Selasa, 10 Desember 2013

ESTETIKA KESUFIAN “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” ABDUL HADI W.M.

oleh Puji Santosa (Catatan) pada 9 Maret 2011 pukul 19:16

1. Pendahuluan
            Abdul Hadi W.M. adalah salah seorang penyair yang telah menghasilkan beberapa kumpulan sajak, antara lain, Terlambat di Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1984). Salah satu sajak Abdul Hadi W.M. yang menarik dan kuat sehingga mengangkat dirinya sebagai penyair sufistik adalah sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Sajak ini dibuat oleh Abdul Hadi W.M. pada tahun 1976 yang dimuat dalam kumpulan sajak Tergantung Pada Angin (1977). Kemudian sajak tersebut dimuat kembali dalam kumpulan sajak Anak Laut Anak Angin (1984). Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut dipilih sebagai sampel dalam analisis sajak berdasarkan teori semiotika Riffaterre dalam memahami estetika kesufian.
            Model penelitian sajak dengan menggunakan metode analisis semiotika Riffaterre di Indonesia pernah diterapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo (1994) terhadap sajak "Dewa Telah Mati" karya Subagio Sastrowardojo, dan Faruk Ht (1996) yang menganalisis sajak "Aku" karya Chairil Anwar. Oleh karena itu, pemilihan sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" sebagai sampel penelitian dengan menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre di dalam memahami estetika kesufian didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut.
  1. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" memberikan nuansa sufistik yang bersifat Islami yang harus dibaca dalam dua tataran semiotik.
  2. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" memiliki kekayaan referensi atau acuan sehingga membuat asyik menelusuri benang-benang tenunan maknanya.
  3. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" dipandang sebagai karya puncak Abdul Hadi W.M. dalam penghayatannya sebagai umat Islam yang religius, imanen, dan transendental dari dimensi estetika kesufian.
  4. Kajian sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" dengan menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan oleh orang lain sehingga mendorong penulis untuk mencoba menerapkan teori semiotika Riffaterre tersebut.

2. Kerangka Teori
            Kata semiotika dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa Inggris: semiotics, yang berasal dari bahasa Yunani: semeion, yang berarti: tanda (Teeuw, 1984:47). Nama lain semiotika adalah semiologi. Para penutur bahasa Inggris dan di lingkungan kebudayaan Amerika nama semiotika sudah menjadi istilah yang umum. Istilah semiotika ini menjadi populer berkat buah pemikiran seorang filsuf dan ahli logika Charles Sanders Peirce. Ia menyamakan pengertian semiotika dengan logika (van Zoest, 1993:1). Peirce mengembangkan semiotika dalam hubungannya dengan filsafat pragmatisme. Sedangkan di lingkungan kebudayaan Perancis dan para penutur bangsa Eropah yang lain, nama semiologi lebih dikenal dan dipahaminya. Hal ini berkat jasa baik "Bapak Semiotika Modern" (van Zoest, 1992: 1), Ferdinand de Saussure, yang berhasil meletakkan dasar-dasar semiologi kebahasaan dan psikologi sosial bagi perkembangan ilmu semiotika. 
            Dalam pertumbuhan selanjutnya, semiotika dikembangkan menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri, antara lain, Charles Morris, Roman Jakobson, Jonathan Culler, Roland Barthes, Umberto Eco, Jurij J. Lotman, dan Michael Riffaterre. Kemudian, teori semiotika yang akan diacu dalam analisis sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah teori semiotika yang dikembangkan oleh Michael Riffaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978). Ia menganggap bahwa puisi adalah sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa. Sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa, puisi berbicara mengenai sesuatu hal dengan maksud yang lain. Artinya, puisi berbicara secara tidak langsung sehingga bahasa yang digunakan pun berbeda dari bahasa sehari-hari. Laras bahasa puisi tersebut disebabkan oleh penggubahan (displacing) makna, penciptaan (creating) makna baru, dan perusakan (distorting) makna kebahasaan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu bersifat mimetik sehingga membangun arti (meaning) yang beraneka ragam dan menampakkan adanya keterpecahan atau ketakgramatikalan (ungramatikalitas). Sebaliknya, bahasa puisi itu bersifat semiotik sehingga membangun makna (significance) tunggal dan memusat.
            Sebagai wujud ekspresi kebahasaan, puisi hanya dapat dipahami maknanya apabila pembacanya mengusai konvensi bahasa. Pertama kali yang harus dimiliki pembaca adalah menguasai kode bahasa puisi yang dibacanya. Namun, pembacaan atas dasar konvensi bahasa itu, yang oleh Riffaterre disebut dengan pembacaan heuristik (1978: 5), tidaklah mencukupi untuk memahami makna yang sesungguhnya sebuah puisi. Dari pembacaan heuristik itu selanjutnya pembaca harus bergerak lebih jauh ke pembacaan hermeneutik (1978:6). Pembacaan hermeneutik ini mendasarkan pada konvensi sastra dan budaya. Artinya, dari pemahaman makna kebahasaan yang masih beraneka ragam dan menampakkan adanya keterpecahan (semiotika tataran pertama), pembaca puisi harus bergerak lebih jauh untuk memperoleh kesatuan makna puisi secara menyeluruh (semiotika tataran kedua). Gerak pembacaan puisi lebih jauh itu dimungkinkan karena pembaca didorong oleh adanya hambatan dalam pembacaan semiotika pada tataran yang pertama tersebut. Dalam pembacaan semiotika tataran pertama yang bertumpu pada tahap pembacaan heuristik itu banyak ditemukan arti yang beraneka ragam, keterpecahan makna, dan tampak berserak-serak tak beraturan atau ungramatikalitas (ketakgramatikalan). Itulah sebabnya pembacaan harus dilakukan dalam dua tataran.
            Selanjutnya, Riffaterre menjelaskan bahwa memahami puisi itu seperti sebuah donat. Sesuatu yang hadir secara tekstual adalah daging donatnya. Sedangkan sesuatu yang tidak hadir secara tekstual adalah ruang kosong berbentuk bundar yang berada di tengahnya dan sekaligus menopang dan membentuk daging donat menjadi donat. Adapun ruang kosong yang tidak hadir secara tekstual itu menentukan sebuah puisi menjadi puisi. Ruang kosong seperti itu oleh Riffaterre disebut sebagai hipogram. Hipogram ini oleh Riffaterre dibedakan atas dua jenis, yaitu hipogram potensial (yang terkandung dalam arti kias atau majas bahasa sehari-hari, seperti presoposisi dan sistem deskriptif) dan hipogram aktual (yang berupa teks-teks atau wacana yang sudah ada sebelumnya yang dapat menjadi referensi atau acuan puisi tersebut).
            Ruangan kosong berbentuk bundar yang berfungsi untuk menopang daging donat dan membuat donat menjadi donat itu sekaligus merupakan pusat makna dari sebuah puisi. Pusat makna seperti itu oleh Riffaterre disebut sebagai matriks. Seperti halnya hipogram, matriks ini tidak hadir dalam sebuah teks. Namun, aktualisasi dari matriks itu dapat hadir dalam sebuah teks yang berupa model. Model ini berupa kata atau kalimat tertentu yang bersifat puitis. Model (atau dapat disebut sebagai pola dasar yang pertama) itu selanjutnya diperluas pengertian dan konteksnya sehingga menurunkan teks puisi secara keseluruhan. Sebuah model dapat sebagai tanda (kata atau kalimat) yang benar-benar puitis apabila mengacu pada sebuah hipogram tertentu atau bersifat hipogramatik. Artinya, model itu akan sangat bersifat puitis sebagai sebuah tanda apabila memiliki kekayaan referensi. Oleh karena itu, kesatuan tekstual puisi yang diturunkan dari matriks dan dikembangkan dari model di atas, menurut Riffaterre, merupakan sebuah struktur yang seringkali terdiri dari satuan-satuan yang beroposisi secara berpasangan (oposisi biner atau binari). Hubungan antarsatuan itu seringkali juga merupakan hubungan ekuivalensi atau kesejajaran makna.

3. Pembacaan Heuristik
            Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik (tiruan alam) dan membangun serangkaian arti yang heterogen, berserak-serakan atau ungramatikalitas. Hal ini dapat terjadi karena hanya didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Agar lebih jelasnya, perhatikan sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" berikut.

                   Tuhan, Kita Begitu Dekat

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Sebagai api dengan panas
                   Aku panas dalam apimu

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Seperti kain dengan kapas
                   Aku kapas dalam kainmu

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Seperti angin dan arahnya
                   Kita begitu dekat

                   Dalam gelap
                   Kini aku nyala
                   Pada lampu padammu

                   (Abdul Hadi W.M., 1977, Tergantung Pada Angin)

            Judul sajak di atas, "Tuhan, Kita Begitu Dekat", sebagai indeks terhadap teks karena merupakan "nama" teks yang bersangkutan, dan dapat dipahami dari makna kebahasaannya sebagai berikut.
            Kata Tuhan berarti: sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai Yang Maha Kuasa atau Maha Perkasa. Kata Tuhan adalah sebutan untuk khalik atau Sang Pencipta sebagai pujaan atau sembahan manusia dalam bahasa Melayu (Indonesia). Dalam bahasa Inggris kita temukan padanan kata Tuhan adalah: god, Latin: Yehuah, Cina: Deo, dan Arab: Allah Ta'ala. Kata kita yang berarti: kata ganti untuk orang pertama jamak, bukan mereka atau aku dan engkau (sekalian). Kata kita tersebut membayangkan adanya manusia, entah lelaki atau perempuan, entah tua atau muda, yang lebih dari seorang. Kata begitu artinya: (1) seperti itu; demikian itu; (2) sangat; terlalu; (3) segera setelah. Kata dekat artinya: (1) pendek, tidak jauh (jarak atau antaranya); (2) hampir; (3) berhampiran (dengan); (4) akrab; melekat; intim; rapat (tentang hubungan dan lain sebagainya); dan (5) menjelang. Kalimat dalam judul sajak tersebut diulang kembali pada larik pertama dan kedua bait pertama, kedua, dan ketiga. Perulangan kalimat itu berfungsi sebagai penegas pengertian makna hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan.
            Sebagai api dengan panas merupakan perumpamaan hubungan antara Tuhan dengan kita (manusia). Kata sebagai merupakan alat metafora untuk memperbandingkan secara tidak langsung antara dua benda atau lebih. Kata sebagai itu berarti pula sama pengertiannya dengan kata seperti, semisal, seumpama, dan seibarat. Kata api berarti cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar atau nyala. Sedangkan kata dengan berarti lagi pula, serta, dan sekalian atau bersamaan. Kata panas berarti terasa seperti terbakar atau terasa dekat dengan api.
            Aku panas dalam apimu merupakan kalimat metafora yang dibangun dari kata-kata aku, panas, dalam, dan apimu. Kata aku berarti orang pertama tunggal. Secara memesis kata aku tersebut membayangakan adanya seseorang, entah lelaki atau perempuan, entah di mana, entah tua atau muda, dan entah kapan terjadi. Sebagai kata ganti atau sebutan orang pertama tunggal, kata aku jelas menunjukkan adanya manusia. Kata panas dan api artinya sudah diterangkan di muka. Kata dalam artinya di atau berada. Kata -mu sebagai kependekan dari kata kamu atau kata klitik yang menunjukkan kepunyaan atau kepemilikan.
            Kalimat pernyataan Seperti kain dengan kapas dibangun dari kata-kata: seperti, kain, dengan, dan kapas. Kata seperti sebagai alat perbandingan sama pengertiannya dengan kata: sebagai, semisal, seumpama, dan seibarat. Kata kain berarti barang yang ditenun dari bahan kapas, dan kata kapas berati serat berbulu putih yang dapat dipintal menjadi benang atau kain. Kata dengan, seperti diterangkan di muka, berarti lagi pula, serta, dan sekalian, atau bersamaan. Kalimat perumpamaan: “Seperti kain dengan kapas” membayangkan hubungan antara kain dan kapas sangat melekat atau menyatu.
            Aku kapas dalam kainmu merupakan pernyataan tokoh aku (manusia) yang secara metaforis membayangkan hubungan antara aku (manusia) dengan Tuhan yang diibaratkan sebagai hubungan antara kapas dalam kain yang melekat atau menyatu. Persatuan dari dua unsur yang telah menjadi satu itu tampaknya sulit untuk dipisahkan karena antarunsur sudah melebur menjadi satu kesatuan yang bersifat tunggal, utuh, dan terpadu.
            Seperti angin dan arahnya merupakan perumpamaan secara langsung antara angin dengan arahnya. Kata angin berarti udara yang bergerak atau hawa dari suatu cuaca. Kata arah berarti jurusan, tujuan atau maksud yang dituju. Kalimat itu membayangkan adanya angin yang digerakkan menuju pada suatu titik atau sasaran tertentu. Dalam bait ini terjadi perulangan kalimat "kita begitu dekat" yang berfungsi sebagai penegas maksud, yaitu kedekatan manusia dengan Tuhan.
            Kesan heterogenitas dan keterpecahan makna dalam pembacaan heuristik dalam sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut semakin kuat terlihat pada bait terakhir. Dalam gelap berarti berada di suatu tempat yang tidak ada cahayanya atau kelam. Frasa "dalam gelap" tersebut membayangkan seseorang yang berada di suatu tempat kelam, entah di mana dan kapan, yang tidak ada cahayanya. Tiba-tiba muncul kalimat "Kini aku nyala/ Pada lampu padammu" yang tidak diketahui hubungannya dengan frasa “dalam gelap”. Kata kini berarti waktu sekarang ini. Kata nyala berarti api yang hidup, berkobar-kobar, yang bercahaya dan panas. Kata pada berarti kepada, tertuju, atau terpusat. Sedangkan kata lampu berarti alat penerang, entah yang berasal dari neon listrik, entah petromak, entah lilin yang terbakar, entah obor, atau entah lampu minyak yang lain. Kata padam berarti mati, gelap, tidak ada cahaya.
            Kalimat: “Kini aku nyala pada lampu padammu” terasa ambigu dipahami secara harfiah. Kalimat tersebut dapat menjadi: “Kini/ aku nyala/ pada lampu/ padammu” atau “Kini aku/ nyala pada/ lampu padammu”. Dua cara pemahaman tersebut jelas menimbulkan arti ganda. Ada frasa “kini aku” dan mungkin pula ada frasa “aku nyala” yang keduanya memiliki pengertian berbeda. Kalimat itu jelas membayangkan adanya ketakgramatikalan susunan persyaratan kalimat bahasa Indonesia. Munculnya keterangan keadaan "dalam gelap" dan keterangan waktu "kini" yang secara tiba-tiba muncul menunjukkan adanya ketakgramatikalan. Munculnya keterangan tujuan "pada lampu padammu", siapa yang dituju atau dimaksudkan oleh-mu itu tidak jelas bentuk dan wujudnya, makhluk (manusia--aku, kita) atau Tuhan. Dan mengapa "lampu padammu"? Adakah Tuhan is the dead?

