Rabu, 07 September 2016

APRESIASI SASTRA (ANAK)

PEMBAHASAN

A.   Definisi Apresiasi Sastra
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Inggris "apresiation" yang berarti penghargaan,penilaian,pengertian. Bentuk itu berasal dari kata kerja " ti appreciate" yang berarti menghargai, menilai,mengerti dalam bahasa indonesia menjadi mengapresiasi. Dengan demikian, yang dimaksud dengan apresiasi sastra adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra, baik yang berbentuk puisi maupun prosa atau suatu kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.
Untuk pengertian sastra anak, yaitu :
(1)  Sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.
(2)  Sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.   
Dengan demikian, sastra anak-anak dapat dikatakan bahwa suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, melainkan juga bentuk drama.

B.   Jenis Apresiasi Sastra
Sastra anak-anak terdiri atas:
(1)  Puisi
Secara etimologi istilah puisi berasal dari bahasa Yunani “poeima” = membuat atau “poeisis” = pembuatan. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “poem” atau “poetry”.
Merupakan pengungkapan gagasan dan perasaan dalam bentuk rangkaian bait. Apresiasi puisi dapat dilakukan dengan memadukannya dengan empat aspek keterampilan berbahasa, yakni: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Apresiasi puisi yang berkaitan dengan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan cara membaca, mendeklamasikan, menciptakan puisi, dan mendiskusikan tema, keindahan bahasa, serta hal-hal yang menarik dari puisi tersebut.
Seperti bentuk karya sastra lain, puisi mempunyai ciri-ciri khusus. Pada umumnya penyair mengungkapkan gagasan dalam kalimat yang relatif pendek-pendek serta padat, ditulis berderet-deret ke bawah (dalam bentuk bait-bait), dan tidak jarang menggunakan kata-kata/kalimat yang bersifat konotatif.
Struktur dan ragam puisi sebagai karya cipta kreatif jika dilihat dari ciri-cirinya terus mengalami perubahan zaman. Misal di masa lampau,penciptaan puisi harus memenuhi ketentuan jumlah baris, ketentuan rima dan persyaratan lain (Wirjosoedarmo:karangan terikat). Definisi tersebut tentu saja tidak tepat lagi untuk masa sekarang karena saat ini penyair sudah lebih bebas dan tidak harus tunduk pada persyaratan-persyaratan tertentu.
Menurut zamannya puisi dibagi dalam dua kategori :
1.    Puisi Lama,dengan ciri-ciri :
a.    Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
b.    Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
c.    Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
Yang termasuk puisi lama adalah :
a.    Mantra, adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
b.    Pantun, adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
c.    Karmina, adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
d.    Seloka, adalah pantun berkait.
e.    Gurindam, adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
f.     Syair, adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
g.    Talibun, adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
2.    Puisi Baru dengan ciri-ciri :
a.    bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah  baris, suku kata, maupun rima

Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:

a.     Balada, adalah puisi berisi kisah/cerita.
b.     Himne, adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
c.      Ode, adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
d.     Epigram, adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
e.     Romance, adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
f.       Elegi, adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
g.     Satire, adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

(2)  Prosa
Prosa ialah karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat oleh rima (bunyi yang berselang/berulang di dalam/akhir larik), irama, dan kemerduan bunyi (meliputi euphony/mengambarkan keriangan, cacophony/bernuansa ketertekanan batin, kebekuan dan kesedihan, onomatope/sugesti suara yang sebenarnya). Prosa jugapemaparan pemikiran dan perasaan melalui bentuk paragraf demi paragraf.
(3)  Drama
Merupakan pengemukaan gagasan dan perasan melalui bentuk dialog antara berbagai tokoh.

C.   Tahapan Apresiasi Sastra
Adapun tahapan dalam apresiasi sastra, adalah :
1.    Tingkat menggemari, yang ditandai oleh adanya rasa tertarik kepada buku-buku sastra serta keinginan membacanya dengan sungguh-sungguh, anak melakukan kegiatan kliping sastra secara rapi, atau membuat koleksi pustaka mini tentang karya sastra dari berbagai bentuk.
2.    Tingkat menikmati, yaitu mulai dapat menikmati cipta sastra karena mulai tumbuh pengertian, anak dapat merasakan nilai estetis saat membaca puisi anak-anak, atau mendengarakan deklamasi puisi/prosa anak-anak, atau menonton drama anak-anak.
3.    Tingkat mereaksi, yaitu mulai ada keinginan utuk menyatakan pendapat tentang cipta sastra yang dinikmati misalnya menulis sebuah resensi, atau berdebat dalam suatu diskusi sastra secara sederhana. Dalam tingkat ini juga termasuk keinginan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sastra.
4.    Tingkat produktif, yaitu mulai ikut menghasilkan ciptasastra di berbagai media masa seperti koran, majalah atau majalah dinding sekolah yang tersedia, baik dalam bentuk puisi, prosa atau drama (Wardani 1981)
5.    Tingkat penikmatan, misalnya menikmati pembacaan/deklamasi puisi,menonton drama, mendengarkan cerita.
6.    Tingkat penghargaan, misalnya memetik pesan positif dalam cerita, mengagumi suatu karya sastra, meresapkan nilai-nilai humanistik dalam jiwa; menghayati amanat yang terkandung dalam puisi yang dibacanya atau yang dideklamasikan.
7.    Tingkat pemahaman, misalnya mengemukakan berbagai pesan-pesan yang terkandung dalam karya sastra setelah menelaah atau menganalisis unsur instrinsik-ekstrinsiknya, baik karya puisi, prosa maupun drama anak-anak.
8.    Tingkat penghayatan, misalnya melakukan kegiatan mengubah bentuk karya sastra tertentu ke dalam bentuk karya lainnya (parafrase), misalnya mengubah puisi ke dalam bentuk prosa, mengubah prosa ke dalam bentuk drama, menafsirkan menemukan hakikat isi karya sastra dan argumentasinya secara tepat.
9.    Tingkat implikasi, misalnya mengamalkan isi sastra, mendayagunakan hasil apresiasi sastra untuk kepentingan peningkatan harkat kehidupan (Suparman dalam Tarigan 2000)

