Minggu, 30 Juni 2013 merupakan hari bersejarah di bumi Kendal, seorang penulis muda Bahrul Ulum A. Malik telah melaunchingkan antologi puisi pertamanya "Bumi di Atas Langit". Launching dilaksanakan di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Dalam launching tersebut diisi dengan berbagai acara : Pembacaan, Musikalisasi, dan Bedah Puisi. Hadir dalam acara tersebut : Sawali Tuhusetya (Dewan Kesenian Kendal), Mahmud Elqadry (Budayawan), Slamet Priyatin (Sastrawan), Muslichin HN (Guru SMA, Sastrawan), Kelana (Penggerak Seni Kendal), dan seniman, budayawan dari berbagai daerah (Jateng, Jogja).
Acara dimeriahkan musikalisasi puisi oleh OGSB sebuah grup musik seni yang dimotori oleh Akar Jerami, Kempu.
Jumat, 05 Juli 2013
Kamis, 27 Juni 2013
SURAT YANG TAK PERNAH TERKIRIM LANTARAN DOA TERSANGKUT DI CELANA
suratku tak pernah terkirim ke alamatmu
karena memang surat itu belumlah ku tulis
hanya ku batinkan harapan-harapan yang tak pasti kenyataan
di seberang lautan yang penuh ombak pun karang
suratku telah lama kering di bawah matahari
yang tak pernah sekali mampir di pelabuhan rembulan
menunggu dedaun lepas dari rantingnya
dan seorang tua menyapu dengan bungkuk badannya
entah beban ataukah ketawadhuan pada cahaya
yang sesekali menyilaukan mata hatinya
suratku tak pernah terkirim
lantaran cemara selalu menghalangi pandangan mataku
seperti mengisyarakan doa yang tersangkut pada ranting-ranting
sebuah pesan tak tersampaikan di rindu kembang pada kumbang
tentang cinta dan nestapi penyair yang tertidur bersama kopi yang tumpah
di bangku celananya
suratku salah alamat
dan tersangkut di ranting bintang
yang bermain mata dengan mata-mata
ah, rupanya pak pos telah mati tertabrak kereta
di seberang jalan yang tak pernah ku kenal pula
suratku tanpa tulisan dan balasan
surat yang memang hanya fatamaorgana
dan hanya ia yang mengerti yang mampu menerjemahkan
ketiadaan kata, kupanggili doa-doa
Langit Kendal, 26062013/ 23.45
karena memang surat itu belumlah ku tulis
hanya ku batinkan harapan-harapan yang tak pasti kenyataan
di seberang lautan yang penuh ombak pun karang
suratku telah lama kering di bawah matahari
yang tak pernah sekali mampir di pelabuhan rembulan
menunggu dedaun lepas dari rantingnya
dan seorang tua menyapu dengan bungkuk badannya
entah beban ataukah ketawadhuan pada cahaya
yang sesekali menyilaukan mata hatinya
suratku tak pernah terkirim
lantaran cemara selalu menghalangi pandangan mataku
seperti mengisyarakan doa yang tersangkut pada ranting-ranting
sebuah pesan tak tersampaikan di rindu kembang pada kumbang
tentang cinta dan nestapi penyair yang tertidur bersama kopi yang tumpah
di bangku celananya
suratku salah alamat
dan tersangkut di ranting bintang
yang bermain mata dengan mata-mata
ah, rupanya pak pos telah mati tertabrak kereta
di seberang jalan yang tak pernah ku kenal pula
suratku tanpa tulisan dan balasan
surat yang memang hanya fatamaorgana
dan hanya ia yang mengerti yang mampu menerjemahkan
ketiadaan kata, kupanggili doa-doa
Langit Kendal, 26062013/ 23.45
Minggu, 09 Juni 2013
SAJAK YANG DITINGGAL PENYAIRNYA
penyair kabur dari pelarian sajak
yang pernah ia tulis pada selembar kertas
tentang kalimat yang belum juga usai ia khatamakan
sengaja ia tinggalkan alif sendirian
pada tegak sembilanpuluh derajat
menantang matahari
penyair tak bertanggung jawab
atas kata yang ia selipkan mantra surga
tujuh kembang ia taruh pada
pojok-pojok sahwat lelaki yang samasekali
tak pernah bersetubuh dengan rembulan
ia kecewa atas astaga bidadari
sendiri mengucap janji yang sepi
ia kehilangan birahi
sajak terakhir ia tulis
pada daun yang telah kering
dengan tinta darah yang sengaja ia alirkan
dari hati dan nestapa
yang menggali kematian
