Kamis, 02 Januari 2014

PUISI-PUISI YANG AKAN KUBACAKAN PADA 4 JANUARI 2014 DI KEDAI SANUTOKE (EKO TUNAS) BANYUMANIK SEMARANG

SURGA JAHANAM
 
bagiku surga adalah jahanam yang terdalam dalam perut di mana nabi-nabi  menyitir ayat tentang tuhan-tuhan yang kelelahan menyusun tangga langit dengan api pemanah burung gagak hingga rintik hujan pada malam hari bergemuruh mengelilingi batu hitam yang bukan hajaraswad

ketika nabi bukanlah kiblat semut dan doa
maka badai lautan siap menelan mentah-mentah yang ada di bumi tanpa sisa tulang. kuucap seribu mantra menyayikan nenekmoyang yang menyebut diri adam yang kehausan di padang arofah menitik airmata yang menjelma zam-zam yang tak terasa lagi sebagai air kehidupan

pada diri aku bertapa sepi selaksa bidadari yang berkali-kali kucuri selendang sutra di telaga ketika tarub tak bertanya ini milik siapa
kembali ke surga tak ada apa dan sesiapa. hanya fana yang diimingkan bagi pengharap keabadian fatamorgana. delima-delima telah dipetik hawa yang bernafsu dan bercinta dengan iblis yang membaptis diri ahli pertapa agung. dan memang benar adanya surga hanyalah rumah kosong yang menjebak dalam silau cahaya. dan kau bermantra surga

Langit Kendal, 29012013/ 21.47


PAMPLET UNDANGAN OLEH KELANA
MALAM DALAM SECANGKIR KEMATIAN

malam dalam secangkir kematian warnanya hitam seumpama gagak yang mengitari rumah-rumah suwung. begitulah angin selalu saja mengusiki jalan tak bertuan di lereng gunung. semua menunggu tentang ajal yang meminta nama pada daun, tak ada kuning tak hijau semua gugur. garis telapak tangan tak ada yang lurus, semua bercabang dan terpisah dari batas yang sama sekali bertanya diam angin yang mengepul pada cangkir hitam pahit tempat sesaji gendruwo.

malam tak selalu gelap di bawah purnama untuk ke sembilan kalinya. pohon dipuja dan ditebang lalu diletakkan di tengah jalan menghadang para pejalan yang menyembunyikan rahasia doa-doa. ini zaman atau orang-orang sudah gila. padahal secangkir kopi telah diaduk oleh kematian-kematian yang tak bertuan. di ujung gang sempit ia telah lama menunggu, dan ia mampu mewujud hewan pun tetumbuhan. dan kau mendadak menjadi pelupa bahwa semua memang telah direncana.

malam dalam secangkir kematian telah lama kau ketahui sejak sebelum kau terlahir sebagai angsa. lalu kau hidangkan racun hingga darah dan airmata beku dalam kulkas. mendidih di atas tungku keabadian. lalu dengan melayang kau putuskan benang putih hitam `kan kau tangkap sebelum matahari mendahului menyembunyikan awan dan memata. secangkir kematian telah kau persiapakan, entah kau mamah entah kau telan mentah-mentah.

Langit Kendal, 05102013/ 23.38



ANJING NABI

barangkali hidup adalah jarum yang berdetak dalam dinding kamar menunjuk angka-angka yang paling tepat di matanya. tak perlu menunggu ataupun ditunggu, sebab semua akan tiba dengan sendirinya. semua angka tertawa mengejek tentang doa penganggur yang meminta terkabul di jalanan tempat bangjo berlarian. sembunyi ketika para pengaman itu pun berlarian mengejar angin dini hari.

sedang mati adalah terompet tahun baru bagi musafir yang kelelahan menahan dahaga di sahara. fatamorgana yang ada mengiming nafsu dan sesaat.
matahari menjadi awan tidur di pelapung perenang yang takut tenggelam pada laut yang tak pernah menyembunyikan rahasia di balik cadar malam. pun ketika semua terbangun menawarkan mimpi yang tak pernah selesai bersenggama pada daun ranum. ya, sebab cinta telah menyembunyikan rindu bidadari yang telah lama menunggu sepi. kecuali ada gairah yang mampu melarikan diri dari goa tempat ashabul kahfi mengamankan diri bersama qitmir anjing nabi.
hidup dan mati adalah rahasia yang tersembunyi di kelopak mataNya.

Langit Kendal, 10022013/ 08.45


AKU MENGIKTIKAFI DIRIKU SENDIRI

aku beriktikaf dalam masjid yang sunyi
dan bertapa mengitari jasadku sendiri
di antara tumpukan makhluk kerdil
yang menyebut-nyebut ha hi hu ha hi hu
pada sebuah nama di pojok kamar semediku

berharap mantra dan kemenyan mendatangkan ruh
yang telah berabad kesepian dalam rumah
tak ada bidadari ataupun anak-anak yang menghibur
kesendirian yang telah mengapi dan menggosongkan waktu
semua adalah doa yang tak sudah-sudah dirapal

aku mengiktikafkan diriku sendiri
pada kekosongan yang tak pernah kosong
merundukkan dan bertamu di setiap pertemuan
dua arus yang tak pernah saling ketemu
di bibir harapan dikibarkan setengah tiang

Langit Kendal, 20082013/ 01.13


KEPADA PINTU

kepada pintu ku ketuk dadamu
berharap kau membuka untukku
dan mempersilahkan aku masuk
duduk dan kau tawarkan padaku
segelas air bening dan ketela

kepada pintu ku ketuk adamu
bertamu malam-malam seperti yang pernah kulakukan
di bawah rembulan yang tepat di atas kepalaku
menjamu dengan segala kepasrahan
dan kau lagi-lagi mengerlingkan isyarat waktu

kepada pintu ku ketuk waktu
sebelum terkunci mengurung kesendirianku
pintu pintu tetaplah terbuka
sebelum tamu-tamu pamit pulang
menyampaikan salam dan membawa bekal

pintu perjalanan ini terlalu sunyi tanpa ketukanmu

Langit Kendal, 30072013/ 15.00


DEBU DALAM BOTOL ALMARI BAJU

aku curiga, jangan-jangan kau memang sengaja
memasukkan virus ke dalam botol almari
sehingga menyebar ke seluruh urat nadi
dan getarannya berhenti di satu titik debu

seperti ada yang berkelebat di depan pintu
tirainya bergelombang menyusupkan dingin saku baju
seperti kertas yang kau remas dan kau buang sembarang
tidak pada tempat sampah

barangkali semalam kau lupa mematikan sentir pada dinding gubuk
tempat kau sembunyi dari pengejaran angin yang menggigilkan nyali dan membekukan hati mestinya tidak kau lupakan sejarah awan yang tiba-tiba menjatuhka hujan di teras rumah
membasahi tenggorakan yang selama ini sepi

dan kau, lagi-lagi menjadi merpati dari sebuah kacu pesulap jalanan
terbang di sangkar dan tak pernah tekukur dengan kebebasanmu
padahal kau menjaga surga jahanam di keliling para penyamun yang selama ini mengharap telaga dari mata-mata rahasia

Langit Kendal, 20072013/ 05.25


BADUT-BADUT PENGGODA

badut-badut di pasar malam
menggoda untuk ditertawakannya
bersama arak yang tentu memabukkan
dan menghilangkan otak untuk sementara
atau selamanya

badut kecil meminta susu pada tetek yang bukan ibunya
menangis memuja dan membunuh dengan coreng di wajahnya
ia bertopeng dengan cat hasil mengelabui pencuri
yang diam-diam sembunyi di hati
menawarkan senggawa yang tak pernah sudah

badut-badut mengerlingkan mata
menyembunyikan doa-doa di lubang sumur tua
menggali jahanam dan membakar dirinya dengan tinja
bahkan setan yang terkutuk dirayu dan dipuja
tapi ia tetap tidur tenang
sambil sesekali mentertawakan badut-badut
yang mencoba mengejeknya