D.   Metode Apresiasi Sastra
 Metode apresiasi sastra terbagi dalam dua kategori :
  1. Apresiasi secara langsung : membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung.
  2. Apresiasi secara secara tidak langsung : dapat dilakukan semisal mempelajari teori sastra, membaca artikel yang berkaitan dengan kesastraan, memberikan penilaian, dan mempelajari sejarah tentang sastra.
  3. Apresiasi secara dokumentatif : Termasuk dalam kegiatan ini antara lain upaya mengumpulkan atau mengadakan koleksi tentang hasil-hasil karya sastrawan, mengumpulkan buku, artikel, atau pembahasan tentang sastra, khususnya prosa
  4. Apresiasi secara kreatif : Termasuk dalam kegiatan ini adalah melakukan upaya penciptaan prosa itu sendiri atau menulis tentang prosa.


E.   Tujuan dan Manfaat Apresiasi Sastra
Manfaat apresiasi sastra, diantaranya :
1.    melatih keempat keterampilan berbahasa, yaknimendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis
2.    menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb,
3.    membantu mengembangkan pribadi,
4.    membantu pembentukan watak,
5.    memberi kenyamanan,
6.    meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru(Wardani 1981)
Selain itu, manfaat lain dari apresiasi sastra, diantaranya :
1.    nilai personal
memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkanpandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional;
2.    Nilai pendidikan
Membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca, meningkatkan keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra (Huck 1987)
           
F.    Unsur-unsur Apresiasi Sastra
Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yaitu:
1.    Aspek kognitif sejalan pengertian, pengertian berkaitan dengan pemahaman tentang teori-teori dasar sastra, seperti pengertian puisi, unsur-unsur instrinsik prosa, dan lain-lain.
2.    Aspek emotif sejalan dengan kepekaan perasaan, kepekaan perasaan berkaitan dengan kemampuan menikmati dan menampilkan nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastra, seperti rasa senang tidak senang, berkenaan dengan cerita dan tokoh, perasaan terharu dan gembira berkenaan dengan nasib tokoh, persaan takut, kecewa, dan kagum berkenaan dengan gambaran peristiwa dalam cerita yangtergambar pada ekspresi wajah, gestur tubuh dan atau intonasi pada saat pembacaan karya sastra tertentu.
3.    Aspek evaluatif berkaitan dengan kepekaan pikiran kritis danpenghargaan yang positif :
a.      Penghargaan berkaitan dengan sikap pandang positif terhadap sastra bahwa sastra memiliki nilai-nilai positif yang bermanfaat bagi penjernihan batin, peningkatan harkat kehidupan individual-sosial.
b.      Kepekaan pikiran kritis berkaitan dengan kemampuanmemahami dan mengungkapkan sinstesis tentang makna atau nilai-nilai yang dikandung suatu karya sastra setelah mengadakan analisis yang teliti, saksama dan menyeluruh.
Apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatanbermain dengan sastra sehingga tumbuh pemahaman, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, kepekaan perasaan yang baik bagi anak terhadap karya sastra anak-anak.