4. Pembacaan Hermeneutik
            Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh dan terpadu. Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari satu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks.

4.1 Hipogram Potensial
            Hipogram potensial adalah segala bentuk implikasi dari makna kebahasaan, yaitu yang berupa presuposisi dan makna konotatif yang sudah dianggap umum. Implikasi itu tidak dapat ditemukan dalam kamus, baik kamus ekabahasa maupun kamus dwibahasa, karena implikasi bukan berdasarkan pada arti denotatif kebahasaan. Implikasi itu sebenarnya telah ada pada pikiran penutur bahasa pada umumnya.
            "Tuhan, Kita Begitu Dekat" yang menjadi judul dari puisi di atas sebenarnya sudah mengimplikasikan adanya hubungan kedekatan antara Tuhan dengan manusia. Tuhan yang disapa oleh manusia dengan rasa kebersatuannya ditunjukkan dengan kata kita yang berarti aku dengan Engkau. Akunya adalah manusia sedangkan Engkau adalah Tuhan. Selain menujukkan adanya hubungan antara aku dengan Engkau, kata Kita juga menunjukkan adanya persamaan atau kebersatuan antara Aku dengan Engkau. Dalam dunia kebatinan Jawa hubungan, persamaan dan kebersatuan antara aku dengan Engkau, ditunjukkan dengan pandangan filsafat "Manunggaling kawula lan Gusti" (bertunggalnya hamba dengan Tuhan). Kesatuan ini harus dipandang sebagai wujud kesatuan spritual, bukan kesatuan harfiah antarunsur. Karena dalam dunia sufi atau kebatinan hubungan kedekatan antara aku dengan Engkau ditunjukkan dengan adanya paham wujudiyah, peleburan dua (atau lebih) bentuk atau sifat ke dalam satu kesatuan yang utuh (Hamzah Fansuri, Rumi, dan Syamsuddin Al-Sumatrani) atau disebut pula anna al-hak (Al Hallaj).
            Kalimat yang menjadi judul sajak itu juga menunjukkan adanya pernyataan atau kesaksiaan manusia atas keberadaannya dengan Tuhan. Sebagai manusia yang sudah memiliki derajat insan kamil, sudah sampai pada tahap makrifat, dapat menyaksikan kehadiran Tuhan yang berada di dekatnya. Kesaksian atas kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan merupakan pengalaman spritual seseorang dalam menghayati agamanya secara religius dan imanen. Seperti ungkapan yang sering kita jumpai sehari-hari: "Tuhan beserta kita". Ungkapan kalimat bijak itu berarti: di mana dan kapan pun kita berada di situ juga ada Tuhan. Jadi, ungkapan kalimat bijak itu secara jelas menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu menyertai kita di mana dan kapan pun kita berada.
            Secara spritual Tuhan dipahami oleh manusia sebagai Alif Lamm Miim (Hanya Tuhan yang mengetahui maksudnya, Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 1). Namun, para sufi memahaminya dalam empat hal, yaitu:
  1. Dzat, yang bukan berawal dan berakhir, bukan rupa, bukan warna, bukan wujud, bukan materi, keadaan yang tenang, tenteram, kasih, damai, dan bahagia;
  2. Sifat, sifat dinamis dari Tuhan yang maha bijakasana, maha berkehendak, maha berkuasa, maha adil, maha pengasih, dan maha penyayang;
  3. Asma, nama Tuhan yang baik-baik, seperti Allah Ta'ala, Yehuah, Deo, dan God; dan
  4. Afngal, pakartining karsa, terbabarnya kehendak, hadirnya nasib dan takdir baik dan buruk.
            Walaupun dzat, sifat, asma, dan afngal dapat dibedakan menurut pengertiannya, tetapi keempatnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Utomo, 1997:39). Dzat meliputi sifat, sifat menyertai asma, dan asma menandai afngal. Pemahaman tentang Tuhan yang demikian itu oleh manusia menjadi hidup yang dinamis.
            Kalimat: "Tuhan, kita begitu dekat" tersebut diulang kembali pada bait pertama, kedua, dan ketiga yang mengimplikasikan betapa pentingnya pewartaan ada hubungan kedekatan antara aku dengan Engkau itu. Selain untuk menjelaskan betapa penting hubungan antara aku dengan Engkau tersebut dilanggengkan (diabadikan) juga oleh  sebuah penegasan kembali bahwa kedekatan hubungan antara aku dengan Engkau sebagai paham bertunggalnya kehidupan manusia dengan Tuhan. Dalam filsafat Jawa diungkapkan: Urip iku siji, asale saka Gusti Allah, baline marang Allah. Asale saka Urip, baline marang Urip (Hidup itu satu, asalnya dari Tuhan dan kembalinya kepada Tuhan. Asalnya dari Hidup dan kembalinya kepada Hidup). Tuhan dalam filsafat Jawa ini diartikan sebagai Hidup Abadi (Urip Langgeng), tempat asal dan kembalinya hidup (sangkan paraning dumadi).
            "Sebagai api dengan panas" mengimplikasikan hubungan antara api dengan panas yang sulit untuk dipisahkan, menyatu atau saling melekat. Demikian pula kalimat "Aku panas dalam apimu" mengimplikasikan hubungan kedekatan antara unsur benda api yang dibandingkan dengan unsur benda panas, dan antara aku dengan -mu (Tuhan). Hubungan yang melekat dan menyatu antara api dengan panas sebagai metafora hubungan kedekataan antara Aku dengan Engkau (manusia dengan Tuhan). Hubungan kedekatan itu dapat dijelaskan dengan mengajukan pertanyaan: Bagaimana ada panas tanpa api? Jawabnya: Api dapat ada tanpa adanya panas, tetapi panas ada karena adanya api. Api merupakan unsur alam kedua setelah suasana, air, dan tanah. Di sini api merupakan unsur yang dominan dari unsur panas. Hal itu dikarenakan oleh keberadaan panas yang merupakan bagian dan sangat bergantung dari keberadaan api. Dengan metafora "Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu" dapat dipahami bahwa manusia merupakan bagian dari Tuhan, dan keberadaan manusia sangat bergantung pada keberadaan Tuhan. Dengan demikian keberadaan Tuhan itu sendiri tanpa bergantung pada keberadaan manusia. Tuhan merupakan causa prima (penyebab pertama dan utama) keberadaan manusia. Tuhan terlebih dahulu ada sebelum diciptakannya manusia.
            Demikian juga kalimat yang menyatakan "Seperti kain dengan kapas/Aku kapas dalam kainmu" dan "Seperti angin dan arahnya" juga mengimplikasikan kedekatan hubungan antara satu benda dengan benda lainnya yang menyatu dan sulit untuk dipisahkan. Kalimat-kalimat di atas sebagai metafora hubungan antara manusia dengan Tuhan yang menyatu (bertunggal) dan sulit untuk dipisahkan. Metafora di atas menunjukkan adanya paham kesatuan wujud (kebertunggalan). Keterjalinan hubungan antara manusia dengan Tuhan diibaratkan seperti hubungan antara api dengan panas, kain dengan kapas, dan angin dan arahnya.
            Untuk menjelaskan paham kesatuan wujud hubungan antara aku dengan Engkau yang dimetaforakan "Seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu" dapat diajukan pertanyaan: bagaimana kain dapat ada? Kain ada karena ada kapas yang dipintal (ditenun) menjadi kain. Kapas hanya merupakan unsur pembentuk kain. Keberadaan kain sangat bergantung pada keberadaan kapas yang dipintal menjadi kain. Kapas yang tidak dipintal tidak akan menjadi kain. Jika kapas diartikan sebagai metafora manusia, kain metafora kehidupan, dan Tuhan pemilik kehidupan. Jadi, metafora di atas diartikan bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan milik Tuhan, sebab tubuh atau badan manusia sebagai kendaraan Tuhan.
            Sementara itu, metafora di atas juga secara nyata menunjukkan jalan bagi manusia apabila manusia ingin meleburkan diri ke dalam unsur ketuhanan. Manusia harus dapat menghilangkan sifat-sifat yang melekat pada diri manusia sebagai syarat finalnya. Hal ini dianalogikan dari kapas yang melebur menjadi kain. Jika kapas ingin melebur menjadi kain, harus dihilangkan sifat kekapasannya. Sifat kekapasan menunjukkan sifat lahir manusia (badan wadag, jasmani), sedangkan kain menunjukkan sifat kerohaniahan manusia (jasmani halus, phisikis). Kain dan kapas juga sebagai simbol, sampai meninggal pun manusia tidak dapat meninggalkan kain (kafan) dan kapas sebagai pembungkus jenazah. Dalam pemahaman spritual ini kain dan kapas merupakan simbol kesatuan wujud antara manusia dengan Tuhan.
            "Seperti angin dan arahnya" mengimplikasikan hubungan dua unsur yang sulit untuk dipisahkan pula. Angin (dalam spritual Jawa dipahami sebagai wadag suasana atau bayu) merupakan unsur alam pertama selain api, air, dan tanah. Angin dan arah memang tidak dapat dipisahkan. Keberadaan angin karena digerakkan menuju ke suatu arah tertentu. Arah selalu mengikuti angin bergerak. Ke mana pun angin bertiup, ke situlah arah mengikutinya. Jawatan metereologi dan geofisika setiap hari memantau arah dan angin bertiup sebagai ramalan cuaca.
            Metafora di atas menjelaskan bahwa manusia dapat hidup karena digerakkan oleh dinamika hidup yang menuju (mengarah) kepada sumber hidup sejati. Di muka telah diterangkan bahwa Tuhan adalah hidup abadi, yang berarti pula menjadi dinamika hidup sejati, sumber hidup, yang menghidupi segenap makhluk, dan arah yang menjadi tujuan hidup manusia kembali kepada pemilik kehidupan. Dengan metafora ini secara jelas diterangkan bahwa Tuhan sebagai pemiliki, penggerak, yang menghidupi semua kehidupan, dan sumber hidup itu merupakan arah yang harus dituju manusia sesuai dengan petunjuk (arahan) Tuhan. Sesuai dengan firman Tuhan dalam Al Quran Surat Al Fatihah: Ihdinash shiraathal mustaqiim (Tunjukkanlah kami ke arah jalan yang benar) menjadi pedoman hidup manusia kembali kepada Tuhan.
            "Dalam gelap" mengimplikasikan suatu keadaan di mana manusia berada dalam situasi yang gelap, yang tidak ada cahayanya. Sebagai simbol, "dalam gelap", berarti: berada pada tataran atau level primitif. Artinya, manusia belum dapat menemukan jalan kebenaran sesuai dengan petunjuk (arahan) dari Tuhan. Atau dapat juga diartikan bahwa manusia belum memiliki kesadaran atas keberadaan Tuhan. "Kini aku nyala/Pada lampu padammu" mengimplikasikan setelah kehadiran nabi atau rasul sebagai Utusan Tuhan yang membawa agama wahyu, manusia telah menemukan pencerahan atau sinar terang menuju jalan kebenaran yang sesuai dengan petunjuk dari Tuhan. Agama wahyu yang dibawa oleh nabi atau rasul Tuhan itu mampu menyalakan rasa (yang dimiliki manusia) keimanan manusia terhadap Tuhan. Di sini berarti manusia telah menemukan kesadaran atas keberadaan Tuhan sehingga "Kini aku nyala/ pada lampu padammu" lebih berarti dan bermakna penemuan kembali iman manusia yang telah lama hilang.
            Keadaan gelap dan terang tersebut dapat diumpamakan sebuah lampu senter. Cahaya dari lampu senter memancar ke satu jurusan, yakni ke arah jalan kembali kepada Tuhan. Di belakang lampu senter tersebut keadaan gelapnya, dan di samping kiri kanan lampu senter itu setengah gelap. Cahaya lampu senter merupakan simbol keimanan dan kesadaran manusia atas keberadaan Tuhan setelah mendapatkan pencerahan dari Nabi dan Rasul. Di belakang dan kiri kanan lampu senter itu mirip dengan keadaan manusia dalam gelap atau tidak memiliki kesadaran atas keberadaan Tuhan yang senantiasa berada di dekatnya.
            Pernyataan-pernyataan dalam puisi "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut terdapat beberapa oposisi, yaitu oposisi antara "Tuhan" (Kau, -Mu) dengan  "manusia" (aku) atau "Khalik" dan "makhluk". Oposisi tersebut dimetaforakan dengan beberapa oposisi pula, yaitu oposisi antara api dengan panas, kain dengan kapas, angin dengan arahnya, dan gelap dengan lampu, serta nyala dengan padam. Hubungan antara Aku (manusia) dengan panas, kapas, angin, gelap, dan padam terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metaforis (kesebandingan). Hubungan antara Tuhan (Kau, -Mu) dengan api, kain, arah, lampu, dan nyala terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metaforis (kesebandingan). Sedangakn hubungan antara api dan panas, kapas dan kain, angin dan arah, gelap dan lampu, dan nyala dan padam terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metonimi (keterkaitan). Antara Tuhan dan Aku dipisahkan oleh sebuah jarak dan dihubungkan oleh "nyala" atau "cahaya". "Nyala" atau "cahaya" tersebut berupa rasa iman atau kerinduan pertemuan antara Aku dan Tuhan.
            Bentuk oposisi dalam sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. tersebut di atas dapat disederhanakan sebagai berikut.
                   Tuhan       >
                   Kau/-Mu   >
                   (Engkau)   >
                   Khalik       >
                   kain           >
                   api             >
                   arah           >
                   lampu        >
                   nyala         >

