, Mei 2014.

HP                   : 081939006869
Email               : desaku.bilapora@gmail.com
Alamat            : Jl. Ori 1 9C Papringan, Catur Tunggal, Depok, Sleman DIY
Blog                :  www.raedubasha.blogspot.com



JUARA II
ABDUL WAHID (SURAKARTA)

PAHLAWAN YANG KURINDU

Aku rindu sosok yang sangatku rindu,
Sosok yang gigih berjuang,
Sosok yang tak kenal keluh ato kesah,
Hatiku gelisah ketika mendengar namamu,
Hatiku trasa perih ketika manusia menghinamu,

Inginku selalu di sampingmu,
Inginku selalu mencontohmu,
Inginku selalu mengikuti jalanmu,
Jalan yang telah di ridhoi Tuhan semesta alam,

Kaulah yang kurindu,
kaulah yang kudamba,
Kaulah suri tauladanku,
Kaulah Nabiku,
Muhammad Shalallahi Alaihi Wassalam.


Sala, 29/05/14

---
Biodata 
Batu Jamus adalah sebuah desa di kaki gunung lawu. Di desa tersebut Wahid menikmati masa kecilnya dengan riang gembira. Abdul Wahid, itulah nama lengkap yang diberikan kedua orang tuanya 21 tahun silam. Saat ini anak pertama dari tiga bersaudara tersebut sedang menempuh studi S1 di Jurusan sastra Indonesia UNS Surakarta.

Daftar Riwayat Hidup
1. Nama lengkap         : Abdul Wahid                                                                       
    Nama Panggilan      : Abid/Wahid
    Nama Pena              : Abid/Bid
2. Jenis Kelamin          : Laki - laki
3. Tempat, tgl. Lahir   : Karanganyar, 29 Juni 1993
4. Alamat lengkap       : Jamus, Kutho, Kerjo, Karangayar
                                    E-mail/HP. : abdulwahid@rocketmail.com/083866050234
5. Status Pendidikan   : Semester : 4                           , Program studi : Sastra Indonesia
                                      Jur/Dep/Bag : -                      , Fak : Sastra dan seni Rupa
                                      Perguruan Tinggi : Universitas Sebelas Maret
6. Riwayat Pendidikan:     a. SD    :   Negeri 03 Mojodoyong, Sragen                     
                                       b. SLTP :      MTA Gemolong, Sragen        
                                       c. SLTA :     MTA Surakarta          
7. Hobi                        : Menulis, bercerita dan Dulant
8. Keterampilan yang dapat dibanggakan : menulis
9. Bahasa Asing yang dikuasai                       : - - -
10. Orangtua
     a. Ayah, Nama       : Drs. Mujiyanto
        Pekerjaan : Pedagang
        Pendidikan          : S1
        Alamat                : Jamus, Kutho, Kerjo, Karanganyar
   b. Ibu, Nama           : Hendang Siyamsi
       Pekerjaan             : Ibu rumah Tangga
       Pendidikan           : SMA

       Alamat                 : Jamus, Kutho, Kerjo, Karanganyar



JUARA III
ZIEM (CILACAP)


SAMPAIKAH AKU KE JALANMU

Aku begitu rindu,
Menantang hujan
Yang basah dengan bismillah
Raung ruang yang pengap

Berkali kali kupatahkan
Symbol symbol nurani

Kupenjarakan yang bernama
CINTA, Illahiah

17 serdadu,
5 roket jalanmu
Buntu

Shalallahu ‘ala Muhammad,
Lagu lisan sahaja

Lagu
Jasad tanpa jiwa
Jiwa tanpa ruh

ruhMu

sampaikah
aku ke jalanmu.


Palugon,290520141758

Ziem, lahir di cilacap 23 April 1991. Tinggal di desa palugon pegunungan bagian wilayah cilacap barat kec wanareja kabupaten cilacap. Sekarang mahasiswa semester 4 di STAIS Majenang. FB – nya Wajah Pribumi www.facebook.com/achiem.zie  

Selasa, 27 Mei 2014

DARI WIJI THUKUL

Wiji Thukul
(Surakarta, 23 Agusus 1963 - .... ?)

Penyair haruslah berjiwa "bebas dan aktif", bebas dalam mencari kebebanaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakini. Maka belajar terus-menerus adalah mutlak, memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya. Dan fanatik gaya atau tema bisa dihindarkan sehingga proses kreatif tak terganggu. Belajar tak harus di bangku kampus atau sekolah tetapi bisa di mana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkungan atau apa sajalah pokoknya yang bisa mempertajam kepekaan penyair terhadap gerak hidup dirinya dan hidup di luar dirinya juga.


Buku Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul : Nyanyian Akar Rumput


Dalam penciptaan puisi sesungguhnya penyair hanya tergantung pada dirinya sendiri, mungkin kritikus ada juga fungsinya, tetapi kritikus nomer empat urutannya. Pokonya persis seperti ketika coblosan pemilu itulah. Kita berdiri di depan gambar kontestan dan bebas sepenuhnya memilih mana yang kita pilih, tidak ditekan, tidak tertekan, tidak dipilihkan, tapi memilih sendiri.


Salam saya,
Wiji Thukul


***
Tulisan ini saya ambil dari Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul : Nyanyian Akar Rumput.


Minggu, 25 Mei 2014

ISRA` MI`RAJ PUISI

Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) menyambut Sejarah Perjalanan Suci Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dan dari Bumi menuju Langit hingga Sidratul Muntaha, di beberapa lapisan langit Nabi Muhammad SAW telah bertemu dengan beberapa Nabi pendahulu, menyapa dan mendoakan beliau. Sampai ke "Puncak Kursi-Nya," Nabi Muhammad SAW mendapat amanat untuk umatnya, melaksanakan Sholat 5 waktu sehari, Subuh Duhur Asar Magrib dan Isyak.

PSK mengadakan Cipta Puisi Isra` Mi`raj dengan ketentuan : 1. Lomba terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan umum2. Setiap peserta hanya mengirim 1 puisi, bertema Isra` Mi`raj3. Pendaftaran dimulai pada Hari Minggu 25 Mei - 29 Mei 20144. Puisi dikirim ke e-mail : pskkendal@gmail.com5. Pengumuman hasil Cipta Puisi pada Hari Jumat 30 Mei 2014 melalui blog : pelataransastrakaliwungu.blogspot.com6. Tiga orang pemenang masing-masing berhak mendapatkan : a. Piagam Digital, b. Pulsa 10.000, c. Buku Antologi Puisi "Sogokan Kepada Tuhan"7. Semua naskah yang telah dikirim ke PSK akan diterbitkan melalui blog : www.langitkendal.com/pelataransastrakaliwungu7. Keputusan PSK tidak dapat diganggu-gugat.8. CP 085641402250 (a.n. Bahrul Ulum A. Malik)9. Selamat Berpuisi, Salam Indonesia

ttd.
Pelataran Sastra Kaliwungu

Minggu, 16 Februari 2014

RISET

Oleh Johannes Sugianto 

Yo Sugianto





Tanggunganku, rindu punguk. Berbeban kayu gandar dan lengkung kuk
Aku lembu penarik. Kuseret serat terbaik untuk bulan setengah hilang

Pada malam di luar pagar, kusyairkan aneka kenangan liar
Yang mencambukku tanpa irama, sepanjang jalan mendaki ke huma

O, tandukku, Sepasang lengan kesombonganku. Yang kukuh hanya
garis mimpi. Di hadapan bulan, ia menekur semak rumput,
mensyukuri nikmat maut.

dan punggungku, rimbun lembut kecup ibu, bertabah pada semua
yang berubah. Tak ada yang berat dan berarti melelahkannya. Mengalahkannya

sepanjang jalan ke huma, roda pedati bergerak-berderak seperti usia.
aku lembu penarik, di bawah bulan setengah hilang, terengah tertatih

2011


(Puisi “Lembu” karya Dedy Tri Riyadi)
 
Saya dan Dedy Tri Riyadi

Tak tahu tepatnya kapan rapat itu diadakan, atau mungkin tak pernah ada rapat, berapa jumlah pesertanya, adakah moderator dan notulen. Tapi kita asumsikan rapat itu pernah ada pada tahun 2012, karena punya fokus dan makna yang penting.

Fokus itu pada penelitian yang diadakan secara terbatas oleh Denny Januar Ali, seorang aktivis, yang lalu menjadi tokoh ternama yang pernah dinobatkan oleh sebuah majalah sebagai the king maker politik Indonesia.

Riset itu mengambil sampel 5 puisi dari media ternama di Indonesia (disebutnya kemudian koran yang paling besar oplahnya saja) dengan rentang waktu sejak Januari – Desember 2011. Sampel itu, katanya, representasi dari puisi yang diseleksi oleh koran yang paling besar oplahnya. Ini bisa diasumsikan, pemilihan lima puisi itu diambil dari sebuah buku antologi puisi yang diterbitkan oleh koran terbesar oplahnya itu.

Hal ini bisa diartikan, karena sudah diputuskan oleh DJA yang bergelar Ph.D di bidang comparative politics dan business history dari Ohio State University, Amerika Serikat, maka koran itu dianggapnya sudah mewakili semua puisi yang ada di seluruh koran dari Sabang sampai Merauke.

