Senin, 27 Agustus 2012

MATINYA LELAKI DAN SEBATANG ROKOK


lelaki keparat itu terus saja menghisap abu
meski tak ada lagi putung yang tersisa

ia berjalan dalam gelap malam
menyusuri lorong jejak telapaknya sendiri
di bawah hujan ia tak bisa berkaca
meniup udara
 melukis awan hitam
tak sedikitpun ada yang jatuh

prahara jiwa gentayang mencari ruang tersakral
bangsat!! mati saja kau di tungku apiku
mendidih dalam cawan rindu gagakmu

di rimba aku menyesatkan diri
tanpa kompas atau isyarat matahari
terbakarlah kau wahai sebatang kenikmatan 
sesaat untuk selama


kau kira dengan menyiram kembang 
kau bisa memetik wanginya
hahaha. kau sama saja seperti kupu-kupu 
sesaat yang kan menjelma menjadi ulat 
menggerogoti dinding paru-paruku
dan perlahan kau mencabut nyawaku
mati barangkali itu yang kau mau



kaliwungu, 25 agustus 2012/ 10.45 wib

Rabu, 25 Juli 2012

Ada Apa Dengan Cinta

: Rako Prijanto

Puisi 1
Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur dan emosi
Bersatu dalam jubah terpautan
Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu
Maka apa terucap adalah sabda pendita ratu
Ahh.. diluar itu pasir diluar itu debu
Hanya angin meniup saja
Lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
Menari cuma kita yg tau
Jiwa ini tandu maka duduk saja
Maka akan kita bawa
Semua
Karena..
Kita..
Adalah..
SATU
Puisi 2
Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi… sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau dipasar
Bosan aku dengan penat
Enyah saja engkau pekat
Seperti berjelaga jika kusendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang ditembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai
Puisi 3
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja

Rabu, 18 Juli 2012

Lampu Temaram di Kamarku


malam telah menyusup
dalam sela-sela jiwaku
membuat kegelapan dalam ruangku
hitam semua hitam
dan aku tak mampu melihat wajahku sendiri

lampu temaram satu-satunya
kunyalakan pada kamar rahasiaku
kueja huruf demi huruf
kata yang menempel di dinding hatiku

oh sungguh keras kacaku berdebu
hingga tak kukenali lagi
sandi-sandi itu

lampu temaran di kamarku
warnanya kelabu

kendal, 2012
Bahrul Ulum A. Malik


(puisiku ini masuk dalam “antologi puisi dua bahasa, 200 penyair se-indonesia” yang diselenggarakan oleh poetry@minangkabauonline.com, dan diterbitkan  dibeberapa negara)

Selasa, 22 Mei 2012

14 Penyair Luncurkan “Dunia Tentang Batu”

Solo — Panggung Sastra Indonesia Antologi Puisi “Dongeng Tentang Batu” digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Surakarta, Kamis (22/3).
Dalam acara tersebut ditampilkan karya-karya  puisi yang dibawakan 14 penyair dari berbagai daerah, seperti Alfian Harfi, Asyari Muhammad, Bahrul Ulum A. Malik, Budiawan Dwi Santoso, Deska Setia Perdana, Gendut Pujianto, Habib A Abdullah, Ilham Akbar, J Batara Kawi, Khanif Ramadiani, Purnawan Andra, Syaiful Mustaqim, Widyanuri Tika Putra dan  Yudhie Dusone Yarcho.
Dalam acara yang rutin digelar sebulan sekali di TBJT  tersebut, juga ditandai dengan penerbitan  buku Antologi Puisi 13 “Dongeng Tentang Batu” yang merupakan kumpulan karya dari 14 penyair tersebut. Selain itu juga digelar diskusi sastra dengan menampilkan pembicara seperti Tjahjono Widijanto dan Raudal Tanjung Banoa, yang dimoderatori oleh Bandung Mawardi.
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, Pemrakarsa Panggung Sastra, Wijang Warek, dalam sambutannya mengatakan kegiatan  tersebut merupakan bentuk apresiasi Taman Budaya Jawa Tengah terhadap para sastrawan muda dalam dunia pengembangan karya sastra di Indonesia pada umumnya.
“Acara tersebut kami maksudkan untuk memberi wadah serta pengembangan apresiasi karya sastra.  Karya tersebut juga kami terbitkan dalam bentuk buku. Kami harapkan semua pihak bisa terlibat untuk mendorong dan memberikan akses kepada para penulis muda untuk mengekspresikan karyanya serta menambah khasanah karya sastra di Indonesia pada umumnya,” ungkapnya.

Jumat, 04 Mei 2012

Perdamaian dan Prasangka Cinta

Ambisi kekuasaan telah membutakan cinta. Semua dianggap musuh, lawan yang harus ditindas habis-habisan. Salah paham telah menjadi seteru terjadinya perselisihan dalam hidup bermasyarakat, prasangka meracuni sendi-sendi kehidupan.
Menengok film “The Terrorist” yang menceritakan seseorang yang dianggap teroris dan menjadi buronan yang harus dibunuh. Teroris di mata Barat identik dengan Islam -- yang selalu dicurigai geraknya. Menurut mereka teroris  adalah “bom waktu” yang siap meledak dimana dan kapan saja.  Semua hanya prasangka tanpa bukti!!
Pluralisme cinta adalah jalan penyelamatan diri. Ketika semua bisa memahami dan memaknai perbedaan, maka perdamaian akan selalu berpihak pada kita. Toleransi bermasyarakat dalam menghadapi perbedaan agama, keyakinan, dan kepercayaan harus kita junjung bersama, mustahil perdamaian ada tanpa adanya toleransi bersama.
Salam Gusdurian!!
   
[materi disampaikan saat Ngaji 17-an Gusdurian Kendal, 17 April 2012]

Rabu, 07 Maret 2012

BERANI

::.
kini aku harus BERANI melawan mata yang selalu menatap asing mataku. aku harus berani MELANGKAH ke depan -- paling depan atas sesuatu yang selama ini ku pendam dalam. aku harus PERCAYA bahwa dalam diri ini ada KEKUATAN SUPER yang bisa saja merobohkan tembok raksasa ataupun menghentikan debur ombak. kini aku harus BERANI SENDIRI tanpa basabasi. kuyakinkan AKU PASTI BISA meraih mimpi itu -- PASTI BISA -- PASTI -- PASTI!! ALLAHU AKBAR!!
::.

JEJAK HUJAN

jejakmu datang bersama hujan
sewaktu pagi menampakkan wujud pertama
tanpa wajah tanpa suara 
jejakmu lirih bertapa atas doa-doa
yang patah di ujung pisau waktu

jejakmu terbata mengeja
sandi-sandi kaca bening jendela rumahmu
tak ada rembulan tersenyum menyapa
hanya sesekali angin menggigil menyapa
jejakmu tak ku dengar lagi
setelah halilintar mengaumkan nada
cinta dan prahara warna

apakah kau tetap menyisakan tanya
pada bibir rintik yang sekali berdetik
dan jejakmu selalu datang bersama hujan
dan kau masih terus menari

::. kaliwungu, 4 maret 2012
bahrul ulum a. malik

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...