Langit Kendal, 13072013/ 23.11


DI RUMAHMU

di rumahmu
aku kehilangan nama
pada pintu yang tak pernah tertutup
dan membiarkan jendela selalu terbuka

aku kedinginan

di rumahmu
kursi telah rapuh
kau biarkan tetap pada tempatnya
tak pernah kau pindah sejak pertama
kau mendudukinya

di rumahmu aku sepi
sedang kau selalu memanggili
telinga yang tak pernah ada
pada daun menguning
mungkin tersumpali sumpah
yang tak pernah pada janjinya

di rumahmu suwung
ternyata aku keliru
menanyakan nama dan alamat
yang telah pindah berpuluh abad
aku mencari rumah sunyi
pada diriku sendiri
sepi

Langit Kendal, 30062013/ 10.15


SURAT YANG TAK PERNAH TERKIRIM
LANTARAN DOA TERSANGKUT DI CELANA


suratku tak pernah terkirim ke alamatmu
karena memang surat itu belumlah ku tulis
hanya ku batinkan harapan-harapan yang tak pasti kenyataan
di seberang lautan yang penuh ombak pun karang
suratku telah lama kering di bawah matahari
yang tak pernah sekali mampir di pelabuhan rembulan
menunggu dedaun lepas dari rantingnya
dan seorang tua menyapu dengan bungkuk badannya
entah beban ataukah ketawadhuan pada cahaya
yang sesekali menyilaukan mata hatinya

suratku tak pernah terkirim
lantaran cemara selalu menghalangi pandangan mataku
seperti mengisyarakan doa yang tersangkut pada ranting-ranting
sebuah pesan tak tersampaikan di rindu kembang pada kumbang
tentang cinta dan nestapi penyair yang tertidur bersama kopi yang tumpah
di bangku celananya

suratku salah alamat
dan tersangkut di ranting bintang
yang bermain mata dengan mata-mata
ah, rupanya pak pos telah mati tertabrak kereta
di seberang jalan yang tak pernah ku kenal pula
suratku tanpa tulisan dan balasan
surat yang memang hanya fatamaorgana
dan hanya ia yang mengerti yang mampu menerjemahkan
ketiadaan kata, kupanggili doa-doa

Langit Kendal, 26062013/ 23.45


SAKAU

menggigil seluruh wajahku di antara para pelayat waktu
yang tak henti-henti menafsiri mendung batinku
mengeja angka satu hingga seribu
arah kini selalu berbalik menjebak tujuan hari
dari alif hingga tak terkhatam yak

aku kini pesakitan yang merindu tamu
membawa kamboja kematian
lelayu pendakwah kamar mandi yang tak selesai
mengguyur tubuh penuh debu kaca jendela
yang tak pernah selesai disucikan

segalaku inginkan kematian yang tak sempat tertunda
oleh masa yang selalu berulang dan sama
pada hujan yang melebatkan sayapnya
aku harap menumbuhkan segala mantra yang terkunci
di sela lubang jarum yang tak sempat terselesaikan

aku sakau
pada engkau yang menunggu waktuku
serindu batu setawakal kalbu mencarimu

Langit Kendal, 22022013/ 23.00


TENTANG HUJAN

hujan adalah kenangan pada lembaran buku yang tak pernah dilipat pada saku celana orang gila. ia tak pernah sendiri mengusik dan memberi hangat pada tiap rintik yang patah pada kaca yang mulai tergores tinta eceran. datangnya melarutkan harapan yang telah direncanakan bocah yang setia menunggu di tungku dapur rumah seorang ibu. suaranya merdu menjamin kejernihan telinga yang mengadui selimut usang mungkin tak pernah dicuci dengan parfum pencuri di sebuah minimarket.

Langit Hujan, 16062013/ 23.53


SEBUAH KOTAK DENGAN OTAK
YANG MENAWARKAN HAHIHEHUHO

haha
hihi
huhu
hehe
hoho

haha
presiden tertawa
di bawah tiang bendera yang mulai robek

hihi
menteri asyik sendiri pergi ke luar negeri
studi banding membandingkan dirinya sendiri

huhu
DPR membuat undang-undang
agar perutnya tetap kenyang

hehe
rakyat menjadi gila
merasakan tingkah atasannya

hoho
pejabat negara sudah mempersiapkan
kotak amal untuk keluarga dan kroninya

haha
hihi
huhu
hehe
hoho

Langit Kendal, 15062013/ 22.17

  
SAJAK YANG DITINGGAL PENYAIRNYA

penyair kabur dari pelarian sajak
yang pernah ia tulis pada selembar kertas
tentang kalimat yang belum juga usai ia khatamakan
sengaja ia tinggalkan alif sendirian
pada tegak sembilanpuluh derajat
menantang matahari

penyair tak bertanggung jawab
atas kata yang ia selipkan mantra surga
tujuh kembang ia taruh pada
pojok-pojok sahwat lelaki yang samasekali
tak pernah bersetubuh dengan rembulan
ia kecewa atas astaga bidadari
sendiri mengucap janji yang sepi
ia kehilangan birahi

sajak terakhir ia tulis
pada daun yang telah kering
dengan tinta darah yang sengaja ia alirkan
dari hati dan nestapa
yang menggali kematian
pada dinding hijau yang penuh lumut

sajak masih menunggu
penyair menuliskan lagi
tentang kembang tujuh rupa
tujuh sumur dan tujuh mantra abatasa

Langit Kendal, 09062013/ 21.54


PUISI TELAH BANGKIT DARI KUBUR

puisi mati
dalam keadaan gentayangan
mencari penyair
yang mati penasaran

ya, sudah lama kabar itu tersiar
namun seolah-olah baru kemain saja
kabar itu terkabarkan
oleh angin oleh burung dan oleh gosip eceran

ada yang membunuh puisi
dengan kata-kata palsu
alamat palsu
juga penyair palsu

semua mati mendadak
ketika puisi dan penyair dikabarkan
mati di hutan belantara
entah siapa yang mampu menghidupkannya
lagi

ini gosip
yang mengada-ada
tak harus dipercaya

jangan tergesa bertanya pada tuhan
ya

Langit Kendal, 30052013/ 23.11


SEPASANG MATA DI LIDAHKU

sepasang mata yang menancap tajam
di lidahku, Kekasih
goresannya membentuk garis katulistiwa
membentang dari ujung sampai pedang

alifku luntur dibawa kabur angin
yang pernah singgah di celah batu hatiku
semua runtuh tak bertiang
rubuh menara paling tinggi
yang pernah ku bangun di sini
di niatku di hatiku

sepasang mata meludahiku
tepat di dahiku
“coba cari, darimana asalnya gerhana di hati?”

Langit Kendal, 25042008  

Selasa, 31 Desember 2013

REFLEKSI 2013



AKHIR TAHUN bukan berarti segalanya berakhir. lantaran sebab ada yang baru, tentang harapan yang masih tersangkut di langit, dan doa yang mesti dirapalkan kembali. pasti ada yang keliru ketika pertama mengucap niat. AKHIR TAHUN adalah kembali ke jalan yang semestinya kita tapaki. jalan yang panjang dan melelahkan bagi musyafir Cinta yang tak sudah-sudah meminta nyawa. AKHIR TAHUN menanggalkan keganjalan pada tubuh dan mengubahnya menjadi senyawa yang bersetubuh mesra, seumpama pengantin dan hujan yang kedinginan. AKHIR TAHUN masih ada harapan dan semangat menjala kemungkinan-kemungkinan yang pasti kita dapatkan.
SELAMAT MENGAKHIRI HIDUP DAN MEMENANGKAN KEHIDUPAN YANG SEMESTINYA

Langit Kendal, 30122013/ 23.40

Selasa, 10 Desember 2013

ESTETIKA KESUFIAN “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” ABDUL HADI W.M.