Pemilihan metode penelitian itu jauh berbeda dengan pola yang pernah dilakukan dalam kegiatan lain, meski tidak untuk memetakan wajah puisi masa kini. Lomba Pena Kencana misalnya. Mereka menilai puisi dan cerpen terbaik berdasarkan karya yang sudah dimuat di media cetak dalam kurun satu tahun. Medianya dari seluruh penjuru Nusantara, tentu yang punya Rubrik Puisi dan Cerpen, baik dengan judul rubrik tersendiri atau  cuma dengan nama Rubrik Budaya, Rubrik Seni atau masuk dalam Rubrik Hiburan.

Lalu lima puisi itu diberikan kepada tiga kelompok pembaca dengan background strata pendidikan yang berbeda : pendidikan tinggi (sarjana ke atas : S1, S2 dan S3), pendidikan mengengah (hanya tamat SMU dan SMP), dan pendidikan rendah (hanya tamat SD). Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Mereka pun diberi perbandingan puisi “Aku” (Chairil Anwar) dan “Khotbah (Rendra).

Tidak diketahui pula atas dasar apa pemilihan karya Chairil dan Rendra yang masing-masing satu puisi, dan kenapa tidak disertakan puisi lain semisal “Pahlawan Tak Dikenal” (Toto Sudarto Bachtiar) atau puisi indah “Hujan Bulan Juni” (Sapardi Djoko Damono).

Jadi, hasil penelitian itu sangat penting, dan tentunya juga sangat valid. Bagaimana tidak, DJA adalah pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang sudah melakukan riset ratusan kali. “Riset yang saya buat di LSI bahkan mampu memprediksi apa yang belum terjadi, seperti pemenang pemilu legislatif dan presiden 2009 tempo hari,”ujarnya suatu ketika.

“Kali ini saya mencoba melakukan riset dengan sampel dan tujuan yang lebih terbatas di dunia puisi,”tambahnya lagi.

Meski disebut sebagai riset dan tujuan yang lebih terbatas di dunia puisi, tapi di tangan seorang DJA tentu lain maknanya. Beda jika itu dilakukan mahasiswa yang ingin segera lulus, lalu mengutip berbagai pendapat dari para ahli sosial atau sastrawan ternama, agar kelihatan keren dan tebal saat dicetak. Maka, bisa dipastikan riset oleh DJA itu pasti teliti, kredibel dan bisa jadi master piece lain dari sekian ratus riset yang sudah dilakukan lembaganya.

Meriset dunia puisi itu pekerjaan yang luhur, banyak manfaatnya bagi pelaku dan penggemar sastra. Masih banyak sastrawan yang belum ditulis secara komprehensif seperti Muhammad Yamin, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Gerson Poyk atau Sutan Takdir Alisyahbana. Referensi tentang mereka lebih mudah didapat dari kepustakaan atau lembaga asing.

Hasil riset itu akan berguna bagi masyarakat sebagai pembaca, penikmat dan pembeli buku karya para penyair. Masyarakat adalah “orang tua” bagi karya penyair. Sedang penyair melahirkannya. Seperti apa bayi puisi itu nantinya, masyarakat yang akan merawat dan membesarkannya.

Riset terbatas itu ternyata menghasilkan kesimpulan bahwa puisi masa kini sulit dipahami, karena bahasanya njlimet. Bahkan yang tamat pendidikan tinggi pun tidak mengerti dan tidak memahami puisi yang dijadikan sampel itu.

Njlimet-nya itu, begitu bunyi riset yang kemudian diulang dan diulang oleh DJA atau Ahmad Gaus dalam berbagai kesempatan, akibat “penyair masa kini hanya sibuk dengan imajinasi dan kesepiannya sendiri.” Seolah semakin sulit dipahami, semakin tinggi mutu dan kualitas puisi. Mereka memiliki komunitas yang saling memuji bahasa rumit itu. “Lengkaplah mereka semakin terasing dari masyarakatnya yang lebih luas.”

Beranjak dari hasil riset terbatas itulah DJA lalu menarik kesimpulan, yang tidak dijelaskan apakah juga lewat riset lagi, bahwa masyarakat butuh puisi yang mudah dimengerti dan dipahami. Masyarakat merindukan puisi yang lebih peduli kepada publik luas, di luar diri dunia para penyair itu sendiri.

Kesimpulan itu diperkuat lagi dengan sumber lain yakni pakar puisi, John Barr yang memimpin dan menerbitkan majalah puisi ternama yang kini  sudah berusia seratus tahun.

Lalu DJA pada Maret 2012 mengeluarkan buku puisi “Atas Nama Cinta”, yang tak hanya diedarkan dalam versi cetak, tapi juga dibuatkan versi mobile web. “Oleh sebagian, buku itu dianggap sebagai tonggak yang membawa sastra ke era sosial media,”kata DJA.

Pengertian sebagian itu tak pernah dijelaskan oleh DJA apakah sekelompok orang saja, apakah hanya bawahannya di LSI atau mereka yang bekerja di 20 perusahaan miliknya, ataukah sekian persen masyarakat Indonesia?.

Begitu juga tonggak yang membawa sastra ke era sosial media. Klaim yang menunjukkan bahwa DJA tak tahu atau sengaja menguburkan fakta bahwa bicara sosial media, para penyair sudah melakoninya meski sekian tahun lalu belum ada facebook atau twitter. Mereka, yang sering disebut penyair cyber memiliki grup dengan ratusan bahkan ribuan members, baik lewat multiply, yahoo atau membuat web sendiri.

Mereka juga mengadakan pertemuan atau kopi darat, bahkan menerbitkan buku karya para members-nya. Tentu bukan buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), tapi hasil patungan para members-nya. Dari grup-grup itu juga terlahir para penyair yang lalu menerbitkan karyanya dalam bentuk buku puisi, dimuat di media cetak atau memposting di blog masing-masing.

Entah, apakah puisi “Lembu” di atas tulisan ini termasuk lima puisi yang jadi sampel riset kecil DJA atau tidak. Satu hal yang jelas, puisi karya Dedy Tri Riyadi ini dimuat di Kompas, yang merupakan koran dengan oplah terbesar di Indonesia, pada tahun 2011.

Ajaibnya, lewat karya yang belum berusia dua tahun sejak diterbitkan, dan oleh DJA disebut sebagai puisi-esai, diakui dan diyakini sebagai kebenaran oleh sebuah tim juri yang disebut Tim 8. Bahkan DJA dinobatkan sebagai salah satu dari “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” (yang dipakai sebagai judul buku).

Pengakuan itu tentu tak sembarangan. Selain mempertaruhkan reputasi Tim 8 (yang setelah buku itu terbit dan beredar, salah satu anggotanya yakni Maman S Mahayana menyatakan menarik 5 esainya yang ada di buku itu), juga dianggap memenuhi empat kriteria Tim 8 bagi seorang sastrawan untuk diakui Tokoh Sastra Paling Berpengaruh.

Salah satu kriteria itu adalah sosok yang menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru, yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang, dan akhirnya menjadi semacam konvensi, fenomena, dan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.

Dari mana awal mulanya Tim 8 ini dibentuk, belum terang benderang hingga kini. Berdasarkan pengakuan Maman S Mahayana, ia diundang sebagai salah anggota tim untuk menggarap sebuah buku yang sesuai email dari Jamal D.Rahman (Pemimpin Redaksi majalah Horison, dan menjadi Ketua Tim 8) merupakan kegiatan formal yang dilaksanakan oleh PDS HB Jassin. Dalam proyek ini PDS HB Jassin memberikan mandat kepada Jamal D Rahman untuk mengkoordinir kegiatan dimaksud.

Belakangan, seperti dimuat di berbagai media massa, pernyataan dalam email kepada Maman itu dibantah oleh Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana PDS HB Jassin yang menyatakan bahwa PDS H.B. Jassin tidak terlibat sama sekali dengan proses penyusunan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, baik dalam hal keberadaan tim penyusun (Jamal D Rahman dkk) yang sering disebut Tim 8, pemilihan 33 sastrawan yang dimaksud dalam buku tersebut, maupun penentuan judul dan ungkapan persembahan: “Diterbitkan Untuk PDS H.B. Jassin”. “Semua itu adalah urusan tim penyusun/Tim 8,” demikian pernyataan itu.

Hingga kini belum ada tuntutan apapun dari PDS HB Jassin terkait masalah itu, minimal meminta Jamal D.Rahman untuk memberikan penjelasan bahwa email Maman itu tidak benar, bahwa ia tak pernah menyatakan mendapatkan kuasa membuat proyek itu.

Akankah perkara ini dibikin gelap saja, dipetieskan kayak kasus-kasus korupsi, hanya karena pertemanan?. Padahal dari sinilah titik tolak adanya Densus eh maaf Tim 8?. Bukan tak mungkin ada anggota tim yang juga turut terlibat karena tahu (baca : diberitahu) bahwa ini proyek dari PDS HB Jassin. Ini bisa menjadi pendidikan yang tidak baik bagi kalangan sastrawan, karena pembiaran menggunakan nama sebuah lembaga sehebat PDS HB Jassin.