            Oposisi tersebut mampu menjelaskan di mana kedudukan, peran, dan fungsi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Manusia hanya berkedudukan sebagai makhluk yang berperan sebagai individu, seperti unsur kapas, panas, dan angin dalam situasi gelap karena padamnya lampu. Kedudukan Tuhan jelas sebagai khalik, Sang Pencipta Alam Semesta, yang berfungsi sebagai kain penyatu, api pencerahan, petunjuk arah jalan kebenaran dan kebajikan, lampu penerang kegelapan, dan nyala iman manusia yang telah lama padam. Dengan melihat kedudukan dan peran atau fungsi masing-masing itu hendaknya manusia mampu menempatkan dirinya di tengah-tengah semesta alam. Oleh sebab itu, Jalal Ad-din Rumi mengatakan bahwa manusia bukan hanya mikrokosmos melainkan juga makrokosmos (Kartanegara, 1986: 57). Sekalipun manusia itu kelihatannya muncul sebagai makhluk ciptaan Tuhan, namun sesungguhnya Tuhan itu mencipta demi kepentingan hidup manusia. Hubungan timbal-balik seperti itulah sebenarnya yang membangun hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Dengan jalan seperti itulah dapat kita rasakan betapa dekatnya hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta Alam Semesta, karena kita bagian dari alam dan alam merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia.

4.2 Model, Matriks, dan Hipogram Aktual
            Papaparan hipogram-hipogram potensial pada tahap pembacaan hermeneutik di atas telah berhasil mendapatkan kesatuan dunia imajiner sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Dalam sajak itu terbangun adanya citra kerinduan manusia terhadap Sang Khalik atau Tuhan. Seperti halnya manusia pengembara yang telah lama meninggalkan kampung halamannya. Pada suatu saat manusia pengembara itu rindu terhadap kampung halamannya, asal-mulanya dahulu. Demikian juga manusia, hidup di dunia ini merupakan pengembaraan setelah terusir dari kampung halamannya (surga, firdaus), seperti yang tersirat pada kisah Adam dan Hawa yang terusir dari surga (Hadi, 1999:193). Ia rindu pada surga yang menjanjikan suasana bahagia, tenang, damai, dan diliputi penuh kasih sayang. Kerinduan itu oleh Abdul Hadi W.M. diwujudkan dengan beberapa metafora yang menunjukkan kedekatan hubungan antara api dengan panas, kain dengan kapas, angin dengan arah, gelap dengan lampu, dan nyala dengan padam. "Nyala lampu" berfungsi sebagai simbol "pencerahan" wilayah "gelap". Secara signifikan "nyala lampu" merupakan personifikasi bernyalanya rasa keimanan manusia kepada Tuhan. Hubungan kedekatan antara manusia (aku) dengan Tuhan dapat terjalin erat yang didasarkan pada dimensi keimanan manusia kepada Tuhan. Hanya rasa keimananlah yang mampu mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.
            Bangunan imajiner sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. itu tentu belumlah sepenuhnya utuh sebagai satuan makna yang menjadi pusatnya. Hal ini disebabkan belum ditemukannya model dan matriksnya. Model merupakan aktualisasi pertama dari matriks. Aktualisasi pertama dari matriks ini berupa kata atau kalimat tertentu yang khas dan puitis. Kekhasan dan kepuitisan model itu mampu membedakan kata atau kalimat-kalimat lain dalam puisi tersebut. Eksistensi kata itu dikatakan puitis bila tanda itu bersifat hipogramatik dan karenanya monumental. Artinya, kata atau kalimat itu mengandung pancaran makna kata yang bersifat membias ke mana-mana.
            Ada dua tanda yang tampaknya monumental dalam sajak "Tuhan, kita begitu dekat", yaitu (1) judul sajak itu sendiri, "Tuhan, Kita Begitu Dekat", dan (2) kalimat terakhir dalam sajak itu, "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu". Kedua kalimat itu agak sulit dibedakan kekuatan puitisnya. Kedua-duanya bersandar pada dua wacana yang sama-sama kuatnya seperti dua sisi mata uang. Yang pertama bertolak dari wacana religius Islami ketauhidan, sufisme dan keagamaan ihwal pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, kalimat tersebut digunakan sebagai judul sajak yang memiliki nilai puitis yang bersifat hipogramatik dan monumental. "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah aktualisasi pertama dari matriks. Perulangan sebanyak tiga kali pada bait pertama, kedua, dan ketiga, secara tegas dan jelas menunjukkan betapa penting dan puitisnya kalimat tersebut.
            Selain hal di atas, model pertama kalimat puitis "Tuhan, Kita Begitu Dekat" menunjukkan hubungan kedekatan yang terasa intim antara manusia dengan Tuhan. Dari kalimat tersebut kemudian melahirkan kalimat-kalimat puitis yang lain, seperti "Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu", "Seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu", "Seperti angin dan arahnya/ Kita begitu dekat". Kalimat "Tuhan, Kita Begitu Dekat" menjadi muara atau tumpuan dari kalimat-kalimat puitis yang lainnya. Kalimat "Tuhan, Kita Begitu Dekat" juga mampu menggaungkan kembali wacana-wacana puitis yang telah terbangun sebelumnya. Untuk membuktikan hal ini maka akan ditelusuri pada kajian hipogram aktual.
            Model kedua berangkat dari wacana religius modern yang mengabarkan keimanan manusia yang menyala dengan terangnya setelah mendapatkan pencerahan atas petunjuk Tuhan melalui para nabi dan rasul. "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu" menyiratkan urutan perjalanan spritual manusia dari gelap menuju kepada terang. Gelap dan terang ini mengingatkan kita pada sajak Chairil Anwar "Lagu Siul I & II" yang sering dikutip sebagai sajak yang bernuansakan sufistik (Hadi, 1999:143--148). Mari kita perhatikan sajak Chairil Anwar yang telah menjadi obsesi Abdul Hadi berikut.

                   LAGU SIUL
                    I
                   Laron pada mati
                   Terbakar pada sumbu lampu
                   Aku juga menemu
                   Ajal dicerlang caya matamu
                   Heran! Ini badan yang selama berjaga
                   Habis hangus di apimu
                   'Ku kayak tidak tahu saja.

                   II
                   Aku kira
                   Beginilah nanti jadinya:
                   Kau kawin, beranak dan bahagia
                   Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

                   Dikutuk-sumpahi Eros
                   Aku merangkaki dinding buta
                   Tak satu juga pintu terbuka.

                   Jadi baik kita padami
                   Unggunan api ini
                   Karena Kau tidak akan apa-apa
                   Aku terpanggang tinggal rangka.