oleh Puji Santosa (Catatan) pada 9 Maret 2011 pukul 19:16

1. Pendahuluan
            Abdul Hadi W.M. adalah salah seorang penyair yang telah menghasilkan beberapa kumpulan sajak, antara lain, Terlambat di Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1984). Salah satu sajak Abdul Hadi W.M. yang menarik dan kuat sehingga mengangkat dirinya sebagai penyair sufistik adalah sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Sajak ini dibuat oleh Abdul Hadi W.M. pada tahun 1976 yang dimuat dalam kumpulan sajak Tergantung Pada Angin (1977). Kemudian sajak tersebut dimuat kembali dalam kumpulan sajak Anak Laut Anak Angin (1984). Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut dipilih sebagai sampel dalam analisis sajak berdasarkan teori semiotika Riffaterre dalam memahami estetika kesufian.
            Model penelitian sajak dengan menggunakan metode analisis semiotika Riffaterre di Indonesia pernah diterapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo (1994) terhadap sajak "Dewa Telah Mati" karya Subagio Sastrowardojo, dan Faruk Ht (1996) yang menganalisis sajak "Aku" karya Chairil Anwar. Oleh karena itu, pemilihan sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" sebagai sampel penelitian dengan menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre di dalam memahami estetika kesufian didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut.
  1. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" memberikan nuansa sufistik yang bersifat Islami yang harus dibaca dalam dua tataran semiotik.
  2. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" memiliki kekayaan referensi atau acuan sehingga membuat asyik menelusuri benang-benang tenunan maknanya.
  3. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" dipandang sebagai karya puncak Abdul Hadi W.M. dalam penghayatannya sebagai umat Islam yang religius, imanen, dan transendental dari dimensi estetika kesufian.
  4. Kajian sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" dengan menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan oleh orang lain sehingga mendorong penulis untuk mencoba menerapkan teori semiotika Riffaterre tersebut.

2. Kerangka Teori
            Kata semiotika dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa Inggris: semiotics, yang berasal dari bahasa Yunani: semeion, yang berarti: tanda (Teeuw, 1984:47). Nama lain semiotika adalah semiologi. Para penutur bahasa Inggris dan di lingkungan kebudayaan Amerika nama semiotika sudah menjadi istilah yang umum. Istilah semiotika ini menjadi populer berkat buah pemikiran seorang filsuf dan ahli logika Charles Sanders Peirce. Ia menyamakan pengertian semiotika dengan logika (van Zoest, 1993:1). Peirce mengembangkan semiotika dalam hubungannya dengan filsafat pragmatisme. Sedangkan di lingkungan kebudayaan Perancis dan para penutur bangsa Eropah yang lain, nama semiologi lebih dikenal dan dipahaminya. Hal ini berkat jasa baik "Bapak Semiotika Modern" (van Zoest, 1992: 1), Ferdinand de Saussure, yang berhasil meletakkan dasar-dasar semiologi kebahasaan dan psikologi sosial bagi perkembangan ilmu semiotika. 
            Dalam pertumbuhan selanjutnya, semiotika dikembangkan menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri, antara lain, Charles Morris, Roman Jakobson, Jonathan Culler, Roland Barthes, Umberto Eco, Jurij J. Lotman, dan Michael Riffaterre. Kemudian, teori semiotika yang akan diacu dalam analisis sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah teori semiotika yang dikembangkan oleh Michael Riffaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978). Ia menganggap bahwa puisi adalah sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa. Sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa, puisi berbicara mengenai sesuatu hal dengan maksud yang lain. Artinya, puisi berbicara secara tidak langsung sehingga bahasa yang digunakan pun berbeda dari bahasa sehari-hari. Laras bahasa puisi tersebut disebabkan oleh penggubahan (displacing) makna, penciptaan (creating) makna baru, dan perusakan (distorting) makna kebahasaan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu bersifat mimetik sehingga membangun arti (meaning) yang beraneka ragam dan menampakkan adanya keterpecahan atau ketakgramatikalan (ungramatikalitas). Sebaliknya, bahasa puisi itu bersifat semiotik sehingga membangun makna (significance) tunggal dan memusat.
            Sebagai wujud ekspresi kebahasaan, puisi hanya dapat dipahami maknanya apabila pembacanya mengusai konvensi bahasa. Pertama kali yang harus dimiliki pembaca adalah menguasai kode bahasa puisi yang dibacanya. Namun, pembacaan atas dasar konvensi bahasa itu, yang oleh Riffaterre disebut dengan pembacaan heuristik (1978: 5), tidaklah mencukupi untuk memahami makna yang sesungguhnya sebuah puisi. Dari pembacaan heuristik itu selanjutnya pembaca harus bergerak lebih jauh ke pembacaan hermeneutik (1978:6). Pembacaan hermeneutik ini mendasarkan pada konvensi sastra dan budaya. Artinya, dari pemahaman makna kebahasaan yang masih beraneka ragam dan menampakkan adanya keterpecahan (semiotika tataran pertama), pembaca puisi harus bergerak lebih jauh untuk memperoleh kesatuan makna puisi secara menyeluruh (semiotika tataran kedua). Gerak pembacaan puisi lebih jauh itu dimungkinkan karena pembaca didorong oleh adanya hambatan dalam pembacaan semiotika pada tataran yang pertama tersebut. Dalam pembacaan semiotika tataran pertama yang bertumpu pada tahap pembacaan heuristik itu banyak ditemukan arti yang beraneka ragam, keterpecahan makna, dan tampak berserak-serak tak beraturan atau ungramatikalitas (ketakgramatikalan). Itulah sebabnya pembacaan harus dilakukan dalam dua tataran.
            Selanjutnya, Riffaterre menjelaskan bahwa memahami puisi itu seperti sebuah donat. Sesuatu yang hadir secara tekstual adalah daging donatnya. Sedangkan sesuatu yang tidak hadir secara tekstual adalah ruang kosong berbentuk bundar yang berada di tengahnya dan sekaligus menopang dan membentuk daging donat menjadi donat. Adapun ruang kosong yang tidak hadir secara tekstual itu menentukan sebuah puisi menjadi puisi. Ruang kosong seperti itu oleh Riffaterre disebut sebagai hipogram. Hipogram ini oleh Riffaterre dibedakan atas dua jenis, yaitu hipogram potensial (yang terkandung dalam arti kias atau majas bahasa sehari-hari, seperti presoposisi dan sistem deskriptif) dan hipogram aktual (yang berupa teks-teks atau wacana yang sudah ada sebelumnya yang dapat menjadi referensi atau acuan puisi tersebut).
            Ruangan kosong berbentuk bundar yang berfungsi untuk menopang daging donat dan membuat donat menjadi donat itu sekaligus merupakan pusat makna dari sebuah puisi. Pusat makna seperti itu oleh Riffaterre disebut sebagai matriks. Seperti halnya hipogram, matriks ini tidak hadir dalam sebuah teks. Namun, aktualisasi dari matriks itu dapat hadir dalam sebuah teks yang berupa model. Model ini berupa kata atau kalimat tertentu yang bersifat puitis. Model (atau dapat disebut sebagai pola dasar yang pertama) itu selanjutnya diperluas pengertian dan konteksnya sehingga menurunkan teks puisi secara keseluruhan. Sebuah model dapat sebagai tanda (kata atau kalimat) yang benar-benar puitis apabila mengacu pada sebuah hipogram tertentu atau bersifat hipogramatik. Artinya, model itu akan sangat bersifat puitis sebagai sebuah tanda apabila memiliki kekayaan referensi. Oleh karena itu, kesatuan tekstual puisi yang diturunkan dari matriks dan dikembangkan dari model di atas, menurut Riffaterre, merupakan sebuah struktur yang seringkali terdiri dari satuan-satuan yang beroposisi secara berpasangan (oposisi biner atau binari). Hubungan antarsatuan itu seringkali juga merupakan hubungan ekuivalensi atau kesejajaran makna.