pada dinding hijau yang penuh lumut
sajak masih menunggu
penyair menuliskan lagi
tentang kembang tujuh rupa
tujuh sumur dan tujuh mantra abatasa
Langit Kendal, 09062013/ 21.54
yang pernah ia tulis pada selembar kertas
tentang kalimat yang belum juga usai ia khatamakan
sengaja ia tinggalkan alif sendirian
pada tegak sembilanpuluh derajat
menantang matahari
penyair tak bertanggung jawab
atas kata yang ia selipkan mantra surga
tujuh kembang ia taruh pada
pojok-pojok sahwat lelaki yang samasekali
tak pernah bersetubuh dengan rembulan
ia kecewa atas astaga bidadari
sendiri mengucap janji yang sepi
ia kehilangan birahi
sajak terakhir ia tulis
pada daun yang telah kering
dengan tinta darah yang sengaja ia alirkan
dari hati dan nestapa
yang menggali kematian
pada dinding hijau yang penuh lumut
sajak masih menunggu
penyair menuliskan lagi
tentang kembang tujuh rupa
tujuh sumur dan tujuh mantra abatasa
Langit Kendal, 09062013/ 21.54
Minggu, 05 Mei 2013
http://www.wawasanews.com/2013/04/puisi-puisi-bahrul-ulum-malik.html
Puisi-Puisi Bahrul Ulum A. Malik
Puisi
Secangkir Kopi dan Senggama Rokok Kematian
bagiku,
sampoerna mild adalah kelembutan yang mampu
merangsang sahwatku berkelana sampai ke ujung sukma
mengepulkan cinta dengan gairah dan nafsu yang tak tertahan
menjelma desahan waktu mencapai kenikmatan tertentu
sesekali bercumbu merayu mengantarkanku menuju rindu
sedang gudanggaram adalah bumbu yang mampu menyejukkan
hawa dalam kulkas nyawa-nyawa berdansa
lirikan matanya candu bagi perindu senggama antara bara
dan darah segar yang mengaliri sungai nadiku
berenang menyelam dalam lautan ajalku
kopimiks adalah seduhan tangan tuhan
menyajikan wangi mawar kematian
di bawah ilalang bendera alam yang tak pernah lekang
memagari diri dengan mantra-mantra pemacu kuda
tujuh arah titik rembulan perawan
kau kira semua adalah racun
bagiku itu adalah madu yang mampu menawar
luka bait-bait airmata dan derasnya duka
fakta bukanlah mimpi siang hari
bagi pemalas pemetik kembang di tangkai hati
apakah kau masih berfikir tentang hidup dan mati
sedang semua ada di tangan tuhan
penggenggam surga neraka
yang kau kira tempat senggama
bahwa sesungguhnya tak ada yang abadi diajalmu
merangsang sahwatku berkelana sampai ke ujung sukma
mengepulkan cinta dengan gairah dan nafsu yang tak tertahan
menjelma desahan waktu mencapai kenikmatan tertentu
sesekali bercumbu merayu mengantarkanku menuju rindu
sedang gudanggaram adalah bumbu yang mampu menyejukkan
hawa dalam kulkas nyawa-nyawa berdansa
lirikan matanya candu bagi perindu senggama antara bara
dan darah segar yang mengaliri sungai nadiku
berenang menyelam dalam lautan ajalku
kopimiks adalah seduhan tangan tuhan
menyajikan wangi mawar kematian
di bawah ilalang bendera alam yang tak pernah lekang
memagari diri dengan mantra-mantra pemacu kuda
tujuh arah titik rembulan perawan
kau kira semua adalah racun
bagiku itu adalah madu yang mampu menawar
luka bait-bait airmata dan derasnya duka
fakta bukanlah mimpi siang hari
bagi pemalas pemetik kembang di tangkai hati
apakah kau masih berfikir tentang hidup dan mati
sedang semua ada di tangan tuhan
penggenggam surga neraka
yang kau kira tempat senggama
bahwa sesungguhnya tak ada yang abadi diajalmu
Langit Kendal, 05032013/ 21.21
Aku Terkapar di Antara Pasir Padang Savana
aku terkapar di antara pasir padang savana
mencari-cari telaga fatamorgana
berkilauan antara badai dan matahari
pasir berbisik menyembunyikan rahasia
karun yang tertimbum dalam gelapnya cahaya
meneropong nyawa yang sering memuja berhala
diri seumpama rayap yang membangun istana
dari tanah rapuh nan peluh
aku terkapar dalam gelap wangi matamu
mengerlingkan isyarat-isyarat duka yang bertahta