Sama gelapnya juga, darimana sumber dana penerbitan itu. Apakah dari KPG, sebagai penerbitan terkemuka di Indonesia?. Sebab di halaman depan buku itu tertulis “Diterbitkan untuk Pusat Dokumentasi HB Jassin” yang terletak di bawah nama-nama penulis buku (Tim 8) dan paling bawah tertulis Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Jika disebut “Diterbitkan untuk PDS HB Jassin”, bisa diartikan itu proyek dari PDS HB Jassin yang dicetak dan diterbitkan oleh KPG. Namun hal ini sudah dibantah bahwa buku ini bukanlah proyek PDS HB Jassin, yang hanya memberikan sambutan dalam buku dan menjadi tempat peluncurannya. Apakah ini persembahan KPG untuk dunia sastra Indonesia, belum ada penjelasan resmi dari KPG yang merupakan bagian dari rantai bisnis konglomerat media tersebut.

Jika nantinya KPG pun memberi bantahan serupa dengan PDS HB Jassin, maka tinggal dua kemungkinan siapa penyandang dana itu : Tim 8 atau orang lain. Kemungkinan pertama, yakni dana dari Tim 8 telah terpatahkan dengan pernyataan Maman S Mahayana, yang sekaligus akan mengembalikan honornya sebesar Rp 25 Juta.

Berarti pendanaan buku ini dari orang lain, sebut saja Mr.X. Tentu hal ini kita patut acungi jempol, karena pasti dia dermawan dan sangat peduli dengan sastra, khususnya puisi. Biaya penerbitan buku ini, dari persiapan, diskusi, honor para penulis, cetak, launching, promosi, publikasi dan distribusinya tentu menelan biaya ratusan juta rupiah.

Namun, jika, buku ini didanai oleh Denny JA, maka yang terjadi adalah tragedi karena seseorang yang belum terbukti kapasitasnya sebagai tokoh, bahkan penyair, telah melakukan onani sastra dengan menobatkan dirinya sendiri sebagai “Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”.

Sangat menyesakkan hati menyaksikan betapa mudahnya para sastrawan dan kritikus itu mengorbankan dirinya sendiri, seolah sebagai martir, bagi sebuah obsesi orang lain. Entah, jika menjadi martir ini sepadan dengan imbalan dan fasilitas yang telah dan akan diterimanya, sehingga tak mempedulikan penilaian serta dampak sosialnya bagi masyarakat sastra. Masyarakat yang membesarkan nama mereka, memberi udara kata-kata, dimana mereka sendiri juga menjadi bagian di dalamnya sebagai orang sastra.

Sangat menyesakkan pikiran menyaksikan betapa mudahnya seseorang melakukan riset hanya dengan membaca sebuah antologi puisi, mencomot beberapa puisi untuk dibaca orang lain dengan perbandingan puisi lain (puisi lama), lalu meminta pendapat responden tersebut. Dari situ ia menarik kesimpulannya sendiri sebagai hasil riset, menjadi argumentasi bagi karyanya yang dibaptis para sastrawan dan kritikus ternama sebagai genre baru. Setidaknya sebagai “Puisi Esai Kemungkinan Baru Puisi Indonesia”, seperti judul buku yang diterbitkan Jurnal Sajak, Januari 2013 dengan editor Acep Zamzam Noor.

Semua ini tentang cara, tingkah laku dan etika sebagai manusia. Jangan pula lalu dipolitisir menjadi sikap diskriminatif, menyamakan para penentang buku seperti sekelompok ormas yang membawa panji agama dan amarah, memberangus demokrasi dengan membuat petisi atau simpul lain yang jauh dari kesusastraan. Itu pengalihan opini murahan yang mudah diterka dan akan jadi tertawaan.

Tidak sesimpel itu, karena soal perasaan bukanlah sekedar kumpulan sampel.

Pembuatan 5 film yang disebut sebagai transformasi buku Atas Nama Cinta, penerbitan 9 buku puisi esai (plus buku 23 Penyair Kondang Indonesia yang saat tulisan ini dibuat konon sedang naik cetak) atau lomba-lomba puisi bukan serta merta menjadi seseorang sah sebagai penggagas Puisi Esai, melahirkan genre baru. Itu tak ubahnya calon gubernur atau calon walikota mengadakan turnamen sepakbola, bagi-bagi sembako, bagi-bagi kalender, pasang baliho atau menempelkan poster di pepohonan sebagai tanda ia peduli rakyat. Tentu tujuannya agar ia terpilih atau dipilih lagi.

Menjadi sastrawan, apalagi Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh bukanlah seperti jadi kepala daerah dengan satu kali putaran saja. ***

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.


(Sajak “Orang-orang Miskin, karya Rendra)

---
sumber : https://www.facebook.com/notes/yo-sugianto/riset/10152251207394310

Kamis, 13 Februari 2014

TENTANG ANALOGI KAPAL DAN KEJUJURAN

Oleh : Maman S Mahayana 

Maman S. Mahayana
Analogi adalah persamaan atau persesuaian dua hal atau benda yang berlainan. Bisa juga dirumuskan lebih longgar sebagai kesamaan sebagian ciri antara dua benda atau hal yang dapat digunakan sebagai bahan perbandingan (lihat KBBI). Manusia, misalnya, bisa saja dianalogikan dengan binatang atau benda yang lalu dicari kesamaan ciri atau karakteristiknya. Majas ini bisa juga dimanfaatkan untuk melakukan pembenaran atau tindak manipulasi. Sebutlah, misalnya, sebuah tindak korupsi atau perampokan bank. Bisa saja si koruptor atau perampok itu menganalogikan dirinya sebagai Robinhood atau si Pitung. Alasannya, hasil korupsi atau perampokan itu digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Dapatkah korupsi dan perampokan digunakan untuk melakukan pembenaran? Benarkah uang itu akan dipakai untuk kesejahteraan rakyat, dan tidak untuk kepentingan pribadi atau keluarga?

Sebuah usaha mendirikan koperasi, misalnya, bisa saja dianalogikan dengan sebuah kereta yang hendak berangkat ke kota tertentu. Di sana, ada tujuan yang sama, juga ada penumpang yang sama. Bagaimanakah jika sesudah koperasi itu berdiri dan kepala koperasi melakukan korupsi, apakah penganalogian dengan kereta api itu masih relevan? Misalnya, kepala koperasi sebagai masinis gila dan anggota koperasi sebagai penumpang kereta. Apakah para penumpang itu akan tetap loyal duduk manis di dalam kereta, meski mereka tahu, masinisnya gila. 

Sebuah usaha yang mulia, tentu saja perlu dikomandani oleh seseorang yang berhati mulia dan jujur. Banyak contoh tentang usaha atau perjuangan mulia dianalogikan dengan kapal yang hendak melayari laut. Mengapa usaha atau perjuangan mulia kerap dianalogikan dengan pelayaran sebuah kapal? Inilah hebatnya profesi kapten kapal. Ia terikat oleh sumpah jabatan, bahwa penumpang akan selamat sampai tujuan. Maka jika terjadi badai, kapten kapal adalah orang yang terakhir menyelamatkan diri. Ia punya integritas dan jujur pada profesinya. Para penumpang, sejak menaiki tangga kapal, percaya penuh pada integritas dan kejujuran Sang Kapten Kapal. Ia diyakini tidak akan berbohong pada profesi dan hati nuraninya.
Mengusahakan sebuah buku antologi tentu saja bisa juga dianalogikan dengan kapal dan kapten kapalnya. Tetapi, bagaimana jika di sana ada penumpang gelap dan kapten kapal sejak awal sudah berniat melakukan pembohongan? Masih relevankah analogi itu? Kapten kapal, seperti juga dokter, misalnya, terikat oleh sumpah profesi. Apakah para penumpang atau pasien harus tetap setia, meski tahu bahwa kapten kapal itu sesungguhnya perompak dan dokter itu telah melacurkan profesinya?

***
Saya bersama Maman S. Mahayana
Tulisan adalah representasi pribadi. Sebuah tulisan mencerminkan diri penulisnya sebagai sosok yang berwawasan atau tidak; jujur atau tidak; berkepribadian atau sekadar terompet seseorang. Penulis profesional yang mengabdi pada integritas profesinya, selalu punya kesadaran pada reputasi dan kesungguhan agar dirinya tetap menjadi penulis terpercaya. Maka, dalam sebuah buku antologi, setiap penulis harus bebas dan mandiri, tidak terkooptasi kepentingan pihak lain, tidak dapat diinfiltrasi oleh pesanan-pesanan ideologi. 
Bagi penulis atau sastrawan, karya yang dihasilkannya adalah representasi dirinya dalam sikap, integritas, dan kemandiriannya yang bebas dari pesanan atau keinginan melayani seseorang. Dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah esainya, “Kesusastraan yang harus melayani masyarakat tidak bedanya dengan pelayan di restoran yang harus memuaskan langganannya... Ini adalah kesusastraan yang boleh dinikmati sambil makan-angin: kenikmatan yang murah.” Maka, penulis sejati, tak hendak menjadi pelayan restoran yang menulis sekadar memenuhi pesanan, transaksi atau rekayasa.