3. Pembacaan Heuristik
            Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik (tiruan alam) dan membangun serangkaian arti yang heterogen, berserak-serakan atau ungramatikalitas. Hal ini dapat terjadi karena hanya didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Agar lebih jelasnya, perhatikan sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" berikut.

                   Tuhan, Kita Begitu Dekat

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Sebagai api dengan panas
                   Aku panas dalam apimu

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Seperti kain dengan kapas
                   Aku kapas dalam kainmu

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Seperti angin dan arahnya
                   Kita begitu dekat

                   Dalam gelap
                   Kini aku nyala
                   Pada lampu padammu

                   (Abdul Hadi W.M., 1977, Tergantung Pada Angin)

            Judul sajak di atas, "Tuhan, Kita Begitu Dekat", sebagai indeks terhadap teks karena merupakan "nama" teks yang bersangkutan, dan dapat dipahami dari makna kebahasaannya sebagai berikut.
            Kata Tuhan berarti: sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai Yang Maha Kuasa atau Maha Perkasa. Kata Tuhan adalah sebutan untuk khalik atau Sang Pencipta sebagai pujaan atau sembahan manusia dalam bahasa Melayu (Indonesia). Dalam bahasa Inggris kita temukan padanan kata Tuhan adalah: god, Latin: Yehuah, Cina: Deo, dan Arab: Allah Ta'ala. Kata kita yang berarti: kata ganti untuk orang pertama jamak, bukan mereka atau aku dan engkau (sekalian). Kata kita tersebut membayangkan adanya manusia, entah lelaki atau perempuan, entah tua atau muda, yang lebih dari seorang. Kata begitu artinya: (1) seperti itu; demikian itu; (2) sangat; terlalu; (3) segera setelah. Kata dekat artinya: (1) pendek, tidak jauh (jarak atau antaranya); (2) hampir; (3) berhampiran (dengan); (4) akrab; melekat; intim; rapat (tentang hubungan dan lain sebagainya); dan (5) menjelang. Kalimat dalam judul sajak tersebut diulang kembali pada larik pertama dan kedua bait pertama, kedua, dan ketiga. Perulangan kalimat itu berfungsi sebagai penegas pengertian makna hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan.
            Sebagai api dengan panas merupakan perumpamaan hubungan antara Tuhan dengan kita (manusia). Kata sebagai merupakan alat metafora untuk memperbandingkan secara tidak langsung antara dua benda atau lebih. Kata sebagai itu berarti pula sama pengertiannya dengan kata seperti, semisal, seumpama, dan seibarat. Kata api berarti cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar atau nyala. Sedangkan kata dengan berarti lagi pula, serta, dan sekalian atau bersamaan. Kata panas berarti terasa seperti terbakar atau terasa dekat dengan api.
            Aku panas dalam apimu merupakan kalimat metafora yang dibangun dari kata-kata aku, panas, dalam, dan apimu. Kata aku berarti orang pertama tunggal. Secara memesis kata aku tersebut membayangakan adanya seseorang, entah lelaki atau perempuan, entah di mana, entah tua atau muda, dan entah kapan terjadi. Sebagai kata ganti atau sebutan orang pertama tunggal, kata aku jelas menunjukkan adanya manusia. Kata panas dan api artinya sudah diterangkan di muka. Kata dalam artinya di atau berada. Kata -mu sebagai kependekan dari kata kamu atau kata klitik yang menunjukkan kepunyaan atau kepemilikan.
            Kalimat pernyataan Seperti kain dengan kapas dibangun dari kata-kata: seperti, kain, dengan, dan kapas. Kata seperti sebagai alat perbandingan sama pengertiannya dengan kata: sebagai, semisal, seumpama, dan seibarat. Kata kain berarti barang yang ditenun dari bahan kapas, dan kata kapas berati serat berbulu putih yang dapat dipintal menjadi benang atau kain. Kata dengan, seperti diterangkan di muka, berarti lagi pula, serta, dan sekalian, atau bersamaan. Kalimat perumpamaan: “Seperti kain dengan kapas” membayangkan hubungan antara kain dan kapas sangat melekat atau menyatu.
            Aku kapas dalam kainmu merupakan pernyataan tokoh aku (manusia) yang secara metaforis membayangkan hubungan antara aku (manusia) dengan Tuhan yang diibaratkan sebagai hubungan antara kapas dalam kain yang melekat atau menyatu. Persatuan dari dua unsur yang telah menjadi satu itu tampaknya sulit untuk dipisahkan karena antarunsur sudah melebur menjadi satu kesatuan yang bersifat tunggal, utuh, dan terpadu.
            Seperti angin dan arahnya merupakan perumpamaan secara langsung antara angin dengan arahnya. Kata angin berarti udara yang bergerak atau hawa dari suatu cuaca. Kata arah berarti jurusan, tujuan atau maksud yang dituju. Kalimat itu membayangkan adanya angin yang digerakkan menuju pada suatu titik atau sasaran tertentu. Dalam bait ini terjadi perulangan kalimat "kita begitu dekat" yang berfungsi sebagai penegas maksud, yaitu kedekatan manusia dengan Tuhan.
            Kesan heterogenitas dan keterpecahan makna dalam pembacaan heuristik dalam sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut semakin kuat terlihat pada bait terakhir. Dalam gelap berarti berada di suatu tempat yang tidak ada cahayanya atau kelam. Frasa "dalam gelap" tersebut membayangkan seseorang yang berada di suatu tempat kelam, entah di mana dan kapan, yang tidak ada cahayanya. Tiba-tiba muncul kalimat "Kini aku nyala/ Pada lampu padammu" yang tidak diketahui hubungannya dengan frasa “dalam gelap”. Kata kini berarti waktu sekarang ini. Kata nyala berarti api yang hidup, berkobar-kobar, yang bercahaya dan panas. Kata pada berarti kepada, tertuju, atau terpusat. Sedangkan kata lampu berarti alat penerang, entah yang berasal dari neon listrik, entah petromak, entah lilin yang terbakar, entah obor, atau entah lampu minyak yang lain. Kata padam berarti mati, gelap, tidak ada cahaya.
            Kalimat: “Kini aku nyala pada lampu padammu” terasa ambigu dipahami secara harfiah. Kalimat tersebut dapat menjadi: “Kini/ aku nyala/ pada lampu/ padammu” atau “Kini aku/ nyala pada/ lampu padammu”. Dua cara pemahaman tersebut jelas menimbulkan arti ganda. Ada frasa “kini aku” dan mungkin pula ada frasa “aku nyala” yang keduanya memiliki pengertian berbeda. Kalimat itu jelas membayangkan adanya ketakgramatikalan susunan persyaratan kalimat bahasa Indonesia. Munculnya keterangan keadaan "dalam gelap" dan keterangan waktu "kini" yang secara tiba-tiba muncul menunjukkan adanya ketakgramatikalan. Munculnya keterangan tujuan "pada lampu padammu", siapa yang dituju atau dimaksudkan oleh-mu itu tidak jelas bentuk dan wujudnya, makhluk (manusia--aku, kita) atau Tuhan. Dan mengapa "lampu padammu"? Adakah Tuhan is the dead?

4. Pembacaan Hermeneutik
            Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh dan terpadu. Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari satu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks.