dalam jiwa dalam-dalam
aku kelabu yang tak tahu warna diri
meneteskan bulir aroma yang menyesakkan doa
tak sampai ke langit hingga atmosir bolong
aku terkapar
seumpama gagak yang mengajari qabil yang mengubur habil
sehabis pembunuhan yang mengatasnamakan cinta
terkadang diri butuh mati
sebelum ajal meminta sukma tuk kembali
bertanya pada surga yang kehilangan bidadari
aku selalu terkapar
padamu yang tertidur dalam malamku
bukan bintang pun rembulan
hanya kunang-kunang yang mengeja cahaya
mencari-cari telaga fatamorgana
berkilauan antara badai dan matahari
pasir berbisik menyembunyikan rahasia
karun yang tertimbum dalam gelapnya cahaya
meneropong nyawa yang sering memuja berhala
diri seumpama rayap yang membangun istana
dari tanah rapuh nan peluh
aku terkapar dalam gelap wangi matamu
mengerlingkan isyarat-isyarat duka yang bertahta
dalam jiwa dalam-dalam
aku kelabu yang tak tahu warna diri
meneteskan bulir aroma yang menyesakkan doa
tak sampai ke langit hingga atmosir bolong
aku terkapar
seumpama gagak yang mengajari qabil yang mengubur habil
sehabis pembunuhan yang mengatasnamakan cinta
terkadang diri butuh mati
sebelum ajal meminta sukma tuk kembali
bertanya pada surga yang kehilangan bidadari
aku selalu terkapar
padamu yang tertidur dalam malamku
bukan bintang pun rembulan
hanya kunang-kunang yang mengeja cahaya
Langit Kendal, 13032013/ 21.51
Wajah dan Rimba Penyair yang Tak Bertuan #1
: Kepada Penyair
bagiku penyair adalah orang-orang tersesat dalam rimba belantara. tanpa matahari dan kompas pedoman. oh bukan, ia bukan orang tersesat, namun dengan sengaja menyesatkan diri dalam lembah kata-kata yang bisa juga menghacurkan bahkan membunuh dirinya sendiri.
ia adalah orang-orang dungu yang bangga atas kata-kata yang tak bermakna, membaca menulis hingga berulang-ulang dengan pena dan huruf yang sama, meski terkadang angka-angka ia selipkan pada laci hatinya. ia adalah pembohong besar yang selalu dipuja-puja wanita. menawarkan sesuatu yang fatamorgana. tanpa kepastian dan harapan. ia hanya punya ludah yang kadang ia ambil kembali untuk menghilangkan dahaga nafsunya.
penyair sama seperti cacing dalam perut. tak pernah berhenti makan dari darah dan nanah. bahkan tinjapun ia telan mentah-mentah. menjijikkan.
jika kau hanya punya kata-kata, pulang sajalah kau ke tempat di mana kau pernah terkubur dalam tanah merah yang anggap kau tahanan tak bertuan. pelarian yang tak tertangkap oleh bayangan sendiri. membatu meludah di sembarang wadah. awas, jika kau hanya bisa menulis dan membaca, kuadukan kau pada sang raja!!
: Kepada Penyair
bagiku penyair adalah orang-orang tersesat dalam rimba belantara. tanpa matahari dan kompas pedoman. oh bukan, ia bukan orang tersesat, namun dengan sengaja menyesatkan diri dalam lembah kata-kata yang bisa juga menghacurkan bahkan membunuh dirinya sendiri.
ia adalah orang-orang dungu yang bangga atas kata-kata yang tak bermakna, membaca menulis hingga berulang-ulang dengan pena dan huruf yang sama, meski terkadang angka-angka ia selipkan pada laci hatinya. ia adalah pembohong besar yang selalu dipuja-puja wanita. menawarkan sesuatu yang fatamorgana. tanpa kepastian dan harapan. ia hanya punya ludah yang kadang ia ambil kembali untuk menghilangkan dahaga nafsunya.
penyair sama seperti cacing dalam perut. tak pernah berhenti makan dari darah dan nanah. bahkan tinjapun ia telan mentah-mentah. menjijikkan.
jika kau hanya punya kata-kata, pulang sajalah kau ke tempat di mana kau pernah terkubur dalam tanah merah yang anggap kau tahanan tak bertuan. pelarian yang tak tertangkap oleh bayangan sendiri. membatu meludah di sembarang wadah. awas, jika kau hanya bisa menulis dan membaca, kuadukan kau pada sang raja!!