Dalam konteks itu, ketua editor atau ketua tim, harus punya kesadaran, bahwa posisinya sebagai ketua editor atau ketua tim, adalah kepercayaan bahwa dirinya dapat dipercaya dan menempatkan kejujuran inheren dengan tanggung jawab. Ia berkewajiban menyuarakan kejujuran dan kebenaran yang terjadi dalam proses penulisan. Ia tak melakukan penghilangan atau pemanipulasian kebenaran. Para penulis dalam antologi itu sejak awal juga berkewajiban mendasari langkahnya pada niat mulia, mandiri, dan tekad menjunjung integritas sebagai penulis sejati. Maka, penulis sejati tak hendak menyelusupkan pesanan, tidak melacurkan diri dan berkhianat pada profesinya, dan menjaga kebenaran sebagai sikap profesional dan bentuk integritas pada profesi. 
Mengingat masing-masing penulis bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya, dan ketua tim berfungsi administratif dan koordinatif, maka setiap penulis dalam tim itu juga berkewajiban menjaga kejujuran dan kebenaran. Setiap penulis dalam tim itu berkewajiban pula mengingatkan jika terjadi pemanipulasian atau pemelintiran kebenaran oleh satu atau sejumlah penulis yang tergabung dalam tim itu, dan tidak melakukan pembiaran. Berdiam diri melihat dan mengetahui terjadinya kebohongan atau ketidakbenaran atau penyelewengan sama halnya dengan membiarkan kebohongan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, atau penyelewengan berkeliaran di depan mata.

Inilah pesan kaum romantik pada diri para sastrawan: “Tuhan bertahta jauh dalam batinku yang megah.” Puisi (: sastra, karya tulis) adalah suara kejujuran yang menyampaikan kebenaran. Di sana, ada cahaya ilahi. Maka pernyataan: “Aku laksana Tuhan dalam pikiranku yang terdalam,” atau “Tuhan bertahta jauh dalam jiwaku” bermakna sebagai aku pencipta kebenaran menurut hati dan pikiranku yang jujur, maka suaraku memancarkan cahaya ilahi.

Begitulah, seorang sastrawan atau penulis sejati, berkewajiban menempatkan kejujuran dan kebenaran sebagai sikap dan integritas pada profesi. Lantaran penulis sejati hendak menyampaikan kebenaran, maka penulis yang melakukan kebohongan dan pemanipulasian tidak menjalankan tugasnya sesuai hati nurani. Bukankan yang dimaksud (hati) nurani (Arab: nuroniy) bermakna bersifat kecahayaan. Kata nurani dapat diperlakukan sebagai metafora untuk menunjukkan, bahwa di sana ada cahaya, dan cahaya itu representasi Tuhan. Penulis, sastrawan, atau seseorang dengan profesi apa pun berkewajiban menjaga kejujuran dan kebenaran dalam menjalankan tugasnya sesuai hati nurani, karena dari sanalah cahaya Tuhan memancar, dan tidak sebaliknya!

---
Sumber : https://www.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fmustatiroh.atibik.5%3Fref%3Dpymk%26fref%3Dpymk&h=OAQF0ASW7&enc=AZM3ro00ZWOP_N238EdqXlDOKbrqbS7dUKaGzSoMz0J-B1E8jG7YC0ZfdMNDFGtusHMXV45VXNYOo6HoY_9nq7CsVFkq2SK43jXuVpC7xJZZmYH2uEfENwbz3yUdOP5kaQw8nlvFg1P8dVozSbOxZD13wpISWFElEj1B7KyXow3jXCeYlRRVFEcrKNtX4LcDSXXc4F_12npGu4ZmoXQrW7RfX3qN0bd9-nj2fqEJIVjHbOsHzPF_mbzCewFWwPI005kDQ0jcYEs3FLhsCVb919D6RSiX32EbVd9GwZ1rItVbLw 

Selasa, 28 Januari 2014

Pengantar Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh

Saya bukan sastrawan, kritikus atau pengamat sastra. Kebetulan saja saya suka dengan sastra. Meski sastra kadang membingungkan dan menjadi polemik antar sastrawan (dan yang mengaku sastrawan) yang berseberangan. Memang wajar dalam berdemokrasi berlainan pendapat, ada yang mendukung, ada pula yang menolak, bahkan menghujat dan membuat petisi.

Lepas dari itu semua, saya hanya ingin belajar sastra (bukan untuk menjadi sastrawan). Entah itu karya sastra yang banyak digemari orang karena mutu karyanya -- ataupun suka karya sastra karena penulis/pengarangnya. Maupun karya sastra yang dicincang oleh oknum sastra.

Dan berikut saya copypaste "Pengantar Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh" yang bersumber dari http://inspirasi.co/forum/post/3448/pengantar_buku_33_tokoh_sastra_paling_berpengaruh, yang membuat dunia persilatan sastra heboh. Bukan karena saya mendukung atau ikut-ikutan menolak buku tersebut. Melainkan karena saya ingin belajar memahami apa itu sastra dan siapa sastrawan.

Salam hormatku untuk para sastrawan dan karya-karyanya,
: Bahrul Ulum A. Malik


Pengantar Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh
(Oleh: Tim 8)
Cover Buku : 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Mencari Tokoh bagi Sastra

Negara lahir dari tangan penyair.
Jaya dan runtuhnya di tangan para politisi.
Mohammad Iqbal

Jika kekuasaan membawa orang pada arogansi.
Puisi mengingatkan kita akan keterbatasan manusia.
Jika kekuasaan mempersempit kepedulian kita,
puisi mengingatkan mereka
akan kaya dan beragamnya eksistensi manusia.
Jika kekuasaan kotor, puisi membersihkannya.
John F. Kennedy

Peranan kesusastraan dalam kehidupan masyarakat tidak jarang dipertanyakan, terutama saat sebuah negara sibuk dengan pembangunan ekonomi. Hal ini terjadi juga di Indonesia. Di satu sisi, para penguasa kerap merasa terganggu oleh sikap sastrawan tentang pembangunan dan beberapa kebijakan politik menyangkut aspek-aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Mereka cenderung menganggap sastrawan hanya bisa mengkritik kebijakan dan kerja keras pemerintah, mengecam para politikus busuk, dan menghujat para pejabat korup. Di lain sisi, masyarakat umum memandang bahwa peranan sastra dalam pembangunan dan kehidupan masyarakat luas tidak begitu jelas, atau bahkan menganggap sastra cuma berisi lamunan dan kata-kata indah mendayu.

Tapi John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat yang legendaris, mengemukakan bahwa jika kekuasaan membawa orang pada arogansi, puisi mengingatkan kita akan keterbatasan manusia. Jika kekuasaan mempersempit kepedulian kita, puisi mengingatkan manusia akan kaya dan beragamnya eksistensi manusia. Jika kekuasaan kotor, puisi membersihkannya. Puisi dan sastra pada umumnya di mata Kennedy adalah bagian penting dari kehidupan berbangsa sebagai pengimbang —bahkan anti toksin— bagi penguasa dan kekuasaan.

Dalam pada itu, Mohammad Iqbal, penyair dan filsuf terkenal asal Pakistan itu, mengemukakan bahwa negara lahir justru dari tangan para penyair. Untuk bangsa-bangsa pada umumnya, ungkapan tersebut benar secara metaforis. Namun, bagi bangsa-bangsa terjajah, khususnya Indonesia, pernyataan Iqbal bahkan benar secara faktual. Kelahiran sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari gejolak sosial-politik pada masa-masa berseminya gagasan tentang lahirnya negara Indonesia di awal abad ke-20.

Konsep Indonesia sebagai sebuah negara-baru dicanangkan lewat Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Bukankah Sumpah Pemuda —bertanah air dan berbangsa satu, yaitu Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia— adalah deklarasi politik dalam bentuk puisi? Bukankah rumusan itu pula yang menggelindingkan kesadaran bersama dalam kesatuan tanah air Indonesia; kesatuan bangsa Indonesia meski terdiri dari berbagai etnis, budaya, dan agama; dan kesadaran untuk menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan? Ya, Sumpah Pemuda —yang dikonsep oleh Muhammad Yamin— adalah puisi. Dengan demikian, Indonesia sebagai negara-baru sesungguhnya dideklarasikan lewat puisi.

Tentu saja perumusan konsep itu tidak datang seketika. Ada proses pemikiran yang terjadi sebelumnya. Dan proses itu bermula dari sebuah puisi yang berjudul “Tanah Air” (1920) karya Muhammad Yamin, di mana sang penyair mengemukakan konsepnya tentang tanah air yang mula-mula bersifat kedaerahan, hingga akhirnya sampai pada konsep Indonesia sebagai tanah air dalam puisi “Indonesia Tumpah Darahku” (1928), yang ditulis Yamin dua hari sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan. Hal itu menegaskan bahwa kesusastraan lahir dari kecamuk pemikiran, bukan dari bahasa berbunga-bunga, bukan pula dari sebuah khayalan yang tidak berpijak pada realitas. Perjalanan sastra Indonesia beriringan dengan perkembangan pemikiran tentang sebuah bangsa bernama Indonesia.

Sekali lagi, Indonesia lahir dari sebuah puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh kaum muda Indonesia, yakni Sumpah Pemuda. Tentu pada waktu itu, semua pernyataan dalam Sumpah Pemuda merupakan metafora, setidaknya masih imajinatif dan bukan kenyataan. Namun, dengan rumusan metaforis dan imajinatif itulah seluruh bangsa diajak untuk bersama-sama mengimajinasikan kemungkinan lahirnya sebuah bangsa dan tanah air baru: Indonesia. Berdasar pada Sumpah Pemuda itulah para sastrawan dari berbagai wilayah Nusantara menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia serta mangacu dan menggemakan satu tanah air dan bangsa yang sama: Indonesia. Lahirlah kemudian negara yang kita tinggali bersama ini. Setelah lahir dari puisi Sumpah Pemuda dan kemudian tumbuh lewat pewacanaan sastra, nasib bangsa Indonesia selanjutnya memang berada di tangan para politisi.