                                                28 November 1945

             Abdul Hadi W.M. benar-benar terobsesi secara kreatif oleh sajak Cahiril Anwar "Lagu Siul" sejak duduk di bangku SMP (Hadi, 1999:143), yakni jauh hari sebelum diciptakannya sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut. Dari hasil pembacaan sajak Chairil Anwar itulah sehingga muncul kalimat: "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu". Unsur-unsur yang terlihat jelas dari sajak Chairil dalam sajak Abdul Hadi itu adalah: (1) dari api tetap menjadi api, (2) dari sumbu lampu menjadi lampu, (3) dari padami yang diterjemahkan menjadi padammu, (4) dari unggunan api yang oleh Abdul Hadi diterjemahkan menjadi nyala, dan (5) dari laron pada mati terbakar, ajal cerlang, habis hangus, dan terpanggang tinggal rangka diterjemahkan menjadi dalam gelap. Meskipun tokoh Ahasveros dan Eros itu simbol religius agama Yahudi, bersumber pada Bibel, Kitab Ester, Abdul Hadi tidak mempersoalkan hal itu. Ia hanya mengangkat hakikat gelap dan terang serta nyala lampu pada sajak tersebut ke dalam pemahaman religius sajaknya. Dengan demitefikasinya itu Abdul Hadi mampu membuat sajak "Tuhan, kita begitu dekat" tersebut utuh terpahami sebagai dunia otonom, teks yang berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan tokoh mitologi agama Yahudi.
            Matriks yang menjadi "roh" dari puisi sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan. Semangat pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan itu terbangun dari ungkapan kalimat "Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu" yang ekuivalensi maknanya dengan kalimat "Dalam gelap/ Kini aku nyala/ Pada lampu padammu". Api, panas, lampu, dan nyala merupakan simbol penerangan dan sekaligus pembebasan jiwa yang terbelenggu oleh kegelapan. Hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang dimetaforakan dengan api, panas, lampu, dan nyala adalah semangat pencerahan keimanan sekaligus pembebasan jiwa yang terbelenggu oleh kegelapan dunia yang fana. Hanya dengan pencerahan keimanan dan pembebasan jiwa yang terbelenggu kegelapan itulah yang mampu mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.
            Hipogram aktual yang mampu menggaungkan wacana-wacana sebelumnya adalah pewartaan tentang hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan, "Tuhan, kita begitu dekat", pada masa dahulu telah diwartakan oleh para penyair sufi, seperti Al Hallaj, Ibn Arabi, Faridudin Attar, Jalal Ad-din Rumi, M. Iqbal, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan para suluk atau mistikus dari Jawa seperti Sunan Bonang, Syeh Sitti Jenar, Mangukunegoro IV, dan Ronggowarsito. Mereka semua mewartakan kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan dalam bingkai paham bertunggalnya hamba dan Tuhan.
            Sejumlah pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan dalam Al Quran terungkap dalam Surat 28: 88, "Kullu syai-in haalikun illaa wajhahuu", artinya: Segala-galanya hilang kecuali wajah Allah yang hidup kekal. Juga ada pula hadis nabi yang berbunyi: "Man'arafa nafsuhu faqad'arafa rabbahu", artinya: Barang siapa mengenal dirinya, dialah yang mengenal Tuhannya. Selain itu, juga terdapat sebuah ayat dalam Al Quran yang menyatakan secara tegas hubungan kedekatan antara manusia dan Tuhan, yaitu Surat 50/Qaaf : 16, yang berbunyi: "Nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid", artinya: Kami lebih dekat dengan manusia dari pada pembuluh darah yang ada di urat lehermu.
            Kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan juga ditulis oleh Dr. S. Radhakrishnan (terjemahan Iwan Nurdaya Djafar) sebagai berikut. "Kehadiran dari yang bersifat Tuhan telah dipahamkan dalam kata-kata yang berbeda. Kita mengatakan: Itu seni para nabi. Budha berkata bahwa setiap orang memiliki esensi pencahayaan. Jesus berkata bahwa kerajaan Tuhan ada dalam dirimu. Nabi Muhammad bersabda bahwa Tuhan lebih dekat untukmu dari pada urat nadi di lehermu. Terhadap semuanya ini orang menyetujui kehadiran satu elemen ketuhanan dalam diri manusia."
            Ungkapan khas para sufi dan para suluk dari Jawa adalah "Kalbu mukmin baitullah" artinya: di dalam hati orang yang beriman terdapat singgasana Tuhan. Hanya di dalam kalbu atau hati orang-orang yang beriman itulah singgasana Tuhan. Sebab hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat menemukan Tuhan di dalam hati sanubarinya. Dalam konsep mistikus Jawa tersebut, Tuhan diartikan sebagai Dzat yang inmateriil, tidak berunsur, tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat, dan hanya dapat dirasakan oleh kalbu. Cedhak tan sesenggolan adoh tan antara (dekat tidak bersentuhan, jauh tidak ada batasnya). Hanya mata hati yang suci yang mampu melihat kehadiran Dzat Tuhan, yang dalam bahasa sufi disebut al-insan al-kamil. Para sufi itu juga sering menggambarkan "Tuhan, kita begitu dekat" dengan metafora "Seperti bunga dengan harumnya, madu dengan lebahnya, dan sungai dengan alirannya" atau kadang pula dengan simbol laut seperti dalam syair "Laut Mahatinggi" Hamzah Fansuri (Hadi, 1995: 136--144). Salah satu bait dari syair karya Hamzah Fansuri tersebut berbunyi sebagai berikut.
                   Wujudmu itu jadikan mata
                   Matamu itu jadikan nyawa
                   Nyawamu itu lenyapkan sana
                   Pada laut yang maha bercahaya
                  (Fansuri dalam Hadi, 1995: 137)
 5. Simpulan
            Pembacaan sajak "Tuhan Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. dengan pendekatan semiotika yang dikembangkan Riffaterre membuahkan sebuah pemahaman makna secara total. Pada tahap pembacaan semiotika pertama (heurestik atau pada level kebahasaan) membuahkan sebuah heterogenitas yang ungramatikal, terkoyak-koyak dan tidak terpadu. Seolah-olah tidak ada kesinambungan antara baris demi baris atau bait demi bait dalam sajak tersebut. Akan tetapi, setelah diadakan pembacaan yang lebih jauh pada pembacaan semiotika tingkat kedua (hermeneutik) diperoleh sebuah makna yang padu tentang pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang dipandang dari dimensi estetika kesufian.
            Kalimat "Tuhan, kita begitu dekat" dalam sajak tersebut menjadi model pertama matriks yang mampu menggaungkan wacana-wacana yang ada sebelumnya. Dengan matriks pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan mampu merekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, baik secara imanen maupun secara transendental, dalam wacana estetika religius kesufian.
            Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. tersebut menunjukkan betapa kuat pengaruh dari puisi-puisi sufi, baik citraannya, pemakaian lambang, maupun metaforanya. Dalam sajak Abdul Hadi itu memberi gambaran upaya manusia untuk bertunggal dengan Tuhan, yakni suatu jalan kerohanian menuju kembali kepada Tuhan yang berangkat dari ajaran tauhid Islam. Karya semacam ini mencerminkan perenungan yang dalam dan keluasan berpikir serta wawasan yang jauh tentang semesta raya seisinya. Selain itu, tampak juga adanya upaya penyair mencari kebenaran yang memadukan antara zikir dan pikir secara sunggguh-sungguh dan maksimal. Pesan pembebasan dan pencerahan jiwa yang terbelenggu kegelapan menjadikan sajak itu semacam profetik (kenabian) dan apokaliptik (kewahyuan). Kegembiraan spritual dan kearifan dalam menyikapi kehidupan yang tercermin sajak itu menjadikan hidup senantiasa optimis, tanpa mengenal putus asa karena senantiasa bertakwa dan beriman.

sumber :

Senin, 09 Desember 2013

PUISI : LOMBA TANPA HADIAH, JUARA TANPA PIALA, 2 TAHUN PSK

(1) MERAHKAN NAMA-MU
(c)  Novi Nurul Fandilah

Waktu terus saja berdegup,
Aku masih memerahkan buku-buku yang kubaca, dengan namamu
Semenjak kata enggan menyemaikan betuk kalimat baru,
Namun, terus saja
Ku petak-petakan buku  yang sejak dulu bicara denganku itu
Tanpa saja ku sadari selalu ada namamu dalam setiap buku yang kubaca
Terkadang aku seperti  anak-anak yang kegiragan ketika mendapati mainan baru diatas mejanya.
Senyumnya simpul  dan pipinya meronakan merah padam
Itu waktuku, untuk mencintaimu

Gubuk KIAS
Jumat,11 Oktober 2013
16:10



BIODATA
Nama           :  Novi Nurul Fandilah
Alamat         :  Grendem Rt 02/02, Campurejo Boja
No hp           :  085740722542
Email            :  novi.nurul.fandilah@gmail.com
Study           :  IKIP PGRI Semarang, Pendidikan Bahasa Inggris

---

(2) JARI-JARIKU SEKETIKA BASAH

Jari-jariku seketika basah
meruapkan lekuk daun anggur tertimpa hujan
yang meniscaya lakumu
bahkan, untuk sekadar menghitung ruas jari
kita tidak mampu
barangkali aromanya sanggup mendatangkan seribu gigil
yang akan menguar hingga ke tubir matamu

Jari-jariku seketika basah
menumpahkan airmataku pada jari-jarimu.

Karanggeneng, Juni 2013


Biografi Singkat:

Nama           : Santi Almufaroh
Status          : Mahasiswa IKIP PGRI Semarang
                     Fak. Bahasa dan Seni
                     Progdi. Pendidikan Bahasa Inggris /
                     NPM: 09420118
TTL             : Jepara, 11 Mei 1991
Alamat         : Desa Kancilan Rt 04/ 01 Kembang, Jepara
No. Hp         : 085292375768
E-mail          : almufarohsanti@gmail.com
Blogspot       : santialmufarohblogspot.com
Facebook      : Almufaroh Santi (lavenderbludukayea)
Twitter         : @almufarohsanti
  Organisasi    : Pengelola Kajian Ilmu Apresiasi Sastra (KIAS) IKIP PGRI Semarang, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI).
Publikasi       : Beberapa tulisan pernah dimuat di Buletin Keris; Buletin Potret; Sekar Kampoeng, Tabloid Cempaka, Suara Kampus IKIP PGRI Semarang; Majalah Gradasi; Bilik Literasi, Majalah Papirus, Pawon, Republika, Suara Merdeka, Jateng Pos, dan tergabung dalam Antologi Cerpen Teater Semut dalam Gelar Budaya Tingkat Jawa Tengah “Tanda???”, Kendal, Antologi Cerpen “Perempuan Bersayap Di Kota Seba” IKIP PGRI Semarang, Antologi Cerpen “Dari Jendela yang Terbuka” IAIN Walisongo Semarang, Antologi Cerpen Taman Budaya Jawa Tengah “Tatapan Mata Boneka”, Solo, Antologi Puisi-Cerpen “Jejak Hujan” UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, Antologi Puisi ”Adalah Debu” UKM KIAS IKIP PGRI Semarang, Antologi Puisi “UKORO GENI”  Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Anotologi Puisi “Dari Sragen Memandang Indonesia”,  Sragen, Anotologi Puisi “Indonesia dalam Titik 13”, Pekalongan, Antologi Esai Wacana 1  “Aksara”, Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Antologi Esai “Mengingat Guru” UKM  KIAS IKIP PGRI Semarang, Antologi Puisi “Merawat Ingatan Tragedi ‘98”, Balai  Soedjatmoko, Solo.
Prestasi    : Pernah Juara favorit LMCR Tingkat Nasional Kategori Mahasiswa dan Umum 2010, JakartaJuara 1 Tulis Opini LPM VOKAL IKIP PGRI Semarang, Juara 2 Lomba Tulis Puisi Spesial Ulang Tahun Buletin Keris, Juara 1 Tulis Puisi BEM FPBS IKIP PGRI Semarang, Juara 1 Lomba Tulis Resensi UPT Perpus IKIP PGRI Semarang, Juara 1 Lomba Penulisan Karya Sastra Cerpen PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) oleh BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012, juara harapan 1 penulisan cerpen pada PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) di Mataram, Lombok.

Minggu, 24 November 2013

LOMBA TANPA HADIAH, JUARA TANPA PIALA

Salam Budaya!!
Menyambut 2 Tahun (9 Desember 2013), Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) akan mengadakan "LOMBA TANPA HADIAH" : (1). Baca Puisi via Video. (2) Antologi Puisi Digital

Ketentuan :
1. Peserta terbuka untuk umum se-Indonesia.
2. Kirimkan karyamu : 1 Puisi Video atau 1 Puisi Digitalmu (Pilih salah satu)
2. Puisi yang dibacakan adalah 1 puisi asli karya sendiri.
3. Puisi yang dikirimkan untuk Antologi Puisi Digital adalah 1 puisi karya sendiri.
4. Kirimkan karyamu beserta data diri (photo close-up, nama, alamat, no. hp, email) ke E-mail : pelataransastrakaliwungu@gmail.com
5. Pengiriman karya 24 Nopember - 5 Desember 2013.
6. Pengumuman 9 Desember 2013 di blog : www.langitkendal.com
7. Hak cipta karya ada pada pembaca/ penulis. PSK berhak menerbitkan via youtube dan blog.
8. Semua peserta yang mengirim karya akan mendapat pulsa 10.000 (Khusus untuk Baca Puisi via Video akan mendapat 1 buku Antologi Puisi "Bumi di Atas Langit" karya Bahrul Ulum A. Malik
9. Ketentuan dan atau ada perubahan yang menarik akan diberitahukan selanjutnya)
10. CP 0856 4140 2250 (OeLum)

Keterangan :
"Lomba Tanpa Hadiah" ini adalah salahsatu bentuk semangat dan rasa syukur kami atas nikmatnya bersastra.
Kami menerima bantuan buku/ hadiah dari manapun untuk selanjutnya kami bagikan kepada peserta.