Langit Kendal, 15032013/ 00.03
Wajah dan Rimba Penyair yang Tak Bertuan #2
: Kepada Penyair
: Kepada Penyair
kecuali kau punya cermin retak tempat kau bersolek
tentang malam-malam yang selalu menggairahkan
bagi perawan yang memuja rahasia di saku celana
yang sama sekali tak pernah kau cuci dengan pewangi
engkau hanya diam dan terkunci dalam botol aqua
menganga berisyarat lewat kerling yang memanggil
nama
mengiba dan kembali ke tempat muasal cahaya
setelah kau membaca dan menuliskan kembali
doa yang selama ini kau gantungkan pada pintu
tempat tamu-tamu itu menyapa namamu
dan kau cemburu mengisi tujuh warna pelangi
yang hingga di kepala penyair penyair tua
yang telah menjadi langit dan bintang setiap malam
ya, seharusnya kau selalu tersenyum
sebelum dan sesudah nyawamu bermimpi
Langit Kendal, 20032013/ 22.57
Kita Sama-sama Menunggu Musim Rindu
seperti pertama kali kita bertemu
pada waktu dan ruang yang sama sekali tak terencana
kau dan aku sama
sama-sama menunggu dan kehilangan
orang-orang terkasih dalam setoples kenangan
kita lupa bahwa semua adalah udara yang di mana saja
mampu menjadi angka yang menyela dalam pori-pori jiwa
kau dan aku sama
sama-sama menunggu musim rindu
yang bermekaran di kelopak mawar
yang setiap pagi dan sore kita siram dan pupuk
tidak kurang pun tidak lebih
sederhana saja bukan
mungkin seperti malam tubuhmu
dan kembang yang tak pernah kau petik
karena gugur duluan di antara rumput
tanah hijau tempat kau terlahirkan
dari mata ibu yang tak pernah malu
kau dan aku sama
sama-sama menunggu musim rindu
pada waktu dan ruang yang sama sekali tak terencana
kau dan aku sama
sama-sama menunggu dan kehilangan
orang-orang terkasih dalam setoples kenangan
kita lupa bahwa semua adalah udara yang di mana saja
mampu menjadi angka yang menyela dalam pori-pori jiwa
kau dan aku sama
sama-sama menunggu musim rindu
yang bermekaran di kelopak mawar
yang setiap pagi dan sore kita siram dan pupuk
tidak kurang pun tidak lebih
sederhana saja bukan
mungkin seperti malam tubuhmu
dan kembang yang tak pernah kau petik
karena gugur duluan di antara rumput
tanah hijau tempat kau terlahirkan
dari mata ibu yang tak pernah malu
kau dan aku sama
sama-sama menunggu musim rindu
Langit Kendal, 16032013/ 22.12
Bahrul
Ulum A. Malik, lahir
di Kendal 16 Juli 1983. Pendiri Plataran Sastra Kaliwungu (PSK), Sekjen Forum
Kantong-Kantong Budaya Kendal (FK2BK) dan Sekjen Dewan Kesenian Kaliwungu. Puisinya
dibukukan dalam antologi “Gus Durku, Gus
Durmu, Gus Dur Kita” (PAC IPNU/IPPNU Kaliwungu, 2010), antologi puisi
Pendhapa#13 “Dongeng Tentang Batu”
(Taman Budaya Jawa Tengah, 2012), antologi puisi dwi bahasa “Flows Into The Sink Into The Gutter”
(Shell Jagat Tempurung, 2012), Buletin Sastra Rumah Diksi (2012) dan antologi puisi “Sogokan Kepada Tuhan” (Lestra Kendal, 2012). Antologi puisi
pribadinya berjudul “Persetubuhan Maut”
(KejoraPress, 2005) dan “Bumi di Atas Langit” (WedangKopiJahe, 2008).