Di masa-masa awal nasionalisme Indonesia, hubungan politik dengan sastra sedemikian dekatnya. Saat Indonesia berada di bawah kolonialisme dan —sebagai akibatnya— pengaruh kerajaan dan/atau kesultanan di Indonesia mulai menurun, masyarakat tampak kehilangan acuan nilai. Pada saat itulah para sastrawan memainkan peranan baru, menawarkan nilai-nilai baru bagi kehidupan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar, antara lain menimbang ketegangan antara modernitas dan tradisi, menggali dan mendedahkan kegelisahan dan impian manusia Indonesia. Sejurus dengan itu, para sastrawan menarasikan lahirnya bangsa dan tanah air baru yang merdeka dari kolonialisme, dan hal itu mendorong terbitnya fajar nasionalisme Indonesia. Dalam konteks inilah, khususnya dari segi ide, hubungan para pendiri bangsa dengan para sastrawan sedemikian dekatnya, hubungan mana dibangun setidaknya atas dua hal penting. Pertama, para pendiri bangsa dan para sastrawan adalah kaum intelektual yang tentu saja berbasis pada keberaksaraan (literacy). Kedua, mereka diikat oleh kegelisahan dan impian yang sama, yakni lepas dari penjajahan.

Baik pemerintah kolonial Belanda maupun Jepang memahami dengan baik potensi dan peranan strategis kesusastraan bagi sebuah bangsa. Mereka juga menyadari bahaya kesusastraan bagi kelangsungan penjajahan. Itu sebabnya dengan sadar dan terprogram pemerintah kolonial Belanda mendirikan Komisi Bacaan Rakyat yang kemudian dikenal dengan nama Balai Pustaka, sementara pemerintah pendudukan Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayan). Keduanya bertugas untuk mengelola sekaligus mengawasi kehidupan sastra dan para sastrawan serta kesenian pada umumnya. Dengan ketat mereka mencoba menggunakan sastra sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai mereka kepada masyarakat jajahan demi kepentingan dan kelangsungan kolonialisme di Indonesia. Lebih dari itu, lewat Keimin Bunka Shidoso Jepang bahkan berupaya menyebarkan kesadaran akan kesatuan Asia Timur Raya di kalangan masyarakat Nusantara agar mendukung peperangan mereka melawan sekutu. Para sastrawan dan seniman pun dihimpun dan diberi fasilitas untuk mewujudkan agenda Jepang tersebut.

Namun, sastra dalam dirinya sendiri memiliki potensi memerdekakan manusia. Baik di bawah Balai Pustaka maupun Keimin Bunka Shidoso, boleh jadi para sastrawan berkarya sesuai dengan agenda yang dicanangkan kolonial. Namun pada kenyataannya, karya sastra ibarat permata dengan banyak faset. Karya sastra membuka beragam pintu dan jendela bagi kemungkinan-kemungkinan kesadaran yang tak sepenuhnya bisa dikontrol. Maka, meski ditekan dan diagendakan dengan ketat baik oleh Belanda maupun Jepang, karya sastra Indonesia mampu meloloskan diri dari berbagai tekanan, sekaligus membuka pintu dan jendela bagi kesadaran pembaca untuk membayangkan kemungkinan lain di luar kenyataan sebagai bangsa terjajah. Paling tidak untuk sebagian, adanya kesadaran akan kemungkinan-kemungkinan lain itulah yang membawa Indonesia pada semangat kemerdekaan. Demikianlah karya-karya Marah Rusli, Chairil Anwar, Idrus, Mochtar Lubis, Utuy Tatang Sontani, dan Pramoedya Ananta Toer —untuk menyebut sebagian— menyuarakan gairah revolusi kemerdekaan, sekaligus perasaan cemas, takut, dan tertekan bangsa Indonesia di zaman penjajahan, khususnya di zaman revolusi. Dikatakan dengan cara lain, kesusastraan Indonesia dengan cerdas meloloskan diri dari berbagai kontrol kolonial dan bahkan melakukan perlawanan terhadap kolonial itu sendiri, demi mewujudkan impian negara baru yang merdeka.

Peranan sastra(wan) dalam menumbuhkan perasaan cinta tanah air dan mengobarkan semangat perjuangan, baik di awal munculnya nasionalisme Indonesia maupun di masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, merupakan fakta yang sangat jelas. Sejak mula kesusastraan memainkan peranan penting dalam sejarah kebangsaan. Peranan ini, baik secara individual maupun kolektif melalui berbagai organisasi seni yang secara langsung mendukung perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, disambut baik dan dihargai sedemikian rupa khususnya oleh kaum intelektual dan tokoh-tokoh pergerakan. Dengan demikian, peranan kesusastraan bagi kehidupan masyarakat Indonesia dalam rentang sejarahnya yang panjang ditempatkan secara proporsional sesuai dengan arti dan kedudukan kesusastraan itu sendiri. Arti penting sastra khususnya secara politik masih disadari sampai penghujung Orde Lama. Tidaklah mengherankan kalau posisi sastra(wan) dan seni(man) ketika itu diperebutkan oleh kubu-kubu yang berseteru secara politik dan ideologi.

Pada masa kini, posisi kesusastraan sebenarnya tidak begitu berbeda dengan peranan yang telah dimainkannya baik di masa-masa terbitnya fajar nasionalisme maupun di masa pergerakan dan revolusi Indonesia. Namun, terdapat kecenderungan besar di Indonesia dewasa ini untuk mengabaikan hasil renungan, imajinasi, pemikiran, kiprah, dan peranan sastra(wan) Indonesia dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya secara umum. Selepas hiruk-pikuk sastra dan politik di penghujung Orde Lama, perlahan tapi pasti masyarakat menjauh dan/atau dijauhkan dari sastra. Kesusastraan tidak lagi diapresiasi secara wajar, meskipun ternyata tetap ditakuti dan diwaspadai secara politik. Penangkapan dan pemenjaraan sastrawan dan pelarangan buku sastra tetap terjadi. Dalam pada itu, masyarakat Indonesia yang belum beranjak dari kelisanan ke keberaksaraan dengan cepat memasuki era kelisanan kedua. Buku bacaan serta tradisi membaca, khususnya sastra, tidak dijadikan bagian penting dan mendasar dalam pendidikan Indonesia. Bahkan, tanpa banyak perdebatan, sastra telah digusur habis dalam Kurikulum 2013, yang merupakan antiklimaks dari penjauhan sastra dari masyarakat dan sebaliknya.

Dilihat dari banyak segi, Indonesia cenderung durhaka pada puisi sebagai ibu kandung yang telah melahirkannya, yakni Sumpah Pemuda. Menjauhkan sastra dari masyarakat Indonesia dan/atau sebaliknya adalah memisahkan ibu kandung dari anak kandungnya. Demikian juga sebaliknya, menjauhkan masyarakat dari sastra adalah memisahkan anak kandung dari ibu kandungnya. Jika kedurhakaan tersebut dibiarkan, apalagi terus berlanjut, maka dapat dipastikan bangsa Indonesia akan mengalami nasib sebagaimana lazimnya anak-anak durhaka.

Jika kepada masyarakat Indonesia belakangan ini ditanyakan siapakah tokoh Indonesia, bukan tidak mungkin yang segera terbayang adalah serombongan selebriti dan para politisi bermasalah. Mau bagaimana lagi, merekalah yang terus-menerus hadir dan tampil mengisi ruang pemberitaan media cetak dan terutama media elektronik. Para politisi, pejabat, dan aparat bermasalah mendapatkan porsi pemberitaan yang sangat besar. Demikian juga para pelawak, pemain sinetron, penyanyi pop maupun dangdut merupakan tokoh-tokoh utama dalam pemberitaan media massa Indonesia belakangan ini. Nyaris seluruh sepak terjang mereka diberitakan secara rinci setiap hari. Kisah asmara mereka (mulai dari diisukan pacaran, sedang pacaran, diisukan mau menikah, menikah, bertengkar, cerai, hampir rujuk, rujuk, berebut anak dan sebagainya) dengan rinci dan detail diberitakan, ditayangkan, bahkan dikomentari dan dibahas tuntas. Media massa menjadikan para selebriti ini tokoh-tokoh utama dalam pemberitaan, tak peduli mereka berprestasi atau tidak.

Jarang sekali bangsa Indonesia mendapat pemberitaan dan berkenalan dengan sosok-sosok yang benar-benar berprestasi dan mengabdikan dirinya di dunia ilmu pengetahuan, pemikiran, penelitian, sosial, budaya, dan kesusastraan. Para pemikir, intelektual, peneliti, penemu, dan sastrawan yang hebat tidaklah dikenal karena mereka tidak diberitakan. Demikian juga politisi, pejabat, dan aparat yang tidak bermasalah, yakni mereka yang jujur, bersih dan berprestasi, tidak jadi berita —dengan sedikit sekali pengecualian.