4.1 Hipogram Potensial
            Hipogram potensial adalah segala bentuk implikasi dari makna kebahasaan, yaitu yang berupa presuposisi dan makna konotatif yang sudah dianggap umum. Implikasi itu tidak dapat ditemukan dalam kamus, baik kamus ekabahasa maupun kamus dwibahasa, karena implikasi bukan berdasarkan pada arti denotatif kebahasaan. Implikasi itu sebenarnya telah ada pada pikiran penutur bahasa pada umumnya.
            "Tuhan, Kita Begitu Dekat" yang menjadi judul dari puisi di atas sebenarnya sudah mengimplikasikan adanya hubungan kedekatan antara Tuhan dengan manusia. Tuhan yang disapa oleh manusia dengan rasa kebersatuannya ditunjukkan dengan kata kita yang berarti aku dengan Engkau. Akunya adalah manusia sedangkan Engkau adalah Tuhan. Selain menujukkan adanya hubungan antara aku dengan Engkau, kata Kita juga menunjukkan adanya persamaan atau kebersatuan antara Aku dengan Engkau. Dalam dunia kebatinan Jawa hubungan, persamaan dan kebersatuan antara aku dengan Engkau, ditunjukkan dengan pandangan filsafat "Manunggaling kawula lan Gusti" (bertunggalnya hamba dengan Tuhan). Kesatuan ini harus dipandang sebagai wujud kesatuan spritual, bukan kesatuan harfiah antarunsur. Karena dalam dunia sufi atau kebatinan hubungan kedekatan antara aku dengan Engkau ditunjukkan dengan adanya paham wujudiyah, peleburan dua (atau lebih) bentuk atau sifat ke dalam satu kesatuan yang utuh (Hamzah Fansuri, Rumi, dan Syamsuddin Al-Sumatrani) atau disebut pula anna al-hak (Al Hallaj).
            Kalimat yang menjadi judul sajak itu juga menunjukkan adanya pernyataan atau kesaksiaan manusia atas keberadaannya dengan Tuhan. Sebagai manusia yang sudah memiliki derajat insan kamil, sudah sampai pada tahap makrifat, dapat menyaksikan kehadiran Tuhan yang berada di dekatnya. Kesaksian atas kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan merupakan pengalaman spritual seseorang dalam menghayati agamanya secara religius dan imanen. Seperti ungkapan yang sering kita jumpai sehari-hari: "Tuhan beserta kita". Ungkapan kalimat bijak itu berarti: di mana dan kapan pun kita berada di situ juga ada Tuhan. Jadi, ungkapan kalimat bijak itu secara jelas menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu menyertai kita di mana dan kapan pun kita berada.
            Secara spritual Tuhan dipahami oleh manusia sebagai Alif Lamm Miim (Hanya Tuhan yang mengetahui maksudnya, Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 1). Namun, para sufi memahaminya dalam empat hal, yaitu:
  1. Dzat, yang bukan berawal dan berakhir, bukan rupa, bukan warna, bukan wujud, bukan materi, keadaan yang tenang, tenteram, kasih, damai, dan bahagia;
  2. Sifat, sifat dinamis dari Tuhan yang maha bijakasana, maha berkehendak, maha berkuasa, maha adil, maha pengasih, dan maha penyayang;
  3. Asma, nama Tuhan yang baik-baik, seperti Allah Ta'ala, Yehuah, Deo, dan God; dan
  4. Afngal, pakartining karsa, terbabarnya kehendak, hadirnya nasib dan takdir baik dan buruk.
            Walaupun dzat, sifat, asma, dan afngal dapat dibedakan menurut pengertiannya, tetapi keempatnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Utomo, 1997:39). Dzat meliputi sifat, sifat menyertai asma, dan asma menandai afngal. Pemahaman tentang Tuhan yang demikian itu oleh manusia menjadi hidup yang dinamis.
            Kalimat: "Tuhan, kita begitu dekat" tersebut diulang kembali pada bait pertama, kedua, dan ketiga yang mengimplikasikan betapa pentingnya pewartaan ada hubungan kedekatan antara aku dengan Engkau itu. Selain untuk menjelaskan betapa penting hubungan antara aku dengan Engkau tersebut dilanggengkan (diabadikan) juga oleh  sebuah penegasan kembali bahwa kedekatan hubungan antara aku dengan Engkau sebagai paham bertunggalnya kehidupan manusia dengan Tuhan. Dalam filsafat Jawa diungkapkan: Urip iku siji, asale saka Gusti Allah, baline marang Allah. Asale saka Urip, baline marang Urip (Hidup itu satu, asalnya dari Tuhan dan kembalinya kepada Tuhan. Asalnya dari Hidup dan kembalinya kepada Hidup). Tuhan dalam filsafat Jawa ini diartikan sebagai Hidup Abadi (Urip Langgeng), tempat asal dan kembalinya hidup (sangkan paraning dumadi).
            "Sebagai api dengan panas" mengimplikasikan hubungan antara api dengan panas yang sulit untuk dipisahkan, menyatu atau saling melekat. Demikian pula kalimat "Aku panas dalam apimu" mengimplikasikan hubungan kedekatan antara unsur benda api yang dibandingkan dengan unsur benda panas, dan antara aku dengan -mu (Tuhan). Hubungan yang melekat dan menyatu antara api dengan panas sebagai metafora hubungan kedekataan antara Aku dengan Engkau (manusia dengan Tuhan). Hubungan kedekatan itu dapat dijelaskan dengan mengajukan pertanyaan: Bagaimana ada panas tanpa api? Jawabnya: Api dapat ada tanpa adanya panas, tetapi panas ada karena adanya api. Api merupakan unsur alam kedua setelah suasana, air, dan tanah. Di sini api merupakan unsur yang dominan dari unsur panas. Hal itu dikarenakan oleh keberadaan panas yang merupakan bagian dan sangat bergantung dari keberadaan api. Dengan metafora "Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu" dapat dipahami bahwa manusia merupakan bagian dari Tuhan, dan keberadaan manusia sangat bergantung pada keberadaan Tuhan. Dengan demikian keberadaan Tuhan itu sendiri tanpa bergantung pada keberadaan manusia. Tuhan merupakan causa prima (penyebab pertama dan utama) keberadaan manusia. Tuhan terlebih dahulu ada sebelum diciptakannya manusia.
            Demikian juga kalimat yang menyatakan "Seperti kain dengan kapas/Aku kapas dalam kainmu" dan "Seperti angin dan arahnya" juga mengimplikasikan kedekatan hubungan antara satu benda dengan benda lainnya yang menyatu dan sulit untuk dipisahkan. Kalimat-kalimat di atas sebagai metafora hubungan antara manusia dengan Tuhan yang menyatu (bertunggal) dan sulit untuk dipisahkan. Metafora di atas menunjukkan adanya paham kesatuan wujud (kebertunggalan). Keterjalinan hubungan antara manusia dengan Tuhan diibaratkan seperti hubungan antara api dengan panas, kain dengan kapas, dan angin dan arahnya.
            Untuk menjelaskan paham kesatuan wujud hubungan antara aku dengan Engkau yang dimetaforakan "Seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu" dapat diajukan pertanyaan: bagaimana kain dapat ada? Kain ada karena ada kapas yang dipintal (ditenun) menjadi kain. Kapas hanya merupakan unsur pembentuk kain. Keberadaan kain sangat bergantung pada keberadaan kapas yang dipintal menjadi kain. Kapas yang tidak dipintal tidak akan menjadi kain. Jika kapas diartikan sebagai metafora manusia, kain metafora kehidupan, dan Tuhan pemilik kehidupan. Jadi, metafora di atas diartikan bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan milik Tuhan, sebab tubuh atau badan manusia sebagai kendaraan Tuhan.
            Sementara itu, metafora di atas juga secara nyata menunjukkan jalan bagi manusia apabila manusia ingin meleburkan diri ke dalam unsur ketuhanan. Manusia harus dapat menghilangkan sifat-sifat yang melekat pada diri manusia sebagai syarat finalnya. Hal ini dianalogikan dari kapas yang melebur menjadi kain. Jika kapas ingin melebur menjadi kain, harus dihilangkan sifat kekapasannya. Sifat kekapasan menunjukkan sifat lahir manusia (badan wadag, jasmani), sedangkan kain menunjukkan sifat kerohaniahan manusia (jasmani halus, phisikis). Kain dan kapas juga sebagai simbol, sampai meninggal pun manusia tidak dapat meninggalkan kain (kafan) dan kapas sebagai pembungkus jenazah. Dalam pemahaman spritual ini kain dan kapas merupakan simbol kesatuan wujud antara manusia dengan Tuhan.
            "Seperti angin dan arahnya" mengimplikasikan hubungan dua unsur yang sulit untuk dipisahkan pula. Angin (dalam spritual Jawa dipahami sebagai wadag suasana atau bayu) merupakan unsur alam pertama selain api, air, dan tanah. Angin dan arah memang tidak dapat dipisahkan. Keberadaan angin karena digerakkan menuju ke suatu arah tertentu. Arah selalu mengikuti angin bergerak. Ke mana pun angin bertiup, ke situlah arah mengikutinya. Jawatan metereologi dan geofisika setiap hari memantau arah dan angin bertiup sebagai ramalan cuaca.
            Metafora di atas menjelaskan bahwa manusia dapat hidup karena digerakkan oleh dinamika hidup yang menuju (mengarah) kepada sumber hidup sejati. Di muka telah diterangkan bahwa Tuhan adalah hidup abadi, yang berarti pula menjadi dinamika hidup sejati, sumber hidup, yang menghidupi segenap makhluk, dan arah yang menjadi tujuan hidup manusia kembali kepada pemilik kehidupan. Dengan metafora ini secara jelas diterangkan bahwa Tuhan sebagai pemiliki, penggerak, yang menghidupi semua kehidupan, dan sumber hidup itu merupakan arah yang harus dituju manusia sesuai dengan petunjuk (arahan) Tuhan. Sesuai dengan firman Tuhan dalam Al Quran Surat Al Fatihah: Ihdinash shiraathal mustaqiim (Tunjukkanlah kami ke arah jalan yang benar) menjadi pedoman hidup manusia kembali kepada Tuhan.
            "Dalam gelap" mengimplikasikan suatu keadaan di mana manusia berada dalam situasi yang gelap, yang tidak ada cahayanya. Sebagai simbol, "dalam gelap", berarti: berada pada tataran atau level primitif. Artinya, manusia belum dapat menemukan jalan kebenaran sesuai dengan petunjuk (arahan) dari Tuhan. Atau dapat juga diartikan bahwa manusia belum memiliki kesadaran atas keberadaan Tuhan. "Kini aku nyala/Pada lampu padammu" mengimplikasikan setelah kehadiran nabi atau rasul sebagai Utusan Tuhan yang membawa agama wahyu, manusia telah menemukan pencerahan atau sinar terang menuju jalan kebenaran yang sesuai dengan petunjuk dari Tuhan. Agama wahyu yang dibawa oleh nabi atau rasul Tuhan itu mampu menyalakan rasa (yang dimiliki manusia) keimanan manusia terhadap Tuhan. Di sini berarti manusia telah menemukan kesadaran atas keberadaan Tuhan sehingga "Kini aku nyala/ pada lampu padammu" lebih berarti dan bermakna penemuan kembali iman manusia yang telah lama hilang.
            Keadaan gelap dan terang tersebut dapat diumpamakan sebuah lampu senter. Cahaya dari lampu senter memancar ke satu jurusan, yakni ke arah jalan kembali kepada Tuhan. Di belakang lampu senter tersebut keadaan gelapnya, dan di samping kiri kanan lampu senter itu setengah gelap. Cahaya lampu senter merupakan simbol keimanan dan kesadaran manusia atas keberadaan Tuhan setelah mendapatkan pencerahan dari Nabi dan Rasul. Di belakang dan kiri kanan lampu senter itu mirip dengan keadaan manusia dalam gelap atau tidak memiliki kesadaran atas keberadaan Tuhan yang senantiasa berada di dekatnya.
            Pernyataan-pernyataan dalam puisi "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut terdapat beberapa oposisi, yaitu oposisi antara "Tuhan" (Kau, -Mu) dengan  "manusia" (aku) atau "Khalik" dan "makhluk". Oposisi tersebut dimetaforakan dengan beberapa oposisi pula, yaitu oposisi antara api dengan panas, kain dengan kapas, angin dengan arahnya, dan gelap dengan lampu, serta nyala dengan padam. Hubungan antara Aku (manusia) dengan panas, kapas, angin, gelap, dan padam terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metaforis (kesebandingan). Hubungan antara Tuhan (Kau, -Mu) dengan api, kain, arah, lampu, dan nyala terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metaforis (kesebandingan). Sedangakn hubungan antara api dan panas, kapas dan kain, angin dan arah, gelap dan lampu, dan nyala dan padam terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metonimi (keterkaitan). Antara Tuhan dan Aku dipisahkan oleh sebuah jarak dan dihubungkan oleh "nyala" atau "cahaya". "Nyala" atau "cahaya" tersebut berupa rasa iman atau kerinduan pertemuan antara Aku dan Tuhan.
            Bentuk oposisi dalam sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. tersebut di atas dapat disederhanakan sebagai berikut.
                   Tuhan       >
                   Kau/-Mu   >
                   (Engkau)   >
                   Khalik       >
                   kain           >
                   api             >
                   arah           >
                   lampu        >
                   nyala         >