Sumber :
http://www.wawasanews.com/2013/04/puisi-puisi-bahrul-ulum-malik.html
Senin, 29 April 2013
SUNGAI KECIL
sungai kecil depan rumahku
warnanya kelabu
bukan air yang mengaliratau ikan yang berenang
tapi sampah dan bangkai sembarangan
sungai kecil depan rumahku
tak seperti dulu
yang warnanya jernih
banyak ikan ataupun udang berenang
asyik di dalamnya
sungai kecil depan rumahku
kala musim hujan datang
banjir yang datang
kala musim kemarau
anyir baunya
duhai teman-teman
janganlah buang sampah sembarang
mari jaga kejernihan sungai
agar kita bisa berenang bersama ikan-ikan
Langit Kendal, 29042013/ 22.20
(c) Bahrul Ulum A. Malik
---
puisi ini aku persembahkan untuk kawanku yang mengajar di PAUD/ Taman Kanak-kanak, semoga puisi ini bermanfaat. bukan hanya kata, tapi pelaksanaan kata-kata itu yang nyata. salamku
warnanya kelabu
bukan air yang mengaliratau ikan yang berenang
tapi sampah dan bangkai sembarangan
sungai kecil depan rumahku
tak seperti dulu
yang warnanya jernih
banyak ikan ataupun udang berenang
asyik di dalamnya
sungai kecil depan rumahku
kala musim hujan datang
banjir yang datang
kala musim kemarau
anyir baunya
duhai teman-teman
janganlah buang sampah sembarang
mari jaga kejernihan sungai
agar kita bisa berenang bersama ikan-ikan
Langit Kendal, 29042013/ 22.20
(c) Bahrul Ulum A. Malik
---
puisi ini aku persembahkan untuk kawanku yang mengajar di PAUD/ Taman Kanak-kanak, semoga puisi ini bermanfaat. bukan hanya kata, tapi pelaksanaan kata-kata itu yang nyata. salamku
Jumat, 12 April 2013
Tubuh
apa yang hendak kau banggakan
dari tubuh yang kelak remuk
hanya karena cacing
yang anggap kau hidangan
terlezat dari Tuhan
Langit Kendal, 18122007/ 16.10
dari tubuh yang kelak remuk
hanya karena cacing
yang anggap kau hidangan
terlezat dari Tuhan
Langit Kendal, 18122007/ 16.10
Nenek
: Kepada Nenek, Shofiyah Masyhuri
bukan kematian yang menyesakkan dada
tapi kerinduanMu lah
ku harus menanggalkan segalanya
tak ada lagi warna
karena segala adalah percuma
hanya Cahaya yang ku pinta
nahkoda telah menambatkan jangkar
pada pelabuhan terakhir
di dermagaNya
Wahai Allah Yang Rahman Yang Rahim
yang Kasih SayangNya melebihi luas langit dan laut
berilah kasturi dan mendinginnya api
atas RahimMu yang tak sudah-sudah itu
Aamiin …
Langit Kendal, 10042013/ 06.17
bukan kematian yang menyesakkan dada
tapi kerinduanMu lah
ku harus menanggalkan segalanya
tak ada lagi warna
karena segala adalah percuma
hanya Cahaya yang ku pinta
nahkoda telah menambatkan jangkar
pada pelabuhan terakhir
di dermagaNya
Wahai Allah Yang Rahman Yang Rahim
yang Kasih SayangNya melebihi luas langit dan laut
berilah kasturi dan mendinginnya api
atas RahimMu yang tak sudah-sudah itu
Aamiin …
Langit Kendal, 10042013/ 06.17
Langganan:
Postingan (Atom)
Tubuh Matahari
tubuh matahari di matamu kuning langsat tetiba hadir di rumahku tanpa salam pun pesan kau terus menyediakan angan bagi pertapa yang kensunyi...
-
entah seperti asing namaMu tak ada ruang luas bagiMu tuk leluasa menjelajahi setiap gerik nafasku aku yang yang sombong tak mau sujud ...
-
Saya bukan sastrawan, kritikus atau pengamat sastra. Kebetulan saja saya suka dengan sastra. Meski sastra kadang membingungkan dan menjadi ...
-
Jumlah aqoid ada 50 karena terdiri atas: Sifat wajib bagi Allah Swt. (20) Sifat mustahil bagi Allah Swt. (20) Sifat jaiz bagi Allah Swt. (1)...