Sampai batas tertentu, fenomena yang sangat menonjol tersebut menunjukkan kecenderungan budaya dewasa ini untuk mengabaikan hasil-hasil kreatif di bidang pemikiran, renungan, imajinasi, dan berbagai sumbangan budaya dalam kehidupan masyarakat, termasuk kesusastraan. Padahal, sebagaimana telah dikemukakan, ketika negara dilanda kesusahan, sastra tampil memainkan peranan. Di masa penjajahan, saat kerajaan-kerajaan lama kehilangan pamornya, sastrawan tampil ke depan merenungkan visi dan arah serta menarasikan lahirnya bangsa. Setelah kemerdekaan, saat kehidupan bernegara goyah dan nyaris hilang arah, kembali para sastrawan bersuara lewat karya mereka hingga di antara mereka harus masuk penjara. Dan sastra terus ditulis, disingkirkan maupun dibaca. Para sastrawan tetap bersikeras menjaga nurani bangsa, meski sebagian besar sastrawan kini disingkirkan terutama oleh pasar dan industri ke ruang-ruang sunyi.

Kecenderungan budaya tersebut tentu saja berbahaya. Di antara bahaya itu adalah kemungkinan terjadinya kemandengan intelektual dan kecupetan imajinasi yang pada gilirannya akan menjerumuskan Indonesia ke dalam kehidupan budaya yang kerdil. Dalam konteks inilah bisa difahami bahwa di zaman kerajaan atau kesultanan yang maju dan beradab, sastrawan atau pujangga ditempatkan dalam posisi penting dan bermartabat, misalnya sebagai penasehat raja/sultan atau dijadikan guru spiritual. Para pujangga itulah yang melahirkan karya, baik mengenai kiprah dan keagungan raja untuk melegitimasi kebesaran dan kekuasaan raja maupun sebagai sumber inspirasi atau landasan etik masyarakat. Itu sebabnya para pujangga berada dalam pengayoman raja. Seluruh anggota keluarga pujangga tidak hanya mendapat perlakuan istimewa, tetapi juga dijamin kehidupan dan keselamatannya oleh kerajaan. Mereka diposisikan sebagai penasehat raja di bidang pendidikan, kebudayaan, dan agama.  Makin kecil peranan pujangga pada suatu kerajaan, makin mudah kerajaan itu menjadi lemah, goyah, dan dikalahkan penjajah. Makin kecil peranan pujangga, makin kecil pula peluang suatu bangsa untuk memperluas cakrawala imajinasinya dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kehidupan.

***
Peluncuran Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh
Sumber Copas : http://img.bisnis.com/posts/2014/01/04/195410/peluncuruan-buku-33-tokoh-sastra-indonesia-paling-berpengaruh.jpg

Didasarkan pada kegelisahan atas makin terpinggirkannya posisi dan peranan sastra yang sama sekali tidak patut bagi bangsa yang hendak beradab, maka kami 8 orang yang terdiri dari sastrawan, kritikus, akademisi, dan pengamat sastra —karena itu disebut Tim 8— mengambil prakarsa untuk memilih 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Demikianlah kami mendiskusikan dan kemudian memilih 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Sebagian dari mereka adalah nama-nama yang sangat dikenal, yaitu nama-nama yang berada di jalan raya sastra Indonesia; sebagian yang lain tidak begitu dikenal dan bahkan diabaikan dan dianggap berada di pinggir jalan raya sastra Indonesia itu sendiri namun sesungguhnya memiliki pengaruh atau dampak atas kehidupan masyarakat luas. Oleh sebab itu, pemilihan 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh ini tidak hanya menimbang nama-nama yang populer dan sering disebut-sebut dalam sastra Indonesia atau pemberitaan, melainkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan juga nama-nama yang cenderung diabaikan atau dipinggirkan namun sesungguhnya memainkan peranan penting dalam kehidupan sastra dan budaya. Dengan peranan penting yang mereka mainkan, tentu saja mereka berhak dan patut diperhitungkan dan ditempatkan di jalan raya sastra Indonesia.

Yang dimaksud dengan tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh adalah orang yang melalui karya sastranya, gagasannya, pemikirannya, kiprahnya, dan tindakannya memberikan pengaruh dan dampak cukup luas khususnya pada dinamika kehidupan sastra, dan umumnya pada dinamika kehidupan intelektual, sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia yang lebih luas. Di samping itu, tokoh sastra Indonesia di sini adalah warga Indonesia. Dari segi waktu, tokoh sastra yang dipertimbangkan adalah tokoh yang berkiprah dalam rentang masa sejak awal abad ke-20, yakni saat fajar kesadaran kebangsaan dan konsep nasionalisme Indonesia mulai menyingsing, sampai sekarang. Dengan demikian, tokoh-tokoh sastra Indonesia yang berasal dari negara lain tidak dipertimbangkan meskipun mereka memberikan pengaruh dan dampak besar dalam kehidupan sastra Indonesia, seperti Prof. Dr. A. Teeuw. Demikian juga sastrawan besar di masa sebelum abad ke-20 seperti Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Ranggawarsita, atau Haji Hasan Mustapa, misalnya, pun tidak dipertimbangkan.

Dengan menyebut tokoh sastra, maka ia bukan hanya sastrawan, melainkan mencakup pribadi-pribadi yang dengan satu dan lain cara memberikan pengaruh pada kehidupan sastra atau kebudayaan Indonesia secara umum. Peranan sastra dalam kebudayaan tidak hanya dimainkan oleh sastrawan, melainkan juga oleh akademisi, pemikir, kritikus, penggiat sastra, dan lain-lain. Meskipun peranan sastra dalam kebudayaan dimainkan terutama oleh karya sastra dan sastrawannya, bagaimanapun sektor-sektor lain di dunia sastra memainkan peranan yang tak kalah penting, seperti pemikiran, kritik, penerbitan, gerakan, lembaga, komunitas, berbagai kegiatan, dan lain sebagainya. Dalam konteks itu, sangat mungkin seorang sastrawan sebenarnya kurang berhasil —atau mungkin biasa saja— dalam capaian estetika karyanya, tetapi justru memicu kehebohan yang luas, menimbulkan kontroversi, mendorong munculnya semacam gerakan, dan menarik sejumlah pengikut, lantaran tindakan dan kiprahnya dalam membangun kesusastraan Indonesia. Demikian pula seorang sastrawan mungkin secara sadar mencoba melakukan pemberontakan terhadap konvensi sastra dan belakangan terbukti berhasil, sehingga corak karyanya menjadi konvensi baru dan membentuk (semacam) paradigma baru dalam perkembangan kesusastraan selanjutnya. Yang pertama-tama dipertimbangkan dari tokoh semacam ini bukan capaian estetikanya, melainkan dampak atau pengaruhnya yang luas.

Hal lain yang juga mendapat perhatian adalah situasi dan kondisi zaman, yakni bila, di mana, dalam hal apa, dan di kalangan mana tokoh sastra memainkan peranan dan memberikan dampak. Tentu saja tokoh sastra memberikan pengaruh pertama-tama dan terutama pada zamannya, dalam konteks situasi dan kondisi zamannya pula. Tingkat pengaruh dan dampak tokoh-tokoh tentu pula berbeda satu sama lain, sama halnya dengan seberapa jauh dan lama pengaruh masing-masing tokoh bagi zaman kemudian. Namun seberapa besar pengaruh seorang tokoh sastra bagaimanapun akan lebih mudah dilihat dan difahami dari situasi dan kondisi zamannya. Pengaruh seorang tokoh sastra bagi zaman dan generasi kemudian tentu saja menunjukkan daya pengaruh tokoh itu sendiri, sebagai pengaruh lanjutan dari pengaruh besar yang telah dimainkannya terutama pada zamannya sendiri. Dirumuskan dengan cara lain, yang menjadi perhatian utama di sini adalah seberapa besar pengaruh tokoh sastra pada zamannya sebagai respons tokoh itu sendiri atas situasi dan kondisi aktual zamannya. Adapun seberapa lama pengaruhnya dipertimbangkan lebih sebagai bukti bahwa sang tokoh tetap berpengaruh hingga masa-masa kemudian.

Jadi, siapakah tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh?

Melacak rekam jejak tokoh-tokoh sastra, menelusuri masa silam jauh ke belakang, dan menelisik alur perjalanan sejarah sastra Indonesia, menjadi langkah yang mutlak perlu. Dari situ jelas bahwa sastra Indonesia tidaklah datang begitu saja dari ruang kosong. Sastra Indonesia tidak diturunkan malaikat dari langit. Terjadi pengaruh timbal-balik antara sastra dan masyarakat yang melingkarinya. Ada tarik-menarik dan saling mempengaruhi antara sastrawan dan tokoh sastra sebagai anggota masyarakat di satu pihak dengan lingkungan yang mengelilinginya, kebudayaan yang melahirkannya, dan masyarakat yang menerima atau menolaknya di lain pihak. Di situ pengaruh tokoh sastra bagi masyarakat akan terlihat relatif mudah.  