            Oposisi tersebut mampu menjelaskan di mana kedudukan, peran, dan fungsi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Manusia hanya berkedudukan sebagai makhluk yang berperan sebagai individu, seperti unsur kapas, panas, dan angin dalam situasi gelap karena padamnya lampu. Kedudukan Tuhan jelas sebagai khalik, Sang Pencipta Alam Semesta, yang berfungsi sebagai kain penyatu, api pencerahan, petunjuk arah jalan kebenaran dan kebajikan, lampu penerang kegelapan, dan nyala iman manusia yang telah lama padam. Dengan melihat kedudukan dan peran atau fungsi masing-masing itu hendaknya manusia mampu menempatkan dirinya di tengah-tengah semesta alam. Oleh sebab itu, Jalal Ad-din Rumi mengatakan bahwa manusia bukan hanya mikrokosmos melainkan juga makrokosmos (Kartanegara, 1986: 57). Sekalipun manusia itu kelihatannya muncul sebagai makhluk ciptaan Tuhan, namun sesungguhnya Tuhan itu mencipta demi kepentingan hidup manusia. Hubungan timbal-balik seperti itulah sebenarnya yang membangun hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Dengan jalan seperti itulah dapat kita rasakan betapa dekatnya hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta Alam Semesta, karena kita bagian dari alam dan alam merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia.