"BERBAHAGIALAH MENJADI MANUSIA, SEBAB TAK SEMUA MAKHLUK MAMPU MENJALANINYA"

Rabu, 06 November 2013

CERPEN : KETIKA KEBENCIAN BEBRBUAH CINTA

KETIKA KEBENCIAN BERBUAH CINTA
Karya : Zulfa Inaya (https://www.facebook.com/zulvaa.inaya)

Pagi ini pukul 07.55 menit...
Suasana kelas masih hening dan terasa menegangkan..
Semua anak terdiam dalam kebisuan, bahkan ada yang menunduk dalam ketakutan.
Tidak terkecuali aku.. yang sedari tadi terus komat kamit dengan do’a-do’a, dengan harapan mudah-mudahan bisa terselamatkan dari cengkeraman si makhluk tampan itu.

Eh tunggu-tunggu, tampan ?? no !! dia makhluk jelek, ketampanannya udah sirna dari mataku gara-gara ngeliat sikapnya yang menyebalkan itu.

Dia adalah Pak Alvin, guru baru yang berusia 25 tahun, yang memegang mata pelajaran kimia di kelas kami XII IPA. Dan saat ini beliau sedang mondar-mandir di depan kelas memandangi kami satu-persatu dengan senyuman khasnya. Aku berusaha menghindari tatapan nya yang tajam itu disaat-saat genting seperti ini.

Ditengah-tengah suasana yang menegangkan ini, tiba-tiba…’’Nisa ..!” terdengar suara beliau memanggil namaku.

‘’Degg !!’’ jantungku terasa mau copot.

“Assem, lagi-lagi aku..”gerutuku kesal.

Sementara yang lain sedang bernafas lega, aku makin tak bisa mengendalikan keteganganku.

“Ayo Nisa, maju ke depan, kerjakan soal-soal yang sudah saya tulis dipapan tulis..” lanjut Pak Alvin dengan senyuman khasnya. Apa pun arti senyum itu, dan biarpun banyak teman-teman yang bilang kalo senyum Pak Alvin itu sangat menawan, tapi bagiku tak ada istimewanya sama sekali.

“Kok saya lagi sih Pak yang disuruh maju ke depan, kan masih banyak temen-temen yang lain..” protesku.

“Siapa bilang kamu terus, tadi Selly yang saya suruh, ayo tidak usah membantah lagi..” kata Pak Alvin.

“Tapi kalo temen-temen yang lain pertanyaannya selalu yang gampang-gampang, giliran saya pasti pertanyaannya selalu yang sulit-sulit, bapak tu pilih kasih..”

“Sulit darimana, mungkin kamu yang tidak pernah belajar Nisa.. Ayo maju ke depan, kita tidak punya banyak waktu lagi..” ujar beliau.

“Hu-uuhh..” Dengan langkah yang berat, aku pun berdiri dari tempat dudukku dan maju ke depan kelas, kenapa sih tiap ada pertanyaan yang begini sulitnya selalu akuu aja yang jadi sasaran. Dan kalo nggak bisa ngerjakan, pasti kena hukuman. Tiap ada jam pelajaran orang ini, pasti aku kena sasaran hukumannya. Dan hari ini, pasti akan ku jalani lagi hukumanku yang entah sudah keberapa kalinya. Dan kayaknya dia tu sengaja deh melakukan semua ini sama aku, tapi apa alasannya, aku juga gak ngerti.

Ku coba coret-coret sebisaku untuk menjawab soal-soal dipapan tulis, dan sepertinya dia terus mengawasiku.

“Jawaban kamu masih salah Nisa..ayo dibenarkan lagi..” ujar beliau.

Aku mendecak kesal. Dan ternyata sudah aku benahi sampai tiga kali masih aja disalahkan, jangan-jangan dia sengaja menyalahkan jawabanku biar aku kena hukuman.

“Kamu belum belajar ya Nisa..?” tanya beliau sambil menatapku masih dengan senyumannya.

“Bukannya belum belajar Pak, tapi materi ini memang tidak ada dibuku dan belum pernah diajarkan juga..” bantahku.

“Siapa bilang tidak ada di buku, semuanya ada. Kamu aja yang tidak belajar..” kata beliau.

Aku tidak menjawab lagi, cuma berdiri dengan menahan kesal.

“Jadi seperti biasanya, kalo tidak bisa mengerjakan soal yang saya berikan, harus menerima hukuman dari saya, dan hukuman kamu hari ini cukup berdiri didepan kelas aja..”

“Tapi Pak.."

“Sudah jangan membantah lagi, ayo Nisa…berdiri disamping tempat duduk saya, atau perlu saya gandeng ?? “ potong beliau sambil setengah menggoda.

Serentak anak-anak satu kelas pun bersorak dengan ramai meledekku.
“Huuuu….ayo Nisaa…terima hukumannyaaa…hahahaahaaaa…”

Pak Alvin cuma tersenyum-senyum melihat situasi ini.

Akhirnya sambil menghentakkan kaki aku pun berjalan disamping tempat duduk beliau dan terpaksa menjalani hukuman selama 15 menit

*****************************************************
Saat jam istirahat, aku meluapkan semua kekesalanku tadi pada Selly teman karibku yang duduknya sebangku denganku.

“Iiiiiiihhhh….kesssseeeeelll kesel kesel kesel, pake’ bangeett, awas ya dia, pokoknya ku balas suatu saat nanti,” kataku penuh emosi.

“Husstt…gak boleh ngomong kayak gitu Nis, gimana pun juga kan dia guru kita, kualat kamu nanti..” kata Selly

“Guru ?? Ih amit-amit aku punya guru kayak dia, kalo semua guru di dunia ini kayak dia, mendingan aku gak sekolah aja deh, hadeeehh. Coba deh bayangin Sel, gak cuma sekali dua kali dia tu ngerjain aku, ngasi soal-soal yang belum pernah kita pelajari terus kalo gak bisa harus dihukum di depan kelas, sementara teman-teman yang lain gak pernah diperlakukan sebegitunya, ini kan gak adil namanya..guru apaan kayak gitu, gak mendidik sama sekali !” kataku masih kesal.

“Hmmmm….kalo dipikir-pikir iya juga sih Nis, bener juga apa kata kamu, tapi sepertinya beliau melakukan itu karena ada perhatian khusus ama kamu, mungkin suka ama kamu kali Nis, he he..” kata Selly sambil tersenyum-senyum menggoda.

“Idiih, suka ?? amit-amiiitt, jangan sampe’ !! dia tu bukannya perhatian atau suka ama aku, tapi sentimen, sengaja bikin aku malu didepan temen-temen..”

“Hehehe…udah jangan marah-marah terus Nis, gitu-gitu kan kamu dulu pernah naksir ama beliau. Ingat gak dulu waktu pertama beliau datang kesekolah ini, kamu begitu memuja-muja beliau, katanya yang tampanlah, kharismatiklah, jeniuslah, inget gak apa yang kamu bilang dulu?” kata Selly sambil senyum-senyum menggoda.

“Iya itu dulu, sebelum aku tau sifat aslinya yang sebenarnya. Tapi sekarang aku benciiii banget ama dia, bangettt!! Pokoknya aku mau demo ama kepala sekolah kalo kelas kita gak usah di ajar ama dia” geramku kesal.

“Hehee…kamu gak suka ama beliau tapi belum tentu murid-murid yang laen juga gitu. Awas hati-hati lho Nis dengan ucapanmu, biasanya benci yang berlebihan tu bisa jadi cinta loh..”

“Enggak Selly enggak, sekali benci selamanya tetap benci. Udah ah, gak usah ngomongin dia lagi, males aku jadinya !!” kataku akhirnya.

“Hmmm..iya deehh. Oya entar malem jalan-jalan yuk, kamu ada waktu gak?” tanya Selly.

“Oke deh, siapa tau bisa ngilangin rasa kesalku hari ini..”

********************************************
Malam ini pukul 19.15 aku dan Selly muter-muter gak jelas di taman kota, bingung mau kemana. Akhirnya kami pun memutuskan untuk nonton bioskop meskipun jadwal film hari ini kurang bagus, tapi gak papa lah itung-itung bisa ngilangin kejenuhan plus ngilangin stres yang melanda hari-hariku sejak kedatangan si Guru baru yang menyebalkan itu.

Pukul 21.30 film pun selesai diputar, aku dan Selly keluar dari bioskop dan berjalan menuju parkiran.

“Gimana Nis, udah terhibur belum setelah nonton film tadi ?” tanya Selly.

“Lumayan Sel, daripada nonton mukanya si makhluk jelek yang namanya Alvin tuh mendingan nonton film aja..” jawabnya.

“Cie ciee..lagi-lagi ngomongin dia, keinget terus ya kamu ama dia, hehe. Dia gak jelek kali Nis, tapi cakep pake’ banget. Liat aja senyumnya yang menawan dan postur tubuhnya yang atletis, bikin cewek-cewek di sekolah kita pada kesengsem..” ujar Selly kagum.

“Iya kamu gak pernah dihukum ama dia Sel jadi kamu tertarik, coba kamu jadi aku, dipermalukan terus didepan kelas, gimana gak kesal..”

“Aku kan gak pernah dihukum karena rajin belajar Nis, sedangkan kamu dari dulu nilai kimianya emang gak pernah bagus, hihihiii…..”

“Eeh…ngeledek kamu Sel…” kataku dengan nada mengancam.

“Enggak enggak enggak…ampun tuan putri, ampuun…cuma canda doank kok..” kata Selly dengan wajahnya yang sok ketakutan gitu.

“Awas kamu Sel berani ngatain aku lagi, gak akan ku contekin kalo ada ulangan bahasa Inggris nanti..”

“Idih, ngancem nih ceritanya?”

“Habis kamunya ngeledikin mulu..”

Tengah berjalan sambil asyik-asyiknya candaan, tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dari arah belakang kami dan hampir saja menyerempetku. Untung aja Selly buru-buru menarik tanganku ke tepian.

“Awas Nis !!” teriaknya.

Karena begitu kagetnya dan Selly begitu kenceng narik tanganku akhirnya kami berdua pun jatuh tersungkur ke tanah.
Sang pengendara motor yang mengenakan jaket kulit warna hitam itu pun berhenti dari motornya lalu buru-buru mengahmpiri kami.

“Maaf ya mbak saya gak sengaja, ma’aaf banget…” kata orang itu di balik helmnya yang bertutup muka.

“Maaf-maaf !! makanya hati-hati dong mas kalo jalan, jangan asal ngebut aja dan gak liat-liat jalan,” kataku marah sambil berusaha berdiri kembali seraya membersihkan bajuku yang kotor.

“Iya sekali lagi saya minta maaf mbak tadi saya sedang buru-buru karena ada urusan penting, mbaknya gak papa kan..? atau perlu saya bawa ke dokter?” tanya laki-laki yang mukanya gak keliatan karena tertutup helm itu.

“Gak perlu !” ketusku kesal.

Selly menyengol lenganku. Lalu dia tersenyum kepada orang itu.
“Maaf mas, kami udah gak papa kok jadi gak perlu dibawa ke dokter juga, cuma lain kali hati-hati aja ya kalo naik motor..” kata Selly.

“Iya mbak, maafkan saya..baiklah kalo memang tidak apa-apa saya permisi dulu ya mbak, saya harus buru-buru untuk menyelesaikan urusan saya..” kata orang itu.

“Iya mas, silakan..” lagi-lagi Selly yang ngomong, karena aku masih kesal dengan kejadian ini.

Laki-laki itu pun kembali menghampiri motornya dan langsung menancapkan gas.

“Hu-uhh…pemuda zaman sekarang memang suka kebut-kebutan. Kenapa ya nasib aku hari ini siaall terus. Udah tadi pagi kenapa hukuman, eh malemnya hampiiir aja ditabrak orang. Kamu juga sih Sel, ngapain juga pake’ baik-baikin tu orang, nyawaku tu hampir melayang gara-gara orang itu, “ kataku kesal.