G.   Ciri-ciri Apresiasi Sastra
Ciri pembelajaran apresiasi satra (anak) diantaranya :
1.    Ciri keterbacaan, meliputi :
a.    Bahasa yang digunakan dapat dipahami anak, artinya kosa kata yang digunakan dikenal oleh anak, susunan kalimatnya sederhana sehingga dapat dipahami oleh anak
b.    Pesan yang dikandung puisi dapat dibaca dan dipahami anak karena tidak bersifat diapan (tersembunyi) melainkan bersifat transparan atau eksplisit.
2.    Ciri kesesuaian
a.      Kesesuaian dengan kelompok usia anak, pada usia anak sekolah dasar menyukai puisi yang membicarakan kehidupan sehari-hari , petualangan, kehidupan keluarga yang nyata.
b.      Kesesuaian dengan lingkungan sekitar tempat anak berada. Artinya, anak yang berada di lingkungan sekitar pantai akan bersemangat jika puisi yang diberikan untuk dipelajari adalah puisi yang berbicara tentang pantai. Atau pada musim kemarau, puisi yang diajadikan bahan ajar adalah puisi yang berbicara tentang kemarau
Adapun ciri-ciri apresiasi sastra sesuai dengan jenisnya yaitu:
1.    Puisi
a.      isi sajak harus merupakan pengalaman dari dunia anak sesuai umur dan taraf perkembangan jiwa anak,
b.      sajak itu memiliki daya tarik terhadap anak,
c.      sajak itu harus memiliki keindahan lahiriah bahasa, misalnya irama yang hidup, tekanan kata yang nyata, permainan bunyi, dan lain-lain,
d.      perbendaharaan kata yang sesuai dengan dunia anak.
2.     Prosa
a.      Bahasa yang digunakan haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak.
b.      Isi ceritanya haruslah sesuai dengan tingkat usia
c.      latarnya dikenal anak, alurnya berbentuk maju dan tunggal, penokohannya dari kalangan anak dengan jumlah sekitar 3-4 orang, temanya tentang kehidupan sehari-hari, petualangan, olahraga, dan keluarga
3.    Drama
Drama anak-anak tidak jauh beda dengan cerita anak-anak, baik dari segi bahasanya, tema, pesannya. Yang berbeda adalah dari segi dialog yang sederhana dan jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan berbelit.


H.   Prinsip-prinsip Apresiasi Sastra
Pembelajaran apresiasi sastra meliputi pembelajaran apresiasi puisi, prosa, dan drama. Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
1.     Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa.
2.     Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa.
3.     Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra.
4.     Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.


I.      Penilaian Apresiasi Sastra

sumber copas : http://vhynjak.blogspot.co.id/2011/05/apresiasi-sastra-anak.html


Jumat, 24 Juni 2016

PENGUMUMAN CIPTA PUISI HAUL PRESIDEN SOEKARNO KE-46 | 21 JUNI 2016




"PERPUSTAKAAN MINI LANGIT KENDAL"



"PRESIDEN SOEKARNO SEDANG MEMBACA"



PERPUSTAKAAN MINI LANGIT KENDAL 
LOMBA CIPTA PUISI HAUL PRESIDEN SOEKARNO KE-46
KALIWUNGU KENDAL, 21 JUNI 2016


Puisi Karya Sami’an Adib

Kami Tidak Lupa
                        :bung karno

Bung!
Katamu jangan sekali-kali melupakan sejarah

Tidak!
Kami tidak pernah lupa
ketika engkau pancangkan pilar-pilar penyangga
rumah besar kita
:Pancasila

Masih terngiang gema pekik merdeka
dari serambi sejarah negeri terluka
yang membuat kami bersuka dalam satu rasa

tak ada yang terlewat dari serak riwayat
semua terangkum sempurna menjadi mosaik kenangan
untuk terus kami rawat sebagai jembatan ke gemilang masa depan

sekali lagi, tidak!
kami tidak akan pernah lupa
walau layar bahtera kami telak koyak
tersayat badik perompak yang pura-pura berjihad
tertebas pedang para pemangku negeri saat berebut suara rakyat

Jember, 21 Juni 2016


Sebait Puisi di Kelopak Kamboja
                        :di pusara bung karno

ziarah ini sebatas cemas
menunggu luruh diksi sebelum ranggas
dari kelopak-kelopak kamboja di atas pusara

ziarah ini semacam doa
duduk bersila merangkai sila
dari lima menjadi satu cita:
damai dalam bingkai Bhinneka Tunggak Ika

engkau memang telah lama mati
tapi gelombang rindu terus menderu
dalam orkestra terindah di panggung jiwa

Jember, 2016

***
Biografi Singkat:
Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013),  Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi (Disbudparpora Kota Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), dan lain-lain. Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember, bergiat juga di Forum Sastra Pendalungan.
Saat ini tinggal di Jl. Imam Bonjol Gg. KUA 38, Lingk. Villa Tegal Besar, Jember, 68132. Email : samianadib@ymail.com. Contact  Person : 081336453539. FB: Sami’an Adib 

Kamis, 02 Juni 2016

NASIHAT RAMADAN BUAT A. MUSTOFA BISRI

Gus Mus
Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan
Ramadlan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi
atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang
menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya
untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya
kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu
serahkanlah semata-mata padaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah
untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri
untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu.
Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.
Berpuasalah.
Suci
kan
dirimu.

Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang
mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu
atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan
sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu
hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu
untuk memuasi Ridla
Puasakan tanganmu
untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu
untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu
untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu
untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu
untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu
untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu
untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu
untuk menekan Sujud
Puasakan kakkmu
untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu
untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu
untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu
untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu
untuk menghayati Hidup.

Tidak.
Puasakan
hasratmu
hanya untuk Hadlirat
Nya
!

Mustofa,
Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian
keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari
comberan hatimu?
Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu
yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini
seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.

Rembang, Sya’ban 1413



***
Sumber Puisi : Album Sajak-sajak A. Mustofa Bisri, Halaman 417 - 419 | Ken Sawitri | MataAir Publishing Surabaya | Cetakan I, Agustus 2008 | Koleksi Perpustakaan Mini Langit Kendal

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...