4.2 Model, Matriks, dan Hipogram Aktual
            Papaparan hipogram-hipogram potensial pada tahap pembacaan hermeneutik di atas telah berhasil mendapatkan kesatuan dunia imajiner sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Dalam sajak itu terbangun adanya citra kerinduan manusia terhadap Sang Khalik atau Tuhan. Seperti halnya manusia pengembara yang telah lama meninggalkan kampung halamannya. Pada suatu saat manusia pengembara itu rindu terhadap kampung halamannya, asal-mulanya dahulu. Demikian juga manusia, hidup di dunia ini merupakan pengembaraan setelah terusir dari kampung halamannya (surga, firdaus), seperti yang tersirat pada kisah Adam dan Hawa yang terusir dari surga (Hadi, 1999:193). Ia rindu pada surga yang menjanjikan suasana bahagia, tenang, damai, dan diliputi penuh kasih sayang. Kerinduan itu oleh Abdul Hadi W.M. diwujudkan dengan beberapa metafora yang menunjukkan kedekatan hubungan antara api dengan panas, kain dengan kapas, angin dengan arah, gelap dengan lampu, dan nyala dengan padam. "Nyala lampu" berfungsi sebagai simbol "pencerahan" wilayah "gelap". Secara signifikan "nyala lampu" merupakan personifikasi bernyalanya rasa keimanan manusia kepada Tuhan. Hubungan kedekatan antara manusia (aku) dengan Tuhan dapat terjalin erat yang didasarkan pada dimensi keimanan manusia kepada Tuhan. Hanya rasa keimananlah yang mampu mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.
            Bangunan imajiner sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. itu tentu belumlah sepenuhnya utuh sebagai satuan makna yang menjadi pusatnya. Hal ini disebabkan belum ditemukannya model dan matriksnya. Model merupakan aktualisasi pertama dari matriks. Aktualisasi pertama dari matriks ini berupa kata atau kalimat tertentu yang khas dan puitis. Kekhasan dan kepuitisan model itu mampu membedakan kata atau kalimat-kalimat lain dalam puisi tersebut. Eksistensi kata itu dikatakan puitis bila tanda itu bersifat hipogramatik dan karenanya monumental. Artinya, kata atau kalimat itu mengandung pancaran makna kata yang bersifat membias ke mana-mana.
            Ada dua tanda yang tampaknya monumental dalam sajak "Tuhan, kita begitu dekat", yaitu (1) judul sajak itu sendiri, "Tuhan, Kita Begitu Dekat", dan (2) kalimat terakhir dalam sajak itu, "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu". Kedua kalimat itu agak sulit dibedakan kekuatan puitisnya. Kedua-duanya bersandar pada dua wacana yang sama-sama kuatnya seperti dua sisi mata uang. Yang pertama bertolak dari wacana religius Islami ketauhidan, sufisme dan keagamaan ihwal pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, kalimat tersebut digunakan sebagai judul sajak yang memiliki nilai puitis yang bersifat hipogramatik dan monumental. "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah aktualisasi pertama dari matriks. Perulangan sebanyak tiga kali pada bait pertama, kedua, dan ketiga, secara tegas dan jelas menunjukkan betapa penting dan puitisnya kalimat tersebut.
            Selain hal di atas, model pertama kalimat puitis "Tuhan, Kita Begitu Dekat" menunjukkan hubungan kedekatan yang terasa intim antara manusia dengan Tuhan. Dari kalimat tersebut kemudian melahirkan kalimat-kalimat puitis yang lain, seperti "Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu", "Seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu", "Seperti angin dan arahnya/ Kita begitu dekat". Kalimat "Tuhan, Kita Begitu Dekat" menjadi muara atau tumpuan dari kalimat-kalimat puitis yang lainnya. Kalimat "Tuhan, Kita Begitu Dekat" juga mampu menggaungkan kembali wacana-wacana puitis yang telah terbangun sebelumnya. Untuk membuktikan hal ini maka akan ditelusuri pada kajian hipogram aktual.
            Model kedua berangkat dari wacana religius modern yang mengabarkan keimanan manusia yang menyala dengan terangnya setelah mendapatkan pencerahan atas petunjuk Tuhan melalui para nabi dan rasul. "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu" menyiratkan urutan perjalanan spritual manusia dari gelap menuju kepada terang. Gelap dan terang ini mengingatkan kita pada sajak Chairil Anwar "Lagu Siul I & II" yang sering dikutip sebagai sajak yang bernuansakan sufistik (Hadi, 1999:143--148). Mari kita perhatikan sajak Chairil Anwar yang telah menjadi obsesi Abdul Hadi berikut.

                   LAGU SIUL
                    I
                   Laron pada mati
                   Terbakar pada sumbu lampu
                   Aku juga menemu
                   Ajal dicerlang caya matamu
                   Heran! Ini badan yang selama berjaga
                   Habis hangus di apimu
                   'Ku kayak tidak tahu saja.

                   II
                   Aku kira
                   Beginilah nanti jadinya:
                   Kau kawin, beranak dan bahagia
                   Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

                   Dikutuk-sumpahi Eros
                   Aku merangkaki dinding buta
                   Tak satu juga pintu terbuka.

                   Jadi baik kita padami
                   Unggunan api ini
                   Karena Kau tidak akan apa-apa
                   Aku terpanggang tinggal rangka.

                                                28 November 1945

             Abdul Hadi W.M. benar-benar terobsesi secara kreatif oleh sajak Cahiril Anwar "Lagu Siul" sejak duduk di bangku SMP (Hadi, 1999:143), yakni jauh hari sebelum diciptakannya sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut. Dari hasil pembacaan sajak Chairil Anwar itulah sehingga muncul kalimat: "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu". Unsur-unsur yang terlihat jelas dari sajak Chairil dalam sajak Abdul Hadi itu adalah: (1) dari api tetap menjadi api, (2) dari sumbu lampu menjadi lampu, (3) dari padami yang diterjemahkan menjadi padammu, (4) dari unggunan api yang oleh Abdul Hadi diterjemahkan menjadi nyala, dan (5) dari laron pada mati terbakar, ajal cerlang, habis hangus, dan terpanggang tinggal rangka diterjemahkan menjadi dalam gelap. Meskipun tokoh Ahasveros dan Eros itu simbol religius agama Yahudi, bersumber pada Bibel, Kitab Ester, Abdul Hadi tidak mempersoalkan hal itu. Ia hanya mengangkat hakikat gelap dan terang serta nyala lampu pada sajak tersebut ke dalam pemahaman religius sajaknya. Dengan demitefikasinya itu Abdul Hadi mampu membuat sajak "Tuhan, kita begitu dekat" tersebut utuh terpahami sebagai dunia otonom, teks yang berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan tokoh mitologi agama Yahudi.
            Matriks yang menjadi "roh" dari puisi sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan. Semangat pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan itu terbangun dari ungkapan kalimat "Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu" yang ekuivalensi maknanya dengan kalimat "Dalam gelap/ Kini aku nyala/ Pada lampu padammu". Api, panas, lampu, dan nyala merupakan simbol penerangan dan sekaligus pembebasan jiwa yang terbelenggu oleh kegelapan. Hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang dimetaforakan dengan api, panas, lampu, dan nyala adalah semangat pencerahan keimanan sekaligus pembebasan jiwa yang terbelenggu oleh kegelapan dunia yang fana. Hanya dengan pencerahan keimanan dan pembebasan jiwa yang terbelenggu kegelapan itulah yang mampu mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.
            Hipogram aktual yang mampu menggaungkan wacana-wacana sebelumnya adalah pewartaan tentang hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan, "Tuhan, kita begitu dekat", pada masa dahulu telah diwartakan oleh para penyair sufi, seperti Al Hallaj, Ibn Arabi, Faridudin Attar, Jalal Ad-din Rumi, M. Iqbal, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan para suluk atau mistikus dari Jawa seperti Sunan Bonang, Syeh Sitti Jenar, Mangukunegoro IV, dan Ronggowarsito. Mereka semua mewartakan kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan dalam bingkai paham bertunggalnya hamba dan Tuhan.
            Sejumlah pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan dalam Al Quran terungkap dalam Surat 28: 88, "Kullu syai-in haalikun illaa wajhahuu", artinya: Segala-galanya hilang kecuali wajah Allah yang hidup kekal. Juga ada pula hadis nabi yang berbunyi: "Man'arafa nafsuhu faqad'arafa rabbahu", artinya: Barang siapa mengenal dirinya, dialah yang mengenal Tuhannya. Selain itu, juga terdapat sebuah ayat dalam Al Quran yang menyatakan secara tegas hubungan kedekatan antara manusia dan Tuhan, yaitu Surat 50/Qaaf : 16, yang berbunyi: "Nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid", artinya: Kami lebih dekat dengan manusia dari pada pembuluh darah yang ada di urat lehermu.
            Kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan juga ditulis oleh Dr. S. Radhakrishnan (terjemahan Iwan Nurdaya Djafar) sebagai berikut. "Kehadiran dari yang bersifat Tuhan telah dipahamkan dalam kata-kata yang berbeda. Kita mengatakan: Itu seni para nabi. Budha berkata bahwa setiap orang memiliki esensi pencahayaan. Jesus berkata bahwa kerajaan Tuhan ada dalam dirimu. Nabi Muhammad bersabda bahwa Tuhan lebih dekat untukmu dari pada urat nadi di lehermu. Terhadap semuanya ini orang menyetujui kehadiran satu elemen ketuhanan dalam diri manusia."
            Ungkapan khas para sufi dan para suluk dari Jawa adalah "Kalbu mukmin baitullah" artinya: di dalam hati orang yang beriman terdapat singgasana Tuhan. Hanya di dalam kalbu atau hati orang-orang yang beriman itulah singgasana Tuhan. Sebab hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat menemukan Tuhan di dalam hati sanubarinya. Dalam konsep mistikus Jawa tersebut, Tuhan diartikan sebagai Dzat yang inmateriil, tidak berunsur, tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat, dan hanya dapat dirasakan oleh kalbu. Cedhak tan sesenggolan adoh tan antara (dekat tidak bersentuhan, jauh tidak ada batasnya). Hanya mata hati yang suci yang mampu melihat kehadiran Dzat Tuhan, yang dalam bahasa sufi disebut al-insan al-kamil. Para sufi itu juga sering menggambarkan "Tuhan, kita begitu dekat" dengan metafora "Seperti bunga dengan harumnya, madu dengan lebahnya, dan sungai dengan alirannya" atau kadang pula dengan simbol laut seperti dalam syair "Laut Mahatinggi" Hamzah Fansuri (Hadi, 1995: 136--144). Salah satu bait dari syair karya Hamzah Fansuri tersebut berbunyi sebagai berikut.
                   Wujudmu itu jadikan mata
                   Matamu itu jadikan nyawa
                   Nyawamu itu lenyapkan sana
                   Pada laut yang maha bercahaya
                  (Fansuri dalam Hadi, 1995: 137)
 5. Simpulan
            Pembacaan sajak "Tuhan Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. dengan pendekatan semiotika yang dikembangkan Riffaterre membuahkan sebuah pemahaman makna secara total. Pada tahap pembacaan semiotika pertama (heurestik atau pada level kebahasaan) membuahkan sebuah heterogenitas yang ungramatikal, terkoyak-koyak dan tidak terpadu. Seolah-olah tidak ada kesinambungan antara baris demi baris atau bait demi bait dalam sajak tersebut. Akan tetapi, setelah diadakan pembacaan yang lebih jauh pada pembacaan semiotika tingkat kedua (hermeneutik) diperoleh sebuah makna yang padu tentang pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang dipandang dari dimensi estetika kesufian.
            Kalimat "Tuhan, kita begitu dekat" dalam sajak tersebut menjadi model pertama matriks yang mampu menggaungkan wacana-wacana yang ada sebelumnya. Dengan matriks pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan mampu merekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, baik secara imanen maupun secara transendental, dalam wacana estetika religius kesufian.
            Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. tersebut menunjukkan betapa kuat pengaruh dari puisi-puisi sufi, baik citraannya, pemakaian lambang, maupun metaforanya. Dalam sajak Abdul Hadi itu memberi gambaran upaya manusia untuk bertunggal dengan Tuhan, yakni suatu jalan kerohanian menuju kembali kepada Tuhan yang berangkat dari ajaran tauhid Islam. Karya semacam ini mencerminkan perenungan yang dalam dan keluasan berpikir serta wawasan yang jauh tentang semesta raya seisinya. Selain itu, tampak juga adanya upaya penyair mencari kebenaran yang memadukan antara zikir dan pikir secara sunggguh-sungguh dan maksimal. Pesan pembebasan dan pencerahan jiwa yang terbelenggu kegelapan menjadikan sajak itu semacam profetik (kenabian) dan apokaliptik (kewahyuan). Kegembiraan spritual dan kearifan dalam menyikapi kehidupan yang tercermin sajak itu menjadikan hidup senantiasa optimis, tanpa mengenal putus asa karena senantiasa bertakwa dan beriman.