“Bukannya gitu Nis..soalnya aku tu ngerasa kayaknya kenal dengan suara orang itu tadi.., suaranya tu gak asing lagi ditelingaku, tapi gak tau siapa.., makanya begitu denger suaranya marahku tu langsung Wilang karena aku mencoba mengamati siapa orang dibalik kaca helm itu..”kata Selly.

“Perasaan kamu aja kali Sel, aku lho gak ngerasa kenal dengan orang itu..” `kataku cuek.

“Emmm…iya kali Sel mungkin cuma perasaanku aja. Ya udah yuk kita pulang aja, udah hampir jam sepuluh..”

Akhirnya kami pun pulang kerumah..
**************************************************

Pagi ini tepat pukul 07.00..
Rasanya aku tidak semangat sekali berada di sekolah, karena jam pertama hari ini adalah seperti biasa mata pelajaran nya si makhluk nyebelin itu.
Selesai bel berbunyi, tidak cukup lama bagi kami untuk menunggu kehadiran guru baru itu, karena dia selalu hadir tepat waktu.
Huuh…kira-kira bakal ada hukuman apa lagi ya yang akan aku terima hari ini ?

Seperti biasa begitu masuk kelas beliau langsung menebarkan senyum manisnya kepada kami semua. Dan ups…aku kecolongan, dia tersenyum kepadaku saat aku melihatnya sekilas.
Entah kenapa hari ini aku ngerasa ada yang aneh dengan dia, nampaknya dia sangat berseri-seri pagi ini.

“Selamat pagi anak-anak..” sapa beliau nampak begitu cerah.

“Selamat pagi paaak…!!” jawab anak-anak serempak, kecuali aku yang cuma diam aja.

“Baiklah anak-anak, sebelum saya memulai pelajaran hari ini, saya ingin bercerita sedikit kepada kalian semua tentang pengalaman saya, kira-kira kalian mau mendengarkan apa tidak ?”

“Mau paaaak, mau mau mauuuu…” kata anak-anak senang seperti anak SD yang hendak di ceritain si Kancil aja sama gurunya.

“Ehm !!” sebelum memulai cerita dia melirikku kembali.
Darahku tiba-tiba berdesir saat menangkap tatapannya yang super aneh itu. Aku buru-buru mengambil buku pelajaran untuk menutupi kegugupanku, dan aku pura-pura tidak mau mendengarkan cerita beliau.

“Baiklah anak-anak, saya akan memulai ceritanya..Ehmm..begini, tadi malam sekitar pukul 21.30 saya sedang keluar rumah karena ada keperluan yang sangat penting. Saya mengendarai motor dengan sangat buru-buru sekali, dan tepat di depan gedung bioskop saya hampir saja menabrak seorang cewek cantik yang sedang berjalan bersama seorang temannya..”

Degg !! jantungku hampir copot mendengarnya, dan tak sengaja buku yang sedang ku pegang jatuh ke lantai.

“Ada apa Nisa?” tanya Pak Alvin, dan bersamaan itu semua mata pun tertuju padaku.

“Oh tidak ada apa-apa pak, maaf buku saya terjatuh…”kataku gugup sambil buru-buru mengambil buku yang terjatuh.

“Baiklah anak-anak..akan saya lanjutkan lagi ceritanya…”lanjut Pak Alvin.

Selly mendekat ke telingaku dan berbisik pelan, “Hei Nis…bukankah yang dia maksud dalam cerita itu kejadian yang kita alami semalam ya,“katanya.

“Aku gak tau Sel, mudah-mudahan aja bukan..”jawabku.

“Bukan gimana, udah jelas-jelas sama gitu antara cerita beliau dengan kejadian kita semalam. Pukul 21.30 tepat didepan bioskop nabrak seorang cewek yang sedang jalan ama temannya, nah sama persis kan. Tenyata bener kan Nis apa yang aku bilang semalam, kayaknya aku tu kenal dengan suara orang itu..”

Sepertinya aku udah gak konsen untuk mendengarkan perkataan Selly, sekarang aku jadi penasaran dengan kelanjutan cerita Pak Alvin

“Taukah kalian anak-anak, cewek yang hampir saya tabrak tadi malam tu langsung marah-marah dan mencaci maki saya, padahal sebenarnya kami tu saling kenal tetapi dia tidak mengenali saya karena saya memakai helm bertutup muka..” lanjut Pak Alvin dengan tenangnya.

Ya Tuhaaan…aku maluuu banget banget banget, ada apa ini ?? apa sih maunya dia itu pakek nyindir-nyindir aku segala kayak gitu, apa lagi yang akan dia rencanakan padaku hari ini…??

Sementara Selly cekikikan sendiri sambil menyenggol lenganku.
“Bener kan kataku, rasain kamu Nis kena sindir, hihihi……”bisiknya konyol.
Sementara aku sendiri masih pura-pura sibuk membaca buku pelajaran yang aku pegang.

“Anak-anak…saya tau dalam hari-hari yang saya lalui, gadis itu sebenarnya sangat-sangat membenci saya, karena sikap saya yang sering keterlaulan mengganggu dia. Tapi jujur dalam hati saya yang paling dalam, saya bersikap seperti itu selama ini kepadanya karena saya menaruh perhatian yang lebih kepadanya, saya sangat suka kepadanya…”

“Huuuuu……”serempak anak-anak pun berteriak dengan riuhnya.

Mukaku langsung merah padam saat mendengar ucapannya tersebut.
What ???...apa-apaan ini…???

“Bapak cinta ya sama cewek itu ? hahahaaaa…..” teriak anak-anak ramai.

Cinta ?? no….!!

“Anak-anak, kalo boleh jujur sama kalian, sebenarnya saya sendiri juga bingung dengan perasaan saya..awal mulanya saya cuma iseng-iseng mengganggu dia, lama-lama saya jadi penasaran sama dia dan terus memikirkan dia..maklumlah anak-anak saya ini kan bujang, dan udah kepengin memiliki seorang pendamping, maka dari itu saya juga tidak ingin main-main dengan perasaan saya…” lanjut Pak Alvin.

Tidak, ngaco ini ngaco ! Pak Alvin gak mungkin berbicara seperti itu apalagi didepan teman-teman, ini pasti bercanda, pasti cuma main-main !! pikirku tetap gak percaya.

Anak-anak makin ramai tak terkendali lagi, tidak terkecuali Selly yang ketawanya paling kenceng.

“Jadi intinya bapak lagi jatuh cinta nih sama cewek itu, cie-cieee Pak Alviiin…” sorak anak-anak ramai

Pak Alvin tersenyum, “ Tapi entah kenapa ya anak-anak saya merasa takut jika dia tidak mau menerima saya, selama ini saya sudah sering mengganggu dia, pasti dia sangat membenci saya..” lanjutnya kemudian.

Ya Tuhaan..Pak Alvin…kenapa semuanya jadi begini ?? saya benar-benar gak percaya…ini rasanya tidak mungkiinn !! pikirku antara percaya dan tidak dengan apa yang diucapkan beliau.

“Anak-anak bagaimana menurut pendapat kalian, apa kira-kira saya nanti akan ditolak oleh dia, seorang gadis yang selama ini sangat membenci saya ?” tanya Pak Alvin yang nampak serius.

“Kalo menurut saya sih dia gak mungkin menolak bapak, bapak kan ganteng, kharismatik, jenius lagi, pasti dia nya mau, ya gak temen-temen ?” celetuk salah satu anak dan disambut sorakan teman-teman yang laen.

“Ya Paak, bener ituuu…” sahut yang lain pula.

Pak Alvin tersenyum. “ Nisa..!” tiba-tiba dia memanggilku.
Aku kaget bukan kepalang, kucoba mendongak sebentar untuk melihatnya, dan ups..aku tak kuasa membalas tatapannya.
“Menurut kamu bagaimana Nisa, apa kira-kira nanti dia akan nerima saya atau justru nolak saya..?” lanjut Pak Alvin.

Assseeem…kenapa dia nanya ama aku ?? pertanyaan yang menjebak !!
“Emm..saya..saya tidak tau Pak…maaf..” jawabku gugup diantara debaran jantung yang makin bergejolak tak karuan.

“Tapi Pak..mulai sekarang bapak jangan mengganggunya lagi dan bikin kesal lagi, bapak harus tunjukkan kalo bapak tu sayang sama dia…” sahut yang laen tiba-tiba.

Yap bener itu !! pikirku spontan.

Eh..apa yang ku pikirkan, aku ini sudah gila ya ?? Ya Tuhaan..mimpi apaa aku hari ini, ini bener-bener konyol, sangat-sangat konyol !!

Sejak dari tadi aku teruus aja menundukkan kepalaku dan tak berani sedikit pun menatap wajah beliau.
Sementara Selly gak berhenti-berhentinya ketawa sambil berdehem-dehem menggodaku.

“Iya anak-anak terimakasih atas sarannya, mulai sakarang saya janji tidak akan mengganggu dan membuat dia kesal lagi, saya sangat serius menyayangi dia, bahkan saya ingin segera melamarnya karena saya sudah cukup siap untuk itu, tetapi kalo dia belum siap maka saya akan sanggup menunggunya sampai dia siap untuk menjalin hubungan serius dengan saya..” kata Pak Alvin serius.

Selly menyenggol lenganku, “Tu dengerin baik-baik, dia ingin segera melamarmu, hihihihikk….”

“Iih apa-apaan sih, udah ah diem, dia tu lagi ngaco, gak serius..”

“Ih ngaco apaan, kalo dia gak serius, gak mungkinlah dia berani mengungkapkan perasaannya di depan umum kayak gini. Ciee…muka kamu merah gitu Nis, pakek tersipu-sipu segala, seneng yaa senang yaa, cekikikikikk…”

“Selly !!” Ku cubit lengan Selly sambil pura-pura kesal.
Selly ketawa ngikik..

“Pak..kalo boleh tau siapa sih sebenarnya cewek itu ? apa kami mengenalnya ?” celetuk salah satu anak tiba-tiba.

Pak Alvin tersenyum, dan aku merasa dia sedang melihatku, tetapi sedikit pun aku tak berani mendongakkan wajahku untuk menatapnya.

Jangan Pak Alviiin…jangan katakan pada temen-temen kalo gadis itu sebenarnya adalah aku, ku mohooon..nanti aku bisa maluu…ku mohon Pak Alvin…biarlah cerita ini hanya kita berdua dan Tuhan aja yang tau, biarlah mereka cuma menebak-nebak aja asalkan kisah yang sebenarnya cuma kita berdua yang tau, cukup Tuhan aja saksinya….pikirku penuh harap.

Hey…apa yang sudah aku pikirkan barusan?? ya ampuun..sepertinya otakku mulai gak waras..ini semua gara-gara Pak Alvin udah membuat kejutan aneh kayak gini.

“Anak-anak, mungkin cerita saya ini cukup sampai disini saja, soal siapa sebenarnya gadis itu, nanti lama-lama kalian akan tau sendiri…” jawab Pak Alvin bijaksana.

Uuh..syukurlaah…aku sangat lega mendengarnya.

“Huuuuuu…” anak-anak berteriak kecewa.

“Sudaah, ceritanya sudah selesai, sekarang kita lanjut pelajarannya. Ayo semua dibuka bukunya halaman 23..” lanjut Pak Alvin.

Meskipun masih agak kecewa, anak-anak pun mulai meredam keramaiannya dan sibuk membuka buku pelajaranya.

Terimakasih Pak Alvin, anda sudah menolong saya, hampir saja anda membuat saya malu di depan teman-teman, tetapi ternyata anda sangat bjaksana sekali. Terimakasih pak sudah mau menutupi semua ini dari teman-teman…

Duuh…aku ini kenapa yaa, kenapa jadi begini perasaanku. Sejak tadi jantungku dag dig dug gak karuan, keringat dingin terus saja keluar dari pelipisku, entah bagaimana keadaan mukaku sekarang aku sendiri tidak tau, pasti sangat kacau sekali…

Aku benar-benar tidak menyangka jika hari ini akan mengalami kejadian sperti ini, aku tidak percaya seorang Pak Alvin guru baru yang banyak di idolakan temen-temen di sekolah ini menyatakan perasaannya padaku dengan cara yang begitu konyol namun indah, di depan teman-teman sekelasku. Beliau yang selama ini selalu mengangguku, membuatku kesal setengah mati ternyata memiliki perasaan yang lebih terhadap diriku.
Entah kenapa tiba-tiba kebencianku yang meluap-luap selama ini kepadanya mendadak luntur begitu saja entah sejak menit yang ke berapa tadi.