Saat satu nama disebut, tentu ada dasar pemikirannya, ada alasan yang mendasarinya, dan ada pula pertimbangan atas peranan dan kiprah yang dimainkannya. Dalam kenyataannya, penyebutan satu nama memunculkan pula nama-nama lain yang kontribusinya tidak dapat diabaikan dalam peta perjalanan sastra Indonesia. Jadilah jawaban atas pertanyaan “siapakah tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh?” memunculkan begitu banyak nama. Tidak terhindarkan, tidak dapat diabaikan, bahkan tidak terbantahkan: nama-nama itu memang telah berbuat dan melakukan sesuatu yang fenomenal. Maka, setelah melakukan penelusuran lebih jauh ke belakang, melacak rekam jejak setiap tokoh sastra, dan menelisik alur perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, kemunculan nama-nama itu didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, karya dan/atau pemikiran sang tokoh. Yang di maksud di sini adalah karya sastra (puisi, cerpen, novel, dan drama) dan pemikiran sang tokoh, baik pemikiran itu dikemukakan dalam karya sastra  atau esai dan sejenisnya. Pertimbangan atas hal ini dapat dirumuskan dengan sejumlah pertanyaan: seberapa penting karya dan/atau pemikirannya? Apakah karya dan/atau pemikirannya memberikan inspirasi bagi sastrawan berikutnya? Apakah karya dan/atau pemikirannya berdampak luas, berskala nasional, sehingga melahirkan semacam gerakan, baik yang berkaitan dengan sastra, maupun dengan kehidupan sosial-budaya yang lebih luas? Apakah karya dan/atau pemikirannya membuka jalan bagi munculnya tema, gaya, dan pengucapan baru yang jejaknya dapat dikembalikan pada tokoh tersebut? Apakah karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam monumen, sehingga sulit bagi siapa pun untuk menghilangkannya dalam peta perjalanan sastra Indonesia? Apakah karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam pemicu lahirnya pemikiran tentang kebudayaan, kemasyarakatan, bahkan kebangsaan?

Kedua, kiprah dan kegiatan sang tokoh. Yang dimaksud di sini adalah berbagai tindakan dan kegiatan sang tokoh di bidang sastra dan budaya secara lebih luas. Pertimbangan atas hal ini dapat dirumuskan dengan sejumlah bertanyaan: seberapa penting kiprah dan kegiatannya? Apakah kiprah dan kegiatannya berdampak luas, sehingga mempengaruhi perkembangan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia? Apakah kiprah dan kegiatannya melahirkan semacam gerakan yang sama atau berbeda, yang berdampak pada kehidupan sastra dan kehidupan sosial-budaya? Apakah kiprah dan peranannya mendapat dukungan luas, sehingga membentuk semacam aliran atau komunitas, atau sebaliknya memunculkan penolakan luas, sehingga menciptakan semacam perlawanan yang cukup besar?

Ketiga, muara dari dua pertimbangan tersebut —yang dapat diperinci melalui sejumlah pertanyaan di atas— adalah sejauhmana pengaruh sang tokoh khususnya bagi kehidupan sastra, dan umumnya bagi kehidupan sosial, budaya, dan politik di tanah air. Melihat pengaruh sejumlah tokoh, segera tampak bahwa lingkup dan skala pengaruh mereka berbeda-beda, dari pengaruh yang relatif terbatas hingga pengaruh yang sangat luas. Beberapa tokoh berpengaruh sangat besar dan dia menempati posisi penting secara budaya di kawasan atau wilayah tertentu. Mereka memberikan dampak yang dalam bagi kehidupan masyarakat lokalnya. Sementara, beberapa tokoh lain memberikan dampak melampaui lingkup masyarakat lokal tertentu. Bahkan dapat dikatakan bahwa dalam berbagai cara dan bentuk mereka berpengaruh secara nasional.

Dalam memilih 33 tokoh paling berpengaruh, lingkup pengaruh merupakan bahan pertimbangan penting. Makin besar dan luas pengaruh seorang tokoh makin besar peluangnya untuk dipilih. Dalam kaitan ini, tidak tertutup kemungkinan pengaruh seorang tokoh pada awalnya mungkin bersifat lokal, namun tanpa tindakannya secara langsung lagi pengaruh tersebut dapat saja terus bergerak sehingga belakangan melampaui lingkup lokalnya. Jika ini terjadi, dia dipertimbangkan serius untuk dipilih sebagai tokoh sastra paling berpengaruh.

Khususnya berkaitan dengan karya sastra, yang dipertimbangkan adalah sastra “serius”, yang di sini dibedakan dengan sastra populer. Sastra populer sengaja tidak dipertimbangkan, sebab —di samping karena perbedaan “nilai” antara kedunya— sampai batas tertentu sastra populer bisa dipastikan berpengaruh terutama karena dukungan sangat besar dari dunia industri, media, dan pasar. Demikianlah misalnya novel-novel Marga T (misalnya Badai Pasti Berlalu), Eddy D. Iskandar (misalnya Gita Cinta dari SMA), Ike Soepomo (misalnya Kabut Sutra Ungu), Habiburrahman El Shirazy (misalnya Ayat-ayat Cinta), dan Andrea Hirata (misalnya Laskar Pelangi) tidak dipertimbangkan, meskipun sangat berpengaruh dan meledak di pasar.  

Dengan dasar pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan di atas, akhirnya Tim 8 menetapkan kriteria pemilihan 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Tokoh sastra dinilai layak masuk dalam 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh apabila sekurang-kurangnya memenuhi satu dari empat kriteria berikut:

  • Pengaruhnya berskala nasional, tidak hanya lokal. Mungkin saja pada awalnya pengaruh sang tokoh bergerak dalam komunitas yang relatif terbatas dan bersifat lokal. Tetapi dalam perkembangannya kemudian gerakan itu terus menggelinding, sehingga pengaruhnya menyebar ke berbagai daerah dan mencapai wilayah yang begitu luas.
  • Pengaruhnya relatif berkesinambungan, dalam arti tidak menjadi kehebohan temporal atau sezaman belaka. Pengaruhnya berdampak tidak hanya pada zamannya, tetapi terus bergerak melampaui zamannya, bahkan hingga beberapa dekade sesudahnya.
  • Dia menempati posisi kunci, penting dan menentukan. Dalam masyarakat atau komunitas sastra, kadangkala peranan seorang sastrawan atau tokoh sastra tidak begitu menonjol, lantaran pada masanya ada sastrawan atau tokoh lain yang lebih berwibawa. Tetapi, jika tokoh sastra yang pada mulanya kalah pamor tadi melakukan sesuatu, membuat gerakan kecil atau besar, dan kemudian ternyata menjadi wacana penting, dan terus berlanjut dan berkesinambungan, maka namanya layak dimasukkan ke dalam senarai tokoh ini.
  • Dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang, dan akhirnya menjadi semacam konvensi, fenomena, dan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.

Meskipun berbagai pertimbangan dan kriteria sudah ditetapkan, tetaplah tidak mudah memilih 33 nama. Masalahnya adalah bahwa mungkin saja seorang sastrawan tak diragukan lagi kedudukan pentingnya dalam sastra Indonesia karena karya-karyanya sangat berhasil dan meyakinkan secara estetis. Namun kenyataannya tidak semua tokoh sastra yang karyanya mencapai tingkat estetis sangat mengesankan memenuhi kriteria yang kami tetapkan, khususnya menyangkut lingkup pengaruhnya. Ternyata beberapa tokoh sastra(wan) sangat mengesankan dari segi karya namun, dalam pandangan kami, pengaruh dan dampaknya relatif terbatas secara sosial dan budaya. Sebaliknya, beberapa tokoh lain tidak mengesankan dari segi karya, bahkan sama sekali bukan sastrawan,  namun dilihat dari lingkup pengaruhnya di bidang sastra membuat mereka menempati posisi penting bahkan tak terbantahkan sebagai tokoh sastra paling berpengaruh.

Dalam diskusi memilih 33 tokoh, dari kalangan tokoh sastra yang dipandang meyakinkan dan mengesankan dilihat dari karya sastra mereka muncullah nama-nama seperti Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan KH, Umar Kayam, Mangunwijaya, Wing Kardjo, Budi Darma, Danarto, Saini KM, D. Zawawi Imron, dan Ahmad Tohari. Dari kalangan tokoh sastra yang menonjol pengaruh dan dampaknya muncullah nama-nama seperti Utuy Tatang Sontani, Asrul Sani, A Mustofa Bisri, Ratna Sarumpaet, Rida K Liamsi, Fredie Arsi, Seno Gumira Ajidarma, dan Wiji Tukul. Namun dengan berbagai pertimbangan setelah diskusi sengit, akhirnya diputuskan mereka tidak masuk dalam senarai 33 tokoh sastra paling berpengaruh. Sebagaimana dapat diduga, diskusi memilih 33 tokoh sastra berjalan dengan penuh perdebatan, dinamika dan persilangan argumentasi, sehingga beberapa tokoh terpilih secara mulus nyaris tanpa diskusi, sebagian yang lain terpilih setelah melewati diskusi yang cukup alot, dan sebagian yang lain lagi terpilih berdasarkan prinsip mayoritas setelah diskusi dan perdebatan seru.

Sudah barang tentu siapapun anggota Tim 8 —memenuhi kriteria atau tidak—sama sekali tidak dipertimbangkan untuk dinilai dan dimasukkan dalam tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh ini.