sumber :

Senin, 09 Desember 2013

PUISI : LOMBA TANPA HADIAH, JUARA TANPA PIALA, 2 TAHUN PSK

(1) MERAHKAN NAMA-MU
(c)  Novi Nurul Fandilah

Waktu terus saja berdegup,
Aku masih memerahkan buku-buku yang kubaca, dengan namamu
Semenjak kata enggan menyemaikan betuk kalimat baru,
Namun, terus saja
Ku petak-petakan buku  yang sejak dulu bicara denganku itu
Tanpa saja ku sadari selalu ada namamu dalam setiap buku yang kubaca
Terkadang aku seperti  anak-anak yang kegiragan ketika mendapati mainan baru diatas mejanya.
Senyumnya simpul  dan pipinya meronakan merah padam
Itu waktuku, untuk mencintaimu

Gubuk KIAS
Jumat,11 Oktober 2013
16:10



BIODATA
Nama           :  Novi Nurul Fandilah
Alamat         :  Grendem Rt 02/02, Campurejo Boja
No hp           :  085740722542
Email            :  novi.nurul.fandilah@gmail.com
Study           :  IKIP PGRI Semarang, Pendidikan Bahasa Inggris

---

(2) JARI-JARIKU SEKETIKA BASAH

Jari-jariku seketika basah
meruapkan lekuk daun anggur tertimpa hujan
yang meniscaya lakumu
bahkan, untuk sekadar menghitung ruas jari
kita tidak mampu
barangkali aromanya sanggup mendatangkan seribu gigil
yang akan menguar hingga ke tubir matamu

Jari-jariku seketika basah
menumpahkan airmataku pada jari-jarimu.

Karanggeneng, Juni 2013


Biografi Singkat:

Nama           : Santi Almufaroh
Status          : Mahasiswa IKIP PGRI Semarang
                     Fak. Bahasa dan Seni
                     Progdi. Pendidikan Bahasa Inggris /
                     NPM: 09420118
TTL             : Jepara, 11 Mei 1991
Alamat         : Desa Kancilan Rt 04/ 01 Kembang, Jepara
No. Hp         : 085292375768
E-mail          : almufarohsanti@gmail.com
Blogspot       : santialmufarohblogspot.com
Facebook      : Almufaroh Santi (lavenderbludukayea)
Twitter         : @almufarohsanti
  Organisasi    : Pengelola Kajian Ilmu Apresiasi Sastra (KIAS) IKIP PGRI Semarang, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI).
Publikasi       : Beberapa tulisan pernah dimuat di Buletin Keris; Buletin Potret; Sekar Kampoeng, Tabloid Cempaka, Suara Kampus IKIP PGRI Semarang; Majalah Gradasi; Bilik Literasi, Majalah Papirus, Pawon, Republika, Suara Merdeka, Jateng Pos, dan tergabung dalam Antologi Cerpen Teater Semut dalam Gelar Budaya Tingkat Jawa Tengah “Tanda???”, Kendal, Antologi Cerpen “Perempuan Bersayap Di Kota Seba” IKIP PGRI Semarang, Antologi Cerpen “Dari Jendela yang Terbuka” IAIN Walisongo Semarang, Antologi Cerpen Taman Budaya Jawa Tengah “Tatapan Mata Boneka”, Solo, Antologi Puisi-Cerpen “Jejak Hujan” UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, Antologi Puisi ”Adalah Debu” UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, Antologi Puisi “UKORO GENI”  Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Anotologi Puisi “Dari Sragen Memandang Indonesia”,  Sragen, Anotologi Puisi “Indonesia dalam Titik 13”, Pekalongan, Antologi Esai Wacana 1  “Aksara”, Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Antologi Esai “Mengingat Guru” UKM  KIAS IKIP PGRI Semarang, Antologi Puisi “Merawat Ingatan Tragedi ‘98”, Balai  Soedjatmoko, Solo.
Prestasi    : Pernah Juara favorit LMCR Tingkat Nasional Kategori Mahasiswa dan Umum 2010, JakartaJuara 1 Tulis Opini LPM VOKAL IKIP PGRI Semarang, Juara 2 Lomba Tulis Puisi Spesial Ulang Tahun Buletin Keris, Juara 1 Tulis Puisi BEM FPBS IKIP PGRI Semarang, Juara 1 Lomba Tulis Resensi UPT Perpus IKIP PGRI Semarang, Juara 1 Lomba Penulisan Karya Sastra Cerpen PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) oleh BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012, juara harapan 1 penulisan cerpen pada PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) di Mataram, Lombok.

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...