Ah Pak Alvin…anda benar-benar membuat saya merasakan sesuatu yang berbeda hari ini, dan saya benar-benar sangaat bahagia….

“Nisa..!” panggil beliau tiba-tiba yang membuatku gugup seketika. “ Kenapa masih melamun..Ayo bukunya dibuka..”

“Iya Pak, maaf..” kataku sambil menunduk malu. “Atau mau saya hukum lagi…?” lanjut beliau sambil menggoda. Aku hanya tersenyum tipis sambil membuka bukuku. Selly cekikikan sendiri melihatnya. Entah kenapa aku jadi tidak merasa kesal lagi saat dia menggoda seperti itu, malah sangat bahagia sekali..

*****************************************
Siang ini sepulang dari sekolah aku mampir dulu ke toko buku, pengenku cari novel terbaru karya Mira W favoritku. Karena novel terbaru yang aku cari belum ada, aku pun berpindah ke tempat buku-buku pelajaran. Sebuah buku yang tebalnya kurang lebih 15 cm mulai menarik perhatianku, aku ambil buku itu, judulnya : ILMU KIMIA DI MATA DUNIA.

Aku tertegun sejenak, mendadak aku jadi teringat dengan sosok Pak Alvin. Selama ini aku sangat membenci pelajaran kimia, sejak dari dulu sampai sekarang nilai kimiaku tak pernah bagus, apalagi sejak guru kimia yang lama dipindahkan kesekolah laen dan posisi mengajarnya digantikan oleh guru baru yaitu Pak Alvin, hari-hari tantang pelajaran kimiaku semakin memburuk. Tidak ada semangat untuk mempelajari itu. Selain karena aku sendiri juga belum begitu menguasai, juga karena tidak suka dengan sikap gurunya.

Tetapi sejak kejadian kemarin, sewaktu Pak Alvin mengungkapkan perasaannya padaku dikelas, entah kenapa aku jadi termotivasi untuk memperdalam ilmu kimia.

Aku buka lembar demi lembar buku yang sedang aku pegang, entah kenapa aku jadi tertarik ingin membelinya. Tengah membolak-balik buku tersebut, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku.
“Nisa..” aku pun menoleh.
Dan ternyata,…. oh my God, DIA !!

“Eh bapak, selamat siang Pak..!” sapaku sambil menunduk hormat, berusaha menutupi kegugupanku.

“Siang juga.., Sedang apa kamu disini Nisa?” tanya Pak Alvin.

“Emm…sayaa…saya cumaaa…”

Pak Alvin menatap buku yang sedang ku pegang dan spontan langsung meraihnya dari tanganku.
waduh..terlambat mau ku sembunyikan !!
“Buku apa ini Nisa?” tanya beliau sambil membaca sampul depan buku itu.

Aku tidak menjawabnya..

“Kamu pengen membeli buku ini Nisa ? bagus, bagus sekali, saya suka jika kamu semangat untuk mempelajari mata pelajaran saya..”

Aku tersenyum tipis..” Saya tadi cuma liat-liat aja kok Pak..” jawabku masih tertunduk.

“Cuma liat-liat aja itu berarti kamu mulai tertarik dengan mata pelajaran ini..., emm..ya udah kamu tunggu di sini sebentar ya nanti saya kembali lagi..”
Pak Alvin beranjak dari tempat itu sambil membawa buku kimia yang ku pegang tadi.

Selama Pak Alvin pergi aku berusaha untuk mengatur nafasku pelan-pelan yang mulai sesak dikarenakan jantungku yang begitu kencang berdetak. Sambil sesekali ku curi kesempatan untuk membenahi rambut dan baju seragamku yang sedikit berantakan.

Lima menit kemudian Pak Alvin pun kembali ke tempatku tadi.
“Nisa, ini buat kamu..” kata beliau sambil menyodorkan sebuah bungkusan plastik.

“Apa ini Pak ?” tanyaku penasaran.

“Ini buku kimia yang kamu liat-liat tadi, saya belikan khusus buat kamu..”

“Tapi Pak..saya..”

“Sudah gak usah pakek tapi-tapian, ayo ambil. Belajar yang rajin ya..”

Aku jadi ngerasa malu sekali, mau tidak mau aku pun harus menerimanya.
“Terimakasih Pak..” kataku pelan.

“Ya sama-sama. Oya kamu masih ada kebutuhan lagi tidak ?”

“ Tidak Pak, saya mau langsung pulang..” jawabku.

“Kamu naik apa ?” tanya beliau lagi.

“Emm..naik taksi Pak…”

“Ya udah pulang bareng saya saja ya, kebetulan saya melewati jalan rumahmu..”

Wah..gimana ini ya, enaknya di tolak atau di terima ? mau nolak kok rasanya sayang, jarang-jarang lho ada murid yang dapat tawaran boncengan dari Pak Alvin, hehe. Tapi kalo nerima entar dikiranya aku mengharap banget, meskipun sebenarnya emang mengharap sih, hehe..

“Emm..tidak usah Pak, saya pulang naik taksi aja. Takutnya nanti merepotkan bapak..” jawabku akhirnya. Entah darimana aku menemukan jawaban yang sebijaksana itu, meskipun sebenarnya bertolak belakang dengan kata hatiku.

“Ah enggak, saya gak merasa direpotkan kok. Sudah ayo pulang, entar keburu sore..”
Pak Alvin pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari toko itu, mau tidak mau aku pun menyusul dibelakangnya.

Dan akhirnya motor Pak Alvin pun membawaku meluncur melewati jalan raya. Ditengah perjalanan kami hanya diam-diaman dengan ditemani suara bising kendaraan yang berlalu-lalang.

Setelah tujuh menit menyusuri jalanan kota..

“Nis..kamu laper gak, mampir makan dulu ya..” kata Pak Alvin memecah kesunyian.
Aku cuma diam saja, memang kenyataannya sejak dari tadi perutku sudah sangat keroncongan.

Tak lama kemudian motor pun berhenti tepat disebuah restoran seafood. Selesai memarkir motornya Pak Alvin mengajakku masuk ke restoran tersebut.

“Kamu pesan apa Nisa ?” tanya Pak Alvin setelah memilih tempat duduk.

“Saya sama dengan bapak saja..” jawabku.

Kemudian Pak Alvin pun memanggil pelayan dan memesan dua porsi udang goreng mentega dan dua avocado juice.

“Gimana Nisa, kamu suka gak sama restoran ini ?” tanya Pak Alvin.

“ Suka Pak.., lumayan bagus..” jawabku.

“Saya dan keluarga sering sekali makan di tempat ini, tempatnya nyaman, menunya juga sesuai selera..” sementara Pak Alvin menceritakan panjang lebar tentang keluarganya dan seputar restoran itu, aku sibuk mengamati kanan kiri, pikirku jangan-jangan nanti ada teman-teman atau pihak sekolah yang melihatku ada disini sedang bersama Pak Alvin, wah bisa jadi gosip hangat yang menyebar luas di kalangan sekolahku nanti.

Tak begitu lama kami menunggu, menu yang kami pesan pun akhirnya datang juga. Selama menikmati makanan, tak banyak yang di ucapkan Pak Alvin, paling-paling cuma nanya ; ‘enak ? mau nambah lagi ? ayo makannya yang banyak’, cuma itu aja. Selanjutnya beliau cuma diam saja. Tengah-tengah makan aku mencoba mencuri-curi pandang kearah Pak Alvin, yang kebetulan beliau sedang asyik melahap makanannya. Ya Tuhaan..Ternyata Pak Alvin benar-benar sangat tampan jika dilihat dari dekat. Entah kenapa sepertinya aku baru menyadari sekarang akan hal itu..

“Saya tau dari tadi kamu ngeliatin saya terus Nisa..” kata Pak Alvin tiba-tiba setelah menelan makanannya yang terakhir.

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. “Enggak kok Pak..” jawabku sambil pura-pura cuek .

Dia tersenyum lalu meneguk sebentar avocado juice nya.

“Nisa, boleh tidak saya nanya sesuatu sama kamu?” tanya beliau kemudian.

“Silakan Pak..”

“Apakah kamu sudah tidak membenci saya ?” dia menatapku.

“Maksud bapak apa ?” aku pura-pura tidak mengerti.

“Biasanya kamu tu kalo ketemu saya selalu memasang muka yang sinis, dan bicaranya agak ketus sama saya, tapi kenapa sekarang sepertinya kamu sudah tidak membenci saya lagi? Bahkan kamu bersedia saya ajak kesini..”

Aku jadi bingung harus jawab apa, aku pun cuma bisa diam dan diam karena aku tak tau harus bicara apa..

Pak Alvin tersenyum.”Untuk itulah saya mengajak kamu kesini Nisa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu..” katanya.

“Bicara soal apa Pak ?” aku mencoba memberanikan diri untuk menatapnya.

“Yang pertama, saya ingin minta maaf atas semua sikap dan perilaku saya terhadap kamu selama ini, mungkin tidak seharusnya saya bersikap seperti itu sama kamu..” kata beliau begitu tenang.

“Ah tidak apa-apa Pak, wajar kalo bapak menghukum saya, karena saya memang belum begitu menguasai mata pelajaran bapak, justru saya yang minta maaf karena selama ini saya selalu mengecewakan bapak..” jawabku pelan.

Pak Alvin tersenyum. “Dan untuk yang kedua kalinya, yang ingin saya bicarakan sama kamu adalah, bahwa semua yang saya katakan didepan teman-teman kamu kemarin itu adalah benar..” katanya lirih.

“Mak-maksud bapak apa ?” tanyaku diantara debaran jantungku yang mulai mengencang.

Aku mencoba menatapnya, dan dia menunduk sambil tersenyum tipis.
“Dari awal sebenarnya saya tidak ada niatan untuk mengganggu kamu Nisa. Saya beri soal kimia, seperti halnya teman-teman kamu yang laen kalo tidak bisa mengerjakan harus mendapatkan hukuman. Ketika melihat reaksimu yang begitu kesal saat saya beri hukuman, saya jadi penasaran dengan kamu. Diam-diam saya sering mengamati kamu dari jauh, sifat-sifat kamu, kejutekan kamu yang justru bikin kangen, keaktifan kamu diberbagai kegiatan disekolah, lama-kelamaan saya mulai tertarik, apalagi yang saya tau mata pelajaran kimia adalah musuh besar buat kamu, saya jadi merasa tertantang untuk memotivasi kamu..akhirnya saya mencoba menarik perhatian kamu lewat berbagai cara meskipun harus dengan cara mengganggu kamu dulu, saya ingin melihat reaksi marah kamu terhadap saya, mencoba menciptakan kesan tersendiri sosok saya dimata kamu, sampai akhirnya saya merasa yakin kalo saya benar-benar jatuh hati sama kamu Nisa..”

Tubuhku mendadak terasa ringan luar biasa..rasanya seperti melayang-layang setelah mendengar pernyataan dari Pak Alvin. Tapi aku hanya bisa diam seribu bahasa..

“Tapi sungguh Nisa, saya melakukan itu semua bukan berarti saya sengaja membikin kamu malu, atau tidak senang dengan kamu, bukan…itu karena saya penasaran dengan kamu dan saya ingin mencari perhatian dari kamu..terus terang kalo kamu marah sama saya, kamu terlihat sangat cantik dimata saya..” lanjut beliau lagi.

Aku mencoba mengatur nafasku pelan-pelan..tapi mulutku masih tak sanggup untuk mengatakan sesuatu. Aku hanya bisa tertunduk dan tertunduk diam..

“Nisa, boleh kah saya mencintai kamu dan meminta izin untuk membina hubungan yang serius dengan kamu..” Pak Alvin menatapku lembut.