Tim 8 sepakat untuk mengurut 33 tokoh sastra berdasarkan tahun dan/atau tanggal kelahiran masing-masing tokoh. Demikian juga urutan tulisan demi tulisan dalam buku ini. Dengan demikian, urutan mereka sama sekali tidak menunjukkan skala pengaruh setiap tokoh dan sejenisnya. Buku ini memang tidak bertujuan untuk menunjukkan bahwa pengaruh seorang tokoh sastra lebih besar dibanding pengaruh tokoh-tokoh lainnya. Yang pasti, dalam pandangan kami mereka adalah tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Inilah 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh pilihan Tim 8:

  • Kwee Tek Hoay (1886-1952)
  • Marah Roesli (1889-1968)
  • Muhammad Yamin (1903-1962)
  • HAMKA (1908-1981)
  • Armijn Pane (1908-1970)
  • Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994)
  • Achdiat Karta Mihardja (6 Maret 1911-2010)
  • Amir Hamzah (20 Maret 1911-1946)
  • Trisno Sumardjo (1916-1969)
  • H.B. Jassin (1917-2000)
  • Idrus (1921-1979)
  • Mochtar Lubis (7 Maret 1922-2004)
  • Chairil Anwar (26 Juli 1922-1949)
  • Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)
  • Iwan Simatupang (1928-1970)
  • Ajip Rosidi (31 Januari 1935)
  • Taufiq Ismail (25 Juni 1935)
  • Rendra (7 November 1935-2009)
  • Nh. Dini (1936)
  • Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940)
  • Arief Budiman (3 Januari 1941)
  • Arifin C. Noer (10 Maret 1941-1995)
  • Sutardji Calzoum Bachri (24 Juni 1941)
  • Goenawan Mohamad (29 Juli 1941)
  • Putu Wijaya (1944)
  • Remy Sylado (1945)
  • Abdul Hadi W.M. (1946)
  • Emha Ainun Nadjib (1953)
  • Afrizal Malna (1957)
  • Denny JA (4 Januari 1963)
  • Wowok Hesti Prabowo (16 April 1963)
  • Ayu Utami (1969)
  • Helvy Tiana Rosa (1970).

***


Demikianlah 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh dalam perjalanan sastra Indonesia. Setelah 33 tokoh disepakati dan diputuskan, tugas Tim 8 selanjutnya adalah menulis tentang tokoh-tokoh tersebut. Setiap anggota Tim 8 pun memilih tokoh yang akan mereka tulis. Kami sepakat bahwa penulisan setiap tokoh dilakukan tidak secara bersama-sama, melainkan oleh masing-masing anggota Tim 8. Itu sebabnya, nama penulis diterakan pada setiap tulisan, dan gaya tulisan dibiarkan sesuai dengan gaya penulis masing-masing. Dengan demikian, setiap tulisan tentang tokoh dalam buku ini pada dasarnya menjadi tanggung jawab pribadi penulisnya. Tapi bagaimanapun, secara umum buku ini merupakan satu kesatuan dan menjadi tanggung jawab bersama Tim 8. 

***
Jamal D. Rahman, Bahrul Ulum A. Malik, Maman S. Mahayana, dan Sawali Tuhusetya


Lalu, apa pentingnya nama-nama itu ditempatkan sebagai tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh? Apa pentingnya kegiatan dan buku semacam ini?

Pertama, pemilihan 33 tokoh sastra ini dilakukan dengan semangat membangun kebudayaan Indonesia yang lebih bermartabat. Sebagai produk budaya, kehidupan sastra tentu saja dibangun oleh tokoh-tokoh sastra yang juga hidup dalam lingkungan kebudayaan Indonesia. Oleh karenanya, berbagai kiprah tokoh sastra tidak bisa tidak harus ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan untuk memajukan kebudayaan Indonesia itu sendiri, yakni untuk mencapai kebudayaan yang lebih bermartabat. Sejurus dengan itu, pemilihan 33 tokoh sastra ini kiranya memiliki arti penting dalam upaya menempatkan peranan sastra dalam memperjuangkan martabat kebudayaan Indonesia yang lebih tinggi.

Kedua, dalam hampir semua buku sejarah sastra Indonesia, sorotan utama kerap bertumpu pada data biografis pengarang berikut senarai karya-karyanya, dan kadang-kadang sedikit ulasan atas karyanya. Tidak sedikit mereka yang menulis beberapa puisi, lalu menerbitkannya sendiri dalam bentuk stensilan, fotokopian, atau cetakan atas biaya sendiri, masuk pula dalam buku-buku dimaksud. Begitu banyak nama yang tercantum di sana, tanpa uraian memadai tentang kiprah dan peranan sosial-budayanya. Sementara itu, dalam buku-buku leksikon sastra Indonesia, peristiwa-peristiwa penting hanya ditulis dalam satu-dua paragraf. Akibatnya, selain uraiannya terasa kering, ada hal penting yang terabaikan, yaitu konteks historis di mana tokoh sastra memainkan peranan sosial, politik, dan budayanya.

Berbeda dengan itu, pemilihan 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh ini menitikberatkan pada pengaruh dari kiprah, karya, dan gagasan yang dihasilkan tokoh sastra —sastrawan, kritikus, pemikir, ilmuwan, dan penggiat sastra. Dengan penitikberatan tersebut, tidak bisa tidak berbagai peristiwa di sekitar tokoh sastra digunakan sebagai landasan dan latar belakang, yang sebisa mungkin dapat melihat dan menjelaskan posisi sang tokoh, peranan yang dimaikannya, berikut pengaruh yang diberikannya. Di sinilah buku ini punya arti penting, yaitu dalam upaya menempatkan tokoh-tokoh sastra dalam peranan penting mereka bagi kehidupan budaya, sosial, politik, kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga, pemilihan 33 tokoh sastra ini mencoba menjawab pertanyaan atau keraguan masyarakat umum tentang peranan sastra dalam kehidupan. Secara agak khusus, ia juga mencoba meluruskan pandangan yang keliru bahwa kedudukan sastra hanyalah khayalan belaka, yang tak berkaitan dengan kehidupan konkret masyarakat. Semua tokoh yang dipilih di sini menunjukkan kiprah mereka —termasuk melalui karyanya— dalam kehidupan konkret. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki arti penting untuk mengungkapkan fakta sejarah yang terabaikan, yakni bahwa sastra Indonesia memainkan peranan penting dalam sejarah, mulai zaman pergerakan sampai zaman modern kini.

Keempat, mengingat yang dipertimbangkan di sini adalah peristiwa atau fenomena yang berkaitan dengan sastra Indonesia, di mana tokoh-tokoh sastra memainkan peranan di dalamnya atau bahkan ditimbulkan oleh kiprah mereka, maka kegiatan ini memiliki arti penting khususnya untuk melengkapi data, fakta, peristiwa, dan fenomena kesejarahan sastra berikut fakta historisnya. Seperti terlihat dari semua tulisan dalam buku ini, dalam berbagai peristiwa dan fenomena sosial, budaya, politik, dan sejarah, sastra memainkan peranan penting yang tak bisa diabaikan. Dengan demikian, buku ini dapat pula digunakan untuk melengkapi bahan pembelajaran sastra di sekolah. Pelajaran sejarah sastra di sekolah yang selalu berkutat pada nama pengarang dan karya-karyanya, dapat dilengkapi dengan penjelasan mengenai peristiwa atau fenomena penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, yang untuk sebagian adalah juga perjalanan sejarah Indonesia itu sendiri.

Kelima, kebanyakan sastrawan, sarjana dan peminat sastra Indonesia tentu mengenal cukup baik nama-nama tokoh sastra —khususnya dari kalangan sastrawan— terdahulu atau yang sezaman dengan mereka. Tetapi, tidak sedikit dari kalangan sastrawan, sarjana dan peminat sastra Indonesia yang hanya tahu tokoh-tokoh sastra dan karya-karyanya, namun kurang mengetahui kiprah dan peranan sosial-budaya-politik mereka. Jika di kalangan sastrawan dan pemerhati sastra saja terjadi hal seperti itu, bagaimana pula di kalangan masyarakat umum yang cuma tahu sastra secara sayup-sayup. Dengan buku ini setidaknya kami berharap agar para sastrawan, sarjana sastra, peminat sastra, guru sastra, dan masyarakat pada umumnya, lebih mudah melihat peranan dan pengaruh tokoh-tokoh sastra dalam kehidupan luas.

Dalam konteks itu semua, buku ini dilengkapi dengan indeks, sehingga pada dasarnya dapat digunakan sebagai sumber informasi bersifat ensiklopedis mengenai sejarah sastra Indonesia sejak awal abad ke-20.

***

Kami menyadari, bukan tak mungkin akan muncul sejumlah kritik, keberatan, dan bahkan penolakan terhadap pilihan kami atas 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh ini. Kegiatan sejenis ini memang cenderung polemis dan memancing kontroversi. Apalagi bila pandangan seseorang atau sekelompok orang didasarkan atas sudut pandang, perspektif, pertimbangan, dan kriteria yang berbeda. Suara apa pun sebagai tanggapan terhadap pendapat Tim 8 ini kiranya akan menyuburkan diskusi dan polemik yang akan menyehatkan tradisi intelektual kita. Perbedaan pandangan jelas memiliki arti penting khususnya untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan kita, sekaligus untuk mendewasakan sikap kita dalam menghadapi perbedaan.

Bagaimanapun, kegiatan dan buku ini merupakan upaya menawarkan sesuatu yang baru. Bukankah dalam sejarah kesusastraan Indonesia hal semacam ini belum pernah ada? Jadi, kegiatan ini merupakan rintisan yang semoga saja dapat memberikan inspirasi bagi berbagai pihak untuk melakukan hal sejenis, baik di bidang sastra maupun bidang-bidang lain seperti teater, film, seni rupa, musik, tari, dll. Demikianlah setidaknya kami berharap. []

Cisarua, 3 Maret 2013

Tim 8
Ketua
Jamal D. Rahman

Anggota
Acep Zamzam Noor
Agus R. Sarjono                                         
Ahmad Gaus                                              
Berthold Damshäuser                             
Joni Ariadinata                            
Maman S. Mahayana                             
Nenden Lilis Aisyah

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...