“Pak…sayaa…saya bingung harus menjawab apa, saya ini hanyalah seorang murid, dan bapak adalah guru saya, maka tidak sepantasnya lah bagi saya untuk menerima bapak..maaf Pak..” jawabku yang entah darimana bisa keluar jawaban seperti itu.

“Nisa, memang jika di sekolah hubungan kita ini adalah sebagai guru dan murid, tetapi jika diluar kita adalah orang lain..” jawabnya.

Aku terdiam kembali, aku bingung harus menjawab apa..

“Kalo kamu tidak bisa menjawabnya sekarang, saya bisa menunggu jawaban kamu Nisa..” kata beliau lagi.

“Pak Alvin..bolehkah saya jujur, sebenarnya saya…saya juga memiliki perasaan yang sama terhadap bapak, tapi saya takut hubungan kita diketahui oleh pihak sekolah..saya malu dan gak enak..” kataku.

Pak Alvin tersenyum. “Makasih untuk kejujuran kamu Nisa, saya sangat senang mendengarnya..kalo kamu menginginkan hubungan kita tidak diketahui oleh pihak sekolah maka saya siap merahasiakannya dari siapapun..” katanya.

Aku tersenyum dan mencoba menatapnya..”Saya percaya sama bapak..” kataku.

“Jadi..kamu menerima saya Nisa ?” Pak Alvin masih kurang percaya.

Aku tersenyum lalu mengangguk pelan..

“Ya Tuhan, terimakasih..terimakasih banyak Nisa..saya janji akan selalu membahagiakan kamu..” janji Pak Alvin dengan penuh kepastian.

Kami berdua pun tersenyum dengan sangat bahagia..

Baru satu bulan berjalan, dia sudah berani menemui orang tuaku dan langsung memintaku tanpa mengkonfirmasi persetujuanku dulu. Dan anehnya lagi orang tuaku langsung menyetujuinya, padahal usiaku saat itu belum genap 18 tahun. Mereka langsung tertarik melihat sosok Pak Alvin yang begitu tampan, kharismatik, sopan dan kalem.

Sekolahku belum tamat pun, aku sudah di ikat cincin pertunangan dengan Pak Alvin, mau tidak mau akhirnya seluruh penghuni sekolah pun tau akan hal itu.

Dan begitu selesai ujian akhir Pak Alvin langsung mengajakku nikah, aku pun menyetujuinya dengan syarat, jika setelah nikah nanti aku harus melanjutkan kuliahku. Dan ternyata janjinya benar-benar dia tepati..
Dan kini aku mengerti, hanyalah cinta yang bisa meluluhkan sebuah kebencian

Demikianlah akhirnya..

The End………….

NB : Ini adalah salah satu Cerita Romansa yang pernah aku tulis sekitar tahun 2001, dan aku sadur kembali pada September 2013 karena permintaan beberapa teman fb. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, cerita ini tidak lain hanyalah fiktif belaka

Selasa, 24 September 2013

KAU TAK PERLU PERCAYA

sudah sejak lama aku merindukanmu. dari musim kemarau sampai kemarau lagi. rindu ini mengering di gurun aku kehausan. matahari tak memberi ampun sedikitpun. panasnya membakar segala yang terpantulkan oleh api. membakarku penuh pada jilatan-jilatan cahaya.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Membaca Puisi Bahrul Ulum A. Malik : Interogatif Tubuh dan Wirid yang Subuh


Oleh : Setia Naka Andrian

Membaca puisi Bahrul Ulum A. Malik adalah membaca pertanyaan dan seketika terjawab dari wirid yang mengalir dari ingatan yang dicatatnya. Bahrul Ulum A. Malik (BUAM) sangat berhati-hati dalam mencatat ingatan dan segala hal pernah diperoleh atau segala sesuatu yang sempat dialaminya. Barangkali ia sangat jarang berbohong. Saya merasakan bahwa BUAM benar-benar setia pada catatan perjalanan hidupnya. Tindakan serta segala hal mengenai tingkah laku menjurus pada harkat dan martabat sebagai hamba yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi. Mengandalkan pikiran, selalu cermat dan tidak emosional dalam menghadapi masalah.
Hal tersebut nyata dalam puisi “Subuh”, //Bismillah/ menyebutMu lirih dalam doa subuhku, Tuhan// hamba yang kemarin siang mengetuk pintu rumahMu// sepi, tak ada siapasiapa, suwung!!// bismillah/ salamku pada sisa hujan semalam/ bangunkan sadarku untuk langit// mencoba mengetuk pintu pagi/ tetap seperti kemarin, tak ada siapasiapa// bismillah/ kuharus bisa berdiri sendiri tanpa tatih.// melangkah mandiri/ ke istanaMu lagi tanpa sembunyisembunyi// bismillah/ ku pastikan Kau ada// di subuh dingin ini, Tuhan//
Apa yang telah dicatat oleh BUAM serupa dengan yang diungkapkan oleh Kant dalam Poedjawijatna pada Pembimbing Kearah Alam Filsafat (1978), tentang kemampuan budi untuk mencapai pengetahuan, menyampaikan arah kemapuan budi. Bahwa dengan budi murni orang tak mungkin mengenal yang di luar pengalaman, karena pengetahuan budi itu selalu mulai dengan pengalaman. Metafisika murni tak mungkin.
Dalam buku yang sama, terungkap bahwa murid Kant tidak puas dengan batasan budi itu, mereka akan bermetafisika. Sedangkan perlu diingat, bahwa mereka selalu dibawah pengaruh Kant dan filsuf-filsuf sebelumnya yang amat memperhatikan kesadaran dan pengalaman. Tidak heran bahwa dasar perenungan dalam sistem-sistem ini dicari dan didapat pada dasar-dasar tindakan, ialah manusia (baca: aku) sebagai dasar sekonkret-konkretnya. Bahwa dari suatu dasar ‘nyata’ menurunkan kesimpulan-kesimpulan serta memberi keterangan keseluruhan, bila ‘ada’ itu disebut sebagai idealisme yang mengakar pada diri manusia.
Hampir ada kemiripan dari 22 (dua puluh dua) puisi yang disuguhkan untuk diskusi ini, dalam hal proses penciptaan dan strategi tertentu yang mendasari ‘wirid’nya yang begitu berhati-hati. Segala sesuatu dilakukan dengan sangat hati-hati. Dalam puisi berikutnya berjudul “RestuMu Ya Rabb”, //Rabb/ dalam semak belukar berakar// dalam rimba yang ku jamah/ dalam lubang yang menjerat// hamba yang dhaif lemah ini/ tersesat pada malam liang/ mencuri ajal di gerbang awan// hamba sendirian/ tuhan// hamba tak brani menatap atau bicara langsung padaMu// jiwa ini kosong mlompong/ jasad ini tak berarti apaapa// dibanding seikat kembang/ yang kelak kutabur di pusaraku sendiri// hamba tak brani bertaruh// nyawa kunciku Kau genggam/ kanan bidari sunyi kiri duri menari// entah Kau beri mana hamba// pada Engkau hamba tunduk tawadhuk/ seluruhku kembali tuhan// satu permintaan terakhir hamba// restu...//
Perihal yang tersebut di atas memberikan sepetak gambaran dan penerangan yang mampu memprediksi bahwa BUAM akan selalu dihadapkan pada pelbagai tindakan yang menyeluruh. Sebagi dirinya sendiri, dari, oleh dan untuk diri sendiri pula. Manusia mengakui keberadaannya, ia ‘ada’ atas dirinya. Lahir sebagai pribadinya, dan akan meneruskan kelanjutan-kelanjutan dalam kelangsungan hidupnya sendiri yang berkepanjangan. Maka ia akan merasa sama sekali tidak mengikat maupun tidak pula ingin diikat oleh sesamanya. Dalam arti benar-benar berdiri sebagai individu yang mampu menaruh persoalan dan memecahkannya—menanam penyakit dalam dirinya sekaligus akan mengobatinya. Karena ia yakin kepada Allah, Tuhannya.
Namun BUAM akan merasakan juga ketika harus dihujani beberapa persoalan yang ‘sederhana’. Segala bentuk pengorbanan pun akan senantiasa menjadi persoalan yang pelik bagi sesamanya. Misal hal tersebut kurang disepakati oleh orang lain yang paling terdekat secara biologis maupun psikis, antara ia dengan orangtua, sanak saudara, hingga kepada pasangan (baca: pacar, suami/ istri). Dikarenakan ia ingin menjadi individu yang benar-benar tunggal untuk penemuan dan perenungan-perenungan tertentu dalam hal kelangsungan harkat dan martabatnya sebagai manusia seutuhnya. Pertanggungjawabannya dilakukan ketika ia harus menentukan pilihan yang ‘tersembunyi’ atas dasar perilaku yang sering dianggap menyimpang dan kurang disepakati oleh sesamanya. Namun hal itu mutlak sebagai jalan yang wajib ditempuh. Dan kali ini ia tetap tegar sebagai individu yang saling, walaupun sebenarnya ia tetap hadir untuk dirinya yang tak terpecahkan sebagai simbol utuh. Terbukti dalam puisi “Sejenak”, //sejenak saja kekasih/ kau temani aku di sini// hingga fajar atau matahari/ menemu kita berduaan.// sejenak saja kekasih/ aku ingin kau ada di sisiku// semalam saja kekasih// atau kalau tidak/ kau tak akan pernah melihatku lagi// sejenak saja//
Nampak juga secara tegas dalam puisi “Hawa Adam dan Hawa”, //kita yang pernah terusir lantaran khuldi.// untuk kedua kalinya kita terusir lagi/ lantaran apa lagi?// bukan karena khuldi kekasih.// bukan karena iblis.// bukan karena tuhan yang membenci kita.// untuk kedua kalinya kita terusir.// kali ini lantaran jibril.// hingga kita terlempar jauh,/ jauh dan hilang.// entah di mana kita sekarang...// aku ingin pulang adam,/ antarkan aku !!// tunggulah sampai embun memandikan jasadku !!//
Sehingga sangat jelas, bahwa BUAM dalam puisi-puisinya menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang begitu akut, namun ia juga menjawabnya dalam puisi itu. Karena ia begitu berhati-hati dalam mencatat segala sesuatu tentang dirinya yang benar-benar nampak (ingin) sebagai individu yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi.***
Semarang, 170212, 11.39 pm.


Setia Naka Andrian, lahir di Tabag Masjid RT 01/ RW 07, Desa Kertomulyo, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, 4 Februari 1989. Masih kerasan hinggap di Gang Langgar Sari, Gayamsari 4, Semarang; lantaran tuntutan proses studinya pada jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, hingga kini ia masih setia mengabdikan diri sebagai kacung di Teater Gema IKIP PGRI Semarang, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar Semarang, Rumah Diksi Art Creative Kendal dan Pembina Lembaga Pers Pelajar (LPP) Majalah Oasis SMA N 2 Kendal; serta ikut mengelola majalah Gradasi Semarang. Beberapa puisinya dibukukan dalam antologi bersama “Kursi Yang Malas Menunggu” Taman Budaya Jawa Tengah dan Hysteria, 2010; Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; Antologi puisi tiga tahunan Hysteria dan Dewan Kesenian Semarang “Beternak Penyair”, Penerbit Frame Publishing, Desember 2011. Beberapa cerpennya dibukukan dalam antologi bersama “Bila Bulan Jatuh Cinta” Penerbit Gradasi Semarang, 2009; Kumpulan Cerpen Pemenang Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia Bukan Perempuan, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI STAIN Purwokerto, Penerbit OBSESI Press – Grafindo, 2010; Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Oktober 2010; antologi cerpen “Tanda”, pemenang lomba cerpen tingkat umum Se-Jawa Tengah Gelar Budaya Teater Semut Kendal, 2010; Antologi Cerpen Joglo 11 “Tatapan Mata Boneka”, Taman Budaya Jawa Tengah, 2011; Antologi Cerpen Bersama IKIP PGRI Semarang, “Perempuan Bersayap di Kota Seba”, KIAS IKIP PGRI Semarang, 2011; Email: naka_andrianez@yahoo.co.id; HP 085290066710;

Tubuh Matahari

tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